Xijiang's Boat : Bab 21-30

BAB 21

Pada akhir Juli, Xu Cheng Xu Cheng menerima pesan teks dari Li Zhiqu.

Ponselnya rusak karena air hujan deras awal bulan ini. Xu Cheng belum membawanya untuk diperbaiki. Ia dan Jiang Xi mengembara tanpa tujuan di sungai dengan perahu kecil, hidup seolah terisolasi dari dunia.

Namun suatu pagi, ponselnya tiba-tiba aktif, menerima semua gejolak yang selama dua minggu terakhir tersembunyi di bawah permukaan yang tenang.

Jiang Xi sedang duduk di meja makan bubur, mengerutkan kening dan menolak makan acar sayuran. Xu Cheng menggodanya karena pilih-pilih sambil menaburkan gula pasir ke dalam buburnya.

Tiba-tiba, puluhan nada dering pesan teks meledak seperti rentetan petasan di rumah perahu, membawa suasana tegang yang mengejutkan Jiang Xi.

Kekhawatiran bibinya, ancaman dari nomor tak dikenal, pertanyaan dari Du Yukang, Fang Xiaoyi, dan beberapa teman sekelas lainnya.

Seluruh Jiangzhou tahu tentang hubungan mereka.

Xu Cheng fokus pada pesan Li Zhiqu. Intinya adalah bahwa : Keluarga Jiang sedang membuat masalah bagi keluarga bibinya, yang saat ini berada di bawah perlindungan polisi, dan dia seharusnya tidak terlalu khawatir. Tetapi keluarga Jiang tidak akan membiarkannya begitu saja, dan mereka tidak bisa mengawasi mereka terlalu lama. Dia harus kembali dan membawa Jiang Xi kembali.

Li Zhiqu merasa bahwa tindakan Xu Cheng kali ini telah melampaui ekspektasi. Manuver 'pahlawan menyelamatkan si cantik' tidak hanya sepenuhnya memenangkan hati Jiang Xiaojie, tetapi juga menunjukkan kemampuannya kepada keluarga Jiang, sekaligus membuat 'kawin lari' mereka menjadi buah bibir di kota, sehingga dia tidak perlu lagi menyebarkan rumor.

Tapi, sudah waktunya untuk kembali.

Xu Cheng meletakkan ponselnya dan kembali makan buburnya.

Jiang Xi peka; melihat keheningannya, dia mengerti. Dia diam-diam memakan semangkuk bubur dinginnya, dingin dan manis, sangat lezat, tetapi hidungnya terasa perih, dan dia merasa ingin menangis.

Dia segera menahan diri dan bertanya, "Xu Cheng, kita di mana?"

Beberapa hari terakhir ini, perahu mereka telah hanyut ke hulu dan hilir, sesekali Memasuki anak sungai, jauh dari Jiangzhou. Perjalanan pulang akan memakan waktu dua hari.

"Kita hampir sampai di Licheng," sebuah kota kecil sekitar sepuluh kilometer di hulu dari kota besar Liangcheng.

"Kalau begitu aku akan turun di Licheng."

Xu Cheng mendongak.

"Aku akan menelepon rumah ketika sampai di Licheng. Mengatakan pada mereka bahwa aku sudah turun sejak lama. Mengatakan pada mereka agar tidak mempersulitmu."

Xu Cheng terdiam sejenak, lalu bertanya, "Ke mana kamu akan pergi setelah sampai di darat?"

Ia menyembunyikan kesedihannya, "Aku akan mencari hotel untuk menginap dulu, lalu mencari pekerjaan."

"Pekerjaan apa?"

"Di supermarket kecil, di toko serba ada."

Xu Cheng menoleh ke belakang. Di luar ambang pintu, matahari siang musim panas terik menyinari.

Jiang Xi tidak bisa melihat ekspresinya, hanya urat panjang dan tegang di lehernya, membentang hingga tulang selangkanya. Kipas mengibaskan rompi putihnya, membuatnya bergoyang.

Anak laki-laki itu kurus dan ramping, bekas luka di lengannya sudah lama mengering, hanya menyisakan bekas merah muda samar.

Ia berharap anak laki-laki itu akan memintanya untuk tinggal.

Namun ia hanya berkata, "Baiklah."

***

Pukul satu siang, perahu tiba di dermaga kecil di pinggiran Licheng.

Xu Cheng mengikat tali tambat, pergi ke area supermarket perahu, mengambil kantong plastik besar, dan memilih beberapa camilan yang biasa disukai Jiang Xi.

Dengan membiarkannya pergi seperti itu, dia tidak tahu bagaimana dia akan menjelaskannya kepada Li Zhiqu ketika dia kembali.

Hati Xu Cheng mencekam saat dia masuk ke ruang tamu. Jiang Xi sudah mengemas ranselnya.

Setelah naik perahu, dia membawa setumpuk pakaian dan perlengkapan seni, membuat ranselnya yang tadinya rata menjadi menggembung. Dia tampak lesu dan kekurangan energi.

Xu Cheng mengambil kantong plastik dan berkata perlahan, "Bawa ini untuk dimakan di perjalanan."

"Terlalu banyak."

"Ini, ambil ini," dia mengeluarkan segepok uang tunai, "Gunakan dengan hemat."

Jiang Xi dengan tegas mundur, "Tidak."

"Mengapa tidak?"

Dia bergumam, "Kurasa kamu bekerja sangat keras untuk mendapatkan uang. Jadi aku tidak mau."

Hati Xu Cheng berdebar kencang. Dia meraih lengannya, menariknya mendekat, dan tanpa berkata apa-apa, memasukkan uang itu ke dalam sakunya. Dia dengan keras kepala menolak, menghalanginya dengan kedua tangan.

"Jiang Xi! Dengarkan aku!" teriaknya.

Ia berhenti bergerak, bibirnya terkatup rapat, hidungnya merah padam. Kepalanya tertunduk, tampak bingung dan tak berdaya, sangat menyedihkan.

Xu Cheng merasakan berbagai macam emosi. Ia tak tahan lagi melihatnya. Ia segera memasukkan uang itu ke sakunya dan menepuk punggungnya.

Ia menyampirkan ranselnya di bahu. Xu Cheng, yang membawa kantong plastik besar berisi camilan, mengantarnya pergi.

Saat itu sore hari yang panas terik di musim panas, matahari bersinar terik seperti jarum-jarum perak kecil yang tak terhitung jumlahnya. Dek perahu terasa lembap dan pengap. Keduanya berjalan diam-diam ke haluan perahu. Jiang Xi berhenti, menatap sungai di bawah dan ban-ban yang bergesekan dengan dermaga.

Xu Cheng tidak mendesaknya.

Jiang Xi melirik kembali ke perahu kargo kecil berwarna biru dan putih itu, lalu ke Sungai Yangtze yang bergelombang. Tiba-tiba, ia meninggikan suaranya, berkata penuh harap, "Aku bahkan tidak tahu apa nama keluarga dan nama pemberian asliku. Aku berharap nama keluargaku adalah Jiang (江)! Seperti Jiang di kata Changjiang (长江 : Sungai Yangtze). Maka aku akan dipanggil Jiang Jiang (江江)."

Mata Xu Cheng sedikit perih, dan ia mengerutkan kening dalam-dalam.

"Mungkin, nama keluargaku adalah Jiang," katanya, suaranya merendah.

Ia senang berada di sungai, tetapi... ia harus turun. Mulai sekarang, Yangtze tidak akan melindunginya lagi.

Jiang Xi melangkah ke jalan setapak. Xu Cheng memberinya sebuah kantong plastik. Ia mengambilnya, diam, menatap mata Xu Cheng.

Xu Cheng menatapnya langsung. Matahari yang terik membuat wajahnya tampak pucat, matanya merah, ujung hidungnya juga merah. Bibirnya yang terkatup rapat sedikit bergetar, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mengatakan apa pun.

Xu Cheng berkata lembut, "Aku pergi."

Ia bergumam, "Apakah kita akan bertemu lagi?"

"Aku tidak tahu."

Matanya berkaca-kaca, dan ia bertanya dengan suara kekanak-kanakan, "Bagaimana jika aku merindukanmu?"

Xu Cheng tak bisa berkata-kata, menatap langit tinggi yang memutih karena terik matahari.

Jiang Xi tahu ia tak akan bisa menghentikannya. Dengan sedih, air mata mengalir deras di wajahnya seperti hujan, "Xu Cheng, aku pergi."

(Ahhh sedih banget. Udah suka kan kamu Xu Cheng cuma masih bimbang aja...)

Xu Cheng berbalik, hanya untuk melihat sosoknya yang menjauh.

Perahu yang bergoyang membuatnya terhuyung. Ia memperhatikan Jiang Xi perlahan berjalan menuruni dermaga dan menaiki lereng.

Ini adalah akhir yang terbaik. Ia telah menjalani hidupnya; ia akan menempuh jalannya sendiri.

Ia dengan cepat melepaskan tali tambat, melangkah ke atas, dan memasuki ruang kemudi.

Ombak memercik di permukaan sungai di buritan saat perahu kargo kecil itu meninggalkan pantai dan menuju ke tengah sungai.

Saat perahu berbelok, Xu Cheng melirik Jiang Xi untuk terakhir kalinya. Kepalanya tertunduk rendah, dan ia berjalan tertatih-tatih di lereng seperti siput.

Tak lama kemudian, hanya Sungai Yangtze yang luas yang tersisa di pandangannya.

Matahari yang terik menyinari wajahnya melalui kaca, membakar dengan menyakitkan.

Perahu itu menuju ke tengah sungai, dan Xu Cheng tidak menoleh ke belakang. Tetapi setelah menahan diri, ia melirik kaca spion, dan hatinya mencekam—Jiang Xi berdiri tak bergerak di atas tanggul, mengamati arah perahunya.

Lereng abu-abu, pepohonan hijau, sosok putihnya berdiri sendirian di tengah latar belakang langit dan bumi.

Xu Cheng terus menatap cakrawala dan melanjutkan pelayaran. Air sungai pecah menjadi buih putih, bergelombang ke arah sisi-sisi sungai.

Ia merasa telah berlayar lama, namun ternyata dia baru saja mencapai tengah sungai. Ia melirik kaca spion lagi; sosok putih itu tetap tak bergerak di tempat yang sama, dengan keras kepala mengamati perahu-perahu yang berangkat di sungai.

Alis Xu Cheng berkerut, dan keringat mengalir deras di dada dan punggungnya.

Jiang Xi, kamu sendiri yang memilih jalan ini.

Tiba-tiba, "Tooootttt!!!" Klakson perahu berbunyi di seberang sungai yang sepi! Perahu itu mengubah arah, membelah air, dan melaju menuju tepi sungai.

Jiang Xi berhenti sejenak di tanggul, lalu tiba-tiba berlari menuruni lereng, menuju dermaga di bawah. Kakinya lemah, dan dia membawa tas dan kantong plastik, jadi dia berlari dengan pincang, tidak bisa berlari cepat sama sekali. Tapi dia berlari sekuat tenaga, dengan kecepatan maksimalnya.

"Jangan lari, dasar bodoh!" Xu Cheng membunyikan klakson lagi.

Tapi Jiang Xi tidak peduli, berlari ke arahnya sekuat tenaga!

Dia terhuyung-huyung menuruni lereng yang panjang, lalu dengan pincang naik ke dermaga. Perahu Xu Cheng baru saja berlabuh dan menurunkan jangkarnya. Haluan perahu terombang-ambing di dermaga mengikuti arus sungai, kadang mendekat, kadang menjauh.

Jiang Xi terus berlari tanpa berhenti. 

Xu Cheng mengetahui pikirannya dan berteriak padanya begitu ia keluar dari ruang kemudi, "Tunggu aku! Ini berbahaya!"

Ia bergegas turun.

Jiang Xi berlari ke sisi perahu, berhenti sebentar, dan tepat saat haluan perahu hampir menabrak pantai, ia melompat ke atas perahu.

Namun kakinya tidak cukup kuat untuk melompat jauh, dan haluan perahu terpisah dari pantai karena arus. Jiang Xi tergeletak di perahu, bagian bawah tubuhnya menggantung di udara.

Xu Cheng, di tengah tangga, langsung meraih pegangan tangga, melompat turun, berlari ke haluan, meraih lengan Jiang Xi, dan mengangkatnya, dengan marah berkata, "Sudah kubilang tunggu aku! Apa yang kamu lakukan! Tidakkah kamu tahu betapa berbahayanya..."

Jiang Xi, wajahnya berlinang air mata, menangis kepadanya dengan sedih, "Xu Cheng—kenapa kamu tidak menghentikanku?!"

Pada saat itu juga, amarah, frustrasi, kegelisahan, dan ketidaknyamanan Xu Cheng lenyap. Pikirannya menjadi kosong sepenuhnya; tidak ada apa pun di sana, dan dia tidak ingin memikirkan apa pun lagi.

Dia memastikan Jiang Xi kembali menetap dengan nyaman.

Dia berhenti menangis begitu memasuki rumah perahu. Dia dengan hati-hati mengeluarkan pakaian dari tasnya dan memasukkannya kembali ke lemari, dan juga mengemas semua perlengkapan seninya kembali ke dalam kotak kardus Wahaha miliknya.

Xu Cheng memotongkan setengah semangka dingin untuknya.

Ia baru saja selesai berlari dan tubuhnya dipenuhi keringat ketika duduk di meja, dengan kipas angin menerpa dirinya, dan mulai makan semangka dengan sendok. Saat makan, ia merasa tenang, nyaman, bahagia, dan puas.

Xu Cheng juga merasa sangat kepanasan, jadi dia mengambil es loli jadul dan duduk di kursi rotan, menghisapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dia tidak tahu lagi apa yang salah dengannya; dia telah memutuskan untuk melepaskannya, tetapi kemudian dia mengangkatnya dan menaruhnya kembali ke perahu.

(Aku tau apa yang salah dengan kamu anak muda. Haha)

Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia hanya melakukan ini untuk memberi Fang Xinping dan Li Zhiqu penjelasan.

(Masa?!)

***

Malam itu, saat Jiang Xi mandi di kamar mandi, ia tiba-tiba menyadari bahwa setengah bulan telah berlalu dengan tenang sejak mereka melarikan diri dari galangan perahu. Sejak menaiki perahu, hidupnya telah berubah dengan cepat. Rasanya seperti baru kemarin ia memilih perahu ini pada pandangan pertama.

Hari ini dai pikir dia akan turun dari kapal selamanya, tetapi dia akhirnya telah mendapatkan kembali apa yang hilang.

Berdiri di tepi sungai, getaran di hatinya ketika ia mendengar suara siulan sungai akan meninggalkan bekas permanen dalam hidupnya.

Jiang Xi membasuh wajahnya dan meraih sabun mandi, lalu melihat sabun mandi Xu Cheng. Sebuah pikiran samar muncul dalam dirinya, dan tangannya jatuh ke sabun itu.

Sabun itu halus dan lembut, tidak seperti sabun yang biasa ia gunakan.

Ia menciumnya; aroma segar pohon teh, aroma samar yang biasa Xu Cheng gunakan setiap malam.

Ia menatap cermin; tubuhnya putih dan cantik. Jantungnya berdebar kencang, dan diam-diam ia melakukan sesuatu yang sangat pribadi—di depan cermin, gadis itu sedikit mengangkat dagunya, memegang sabun berwarna hijau pucat, dan mengoleskannya ke lehernya yang panjang, tulang selangka, bahunya yang ramping, payudaranya yang penuh, pinggangnya yang mungil, dan kakinya…

Sabun itu lembut dan halus, seperti belaian, melembapkan kulitnya.

Ketika Jiang Xi tersadar, napasnya cepat, pipinya memerah seperti terbakar. Rasa panas ini menyebar ke seluruh tubuhnya, bahkan leher dan dadanya berubah menjadi merah muda yang menyengat.

Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, seolah-olah dalam mimpi, dan langsung diliputi rasa malu. Ia segera mengembalikan sabun dan buru-buru membersihkan dirinya.

Tiba-tiba, listrik padam.

Ia menjerit kaget. Setelah menjerit, ia tenang, merasa bersalah, dan buru-buru mengeringkan dirinya; dalam kegelapan, ia meraih piyamanya dan buru-buru memakainya. Terdengar ketukan di pintu.

Xu Cheng berada di luar, "Apakah kamu baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja," ia membuka pintu, tak berani menatapnya, "Apakah ada pemadaman listrik?"

"Ya. Sepertinya generator dieselnya rusak. Sudah selesai mandi?"

"Um," ia merasa semakin bersalah.

"Hati-hati saat berjalan," Xu Cheng, yang tidak menyadari tingkah anehnya, mengambil peralatannya dan naik ke atas untuk memperbaikinya. Ada sparepartnya yang rusak dan perlu diganti. Generator itu tidak akan berfungsi malam ini.

Di tengah teriknya musim panas, ruangan di dalam terasa seperti sauna. Tanpa kipas angin, bahkan duduk diam pun akan membuatmu basah kuyup oleh keringat; tidur pun mustahil.

Xu Cheng berkata mereka harus tidur di teras lantai dua.

Ia membawa beberapa ember air ke atas dan, di bawah kegelapan malam, memercikkannya ke teras, mengepelnya hingga bersih, dan mendinginkannya. Kemudian ia mengambil tikar bambu dari tempat tidur, mengambil dua obat nyamuk bakar, dan menyuruh Jiang Xi untuk membawa bantalnya ke atas.

Tikar bambu diletakkan di lantai, dan angin malam membuatnya terasa sangat sejuk.

Xu Cheng berbaring lebih dulu, di tepi tikar. Jiang Xi berbaring di sisi lain, ruangnya cukup luas untuk mereka berdua.

Jiang Xi merasa gugup tanpa alasan yang jelas, jantungnya berdebar kencang. Jari-jarinya menggaruk tikar, menghasilkan suara gesekan lembut.

Xu Cheng berkata dengan malas, "Apakah tikar ini menyinggung perasaanmu?"

Ia tidak menjawab, tetapi gerakannya tiba-tiba berhenti.

Setelah beberapa saat, ia berkata, "Jiang Xi, lihat."

Ia menoleh untuk melihatnya, "Apa?"

Ia mendongak ke langit, menunjuk dengan dagunya, "Di sana."

Jiang Xi mendongak ke langit, menahan napas sejenak—langit yang penuh dengan bintang-bintang musim panas yang mempesona!

Bintang-bintang berkelap-kelip seperti berlian berharga di langit malam biru beludru, yang tampak menggantung begitu rendah, seolah-olah seseorang dapat menjangkamu dan memetiknya dari langit.

Ia berseru, "Sangat indah!"

Ia meletakkan satu tangan di bantal dan menunjuk ke langit dengan tangan lainnya, "Yang itu, yang sangat terang, itu Bima Sakti."

"Wow... Aku belum pernah melihat Bima Sakti sebelumnya. Sangat indah. Kelihatannya seperti sekotak susu yang tumpah."

Xu Cheng tersenyum, "Di sana, yang paling mudah dikenali adalah Segitiga Musim Panas. Itu Altair dan Vega, dan Deneb di Cygnus."

"Di mana?" tanpa sadar ia bergerak lebih dekat kepadanya.

"Di sana," ia memberi isyarat, "Tiga yang paling terang."

"Benarkah? Bagaimana kamu tahu? Itu menakjubkan—"

Ia berhenti sejenak, lalu berkata, "Aku hanya mengenali yang paling umum. Gembala Sapi (Altair/ Aquilla) dan Gadis Penenun (Vega/ Lyra)di musim panas, dan Orion di musim dingin."

"Apakah kamu sering tidur di sini untuk mengamati bintang-bintang?"

"Ya. Dulu, bibi, paman, sepupu, dan aku berdesakan di atas perahu. Kipas anginnya tidak cukup. Terkadang terlalu panas untuk tidur, jadi aku naik ke sini sendirian. Tapi aku sangat suka tidur di sini, memandang bintang-bintang sampai aku tertidur. Rasanya menyenangkan."

Namun Jiang Xi, membayangkannya berbaring sendirian di teras perahu kecil itu, langit sebagai selimutnya, perahu sebagai tikarnya, tiba-tiba merasakan kesedihan dan bertanya, "Apakah kamu pernah merasa kesepian?"

Xu Cheng terdiam, seolah-olah dia belum pernah memikirkan pertanyaan itu sebelumnya.

Ia selalu merasa hidupnya cukup baik. Namun saat ini, sesuatu yang tak dapat dijelaskan tiba-tiba menghantam hatinya, menyentuh titik kosong, menyebabkan rasa sakit yang tumpul.

Jiang Xi melanjutkan dengan lembut, "Sebenarnya, aku sangat kesepian. Meskipun aku dikelilingi banyak orang—Gege-ku, ayahku, A Wu Ge, A Wen Jie, dan Tian Tian—sepertinya tidak ada yang mengerti aku. Tapi aku tidak ingin banyak mengatakan. Mungkin aku hanya kurang pandai mengungkapkan perasaan."

"Keluargamu memperlakukanmu dengan buruk?"

"Tidak juga. Mereka sudah sangat baik."

Namun, ia harus menuruti pengaturan ayahnya dalam segala hal. Ia bersekolah di sekolah khusus, dan ia serta Jiang Tian diantar dan dijemput dari dan ke sekolah oleh sopir dan pengawal. Mereka tidak punya waktu luang dan tidak diizinkan berteman dengan orang asing. Ia menghabiskan seluruh waktunya di rumah atau di sekolah khusus, jadi pada dasarnya ia tidak punya teman.

Xu Cheng mengingat pertemuan pertama mereka tahun lalu; Ia polos seperti anak kecil, dan itulah alasannya.

Angin sepoi-sepoi sungai bertiup saat mereka mengobrol santai, bertukar basa-basi. Tak lama kemudian, rasa kantuk mulai merayap, dan saat mereka terlelap, Jiang Xi bergumam, "Xu Cheng, saat aku di perahu, apakah kamu pernah merasa sedikit kurang kesepian?"

Xu Cheng perlahan membuka matanya. Dalam hembusan angin, ia mencium aroma sabun mandinya pada tubuh Jiang Xi.

...

Ia tak lagi mengantuk. Ia menoleh untuk melihatnya; wajahnya tampak tenang saat tidur, rambutnya melambai lembut tertiup angin malam. Angin sepoi-sepoi bertiup, dan ia yakin wanita itu berbau sabunnya.

Xu Cheng bermimpi.

Dalam mimpinya, Jiang Xi memeluknya erat, melingkarkan tubuhnya di sekelilingnya. Aroma sabun dan gel mandi bercampur menjadi satu, menciptakan perpaduan yang harmonis. Tubuhnya seputih ikan perak, selembut awan di langit.

Ketika Xu Cheng terbangun, ia basah kuyup oleh keringat, lembap dan lengket.

Langit berbintang masih di atasnya, dan wajahnya yang tertidur masih di sampingnya.

Xu Cheng mengalami mimpi erotis pertamanya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa, berdasarkan pengalamannya selama tiga tahun di asrama putra, ini adalah fenomena fisiologis normal bagi anak laki-laki seusianya. Namun, itu tidak membuktikan apa pun.

Itu tidak ada hubungannya dengan dia. Itu semua kesalahan sabun itu.

Ia menenangkan jantungnya yang berdebar kencang, diam-diam bangun, turun ke bawah, mengambil celana dalam baru, dan pergi ke kamar mandi. Ia dengan cepat mencuci dan menjemur yang lama.

Ia kembali ke balkon, berbaring, menatap langit berbintang yang sunyi untuk sementara waktu, lalu berbalik ke samping, menatap wajahnya yang cantik yang sedang tidur. Ia kembali tertidur, tanpa menyadarinya.

Kali ini, tidurnya nyenyak.

***

Namun pagi-pagi sekali keesokan harinya, panggilan telepon yang keras membangunkan mereka berdua di balkon.

Xu Cheng memiliki firasat ketika melihat bibinya menelepon.

Bibinya sangat cemas, memarahinya karena tidak bisa menghubunginya melalui telepon atau membalas pesan teksnya. Ia mengatakan bahwa orang-orang asing kembali menghalangi pintu masuk toko hari ini, menuntut Xu Cheng mengembalikan orang tersebut.

"Seluruh Jiangzhou mengatakan kamu kabur dengan Jiang Xiaojie! Apa yang terjadi?" tanya bibinya dengan cemas, "Xiao Cheng, apakah kamu sudah gila? Kamu telah mengacaukan keluarga Jiang! Apakah kamu tidak menginginkan hidup lagi?"

Xu Cheng mengatakan dia akan segera kembali. Jiang Xi juga terbangun, duduk diam di atas tikar, pola tikar masih tercetak di lengannya.

Tidak satu pun dari mereka yang mengatakan sepatah kata pun.

Xu Cheng bangkit dan turun ke bawah untuk pergi ke darat mengganti suku cadang generator diesel. Jiang Xi membentangkan kembali tikar di tempat tidur dan menyapu abu obat nyamuk yang tersisa di teras. Setelah Xu Cheng kembali dan memperbaiki generator, dia memasak bubur. Mereka memakannya dalam diam.

Dia melepaskan tali tambat, dia mengangkat jangkar; perahu kargo kecil itu mulai bergerak, meninggalkan buih putih panjang saat berlayar ke hulu.

Xu Cheng mengemudikan perahu dari ruang kemudi atas, sementara Jiang Xi duduk meringkuk di kursi rotan di kabin bawah, memeluk lututnya.

Radio memutar lagu merdu 'I Like You'.

Pada malam hari, perahu mencapai Dermaga Lingshui di Kota Jiangzhou dan berhenti. Setengah bulan kemudian, mereka kembali ke titik awal. Deru mesin telah mereda.

Namun Xu Cheng masih belum turun.

Jiang Xi naik untuk mencarinya. Dia melihat Xu Cheng membelakanginya, tangannya mencengkeram pagar, menatap sungai di sebelah timur untuk waktu yang lama.

Jiang Xi berdiri di belakangnya untuk waktu yang lama, lalu perlahan berjalan mendekat, perlahan... membuka lengannya dan melingkarkannya di pinggangnya dari belakang.

Tubuh bocah itu menegang tertiup angin, bukan dengan cara menantang, melainkan dalam keadaan kebingungan dan panik. Dia tetap tegang.

Mengabaikan segalanya, Jiang Xi menempelkan kepalanya ke punggungnya dan menutup matanya. Dia memeluknya erat, lengannya melingkari tubuhnya yang hangat dan ramping, merasakan kehangatan kulitnya di balik kain tipis, detak jantungnya yang berdebar kencang, bahkan suara darahnya yang mengalir deras di pembuluh darahnya, dan menghirup aroma familiar dan menyenangkan darinya. Dia tidak melepaskannya, seolah-olah dia ingin mengukir setiap perasaan saat ini ke dalam hatinya.

Sedikit demi sedikit, tubuh Xu Cheng perlahan rileks.

Seperti sungai yang dipeluk angin.

Ia membiarkan Jiang Xi memeluknya, tak mendorongnya menjauh. Hatinya tenang. Seperti permukaan sungai setelah hujan deras, hanya ketenangan dan keluasan yang tersisa.

(Bingung kan lu Xu Cheng! Wkwkwk...Hayo hayo...)

***

BAB 22

Liu Maoxin dan Xu Minmin menyewa sebuah toko di sudut terjauh jalan komersial kota tua untuk menjalankan toko perkakas. Bisnisnya lumayan, tetapi mereka berhasil menutupi pengeluaran harian mereka. Memikirkan usia mereka yang semakin lanjut dan sakit punggung serta rematik yang mereka derita, mereka memutuskan bahwa bekerja di kapal dalam jangka panjang tidak cocok, dan mereka berharap dapat mengandalkan toko ini untuk masa pensiun mereka.

Pasangan itu selalu jujur ​​dan tidak pernah bermusuhan. Namun baru-baru ini, toko mereka menjadi sasaran keluarga Jiang, yang mengklaim bahwa Xu Cheng telah menculik putri keluarga Jiang, dan mereka datang untuk menuntut pengembaliannya. Setiap kali polisi mengusir mereka, mereka akan kembali.

Xu Minmin tidak dapat menghubungi Xu Cheng dan sangat cemas.

Pagi ini, sekelompok pria lain dengan tinggi badan dan penampilan yang mengancam tiba.

Beberapa pria memblokir pintu rol seperti penjaga gerbang, mengusir pelanggan tetap. Bahkan pemilik toko tetangga, yang mencoba meredakan situasi dengan sopan, disuruh pergi.

Liu Maoxin, yang penakut, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun ketidakpatuhan. Xu Minmin, yang masih marah, menelepon polisi. Namun begitu sirene polisi berbunyi, orang-orang itu bubar, menyisakan satu atau dua orang yang menyeringai dan menjaga pintu, sambil memberi isyarat kepada polisi, "Yang Mulia, aku berdiri di sini menunggu saudara-saudaraku, apa salahnya berdiri sebentar? Ini milik umum, tidak bisakah kami berdiri di sini?"

Karena orang-orang itu tidak melakukan tindakan ilegal, polisi memberi mereka beberapa nasihat dan kemudian harus pergi.

Ketika Xu Cheng tiba, sekelompok pria bertato telah membawa enam atau tujuh bangku plastik merah terang dari dalam toko dan duduk dengan angkuh di pintu masuk, memakan semangka, kulit semangka berserakan di tanah.

Xu Minmin melihat Xu Cheng dari jauh dan bergegas menghampirinya, "Xiao Cheng, ke mana saja kamu beberapa hari terakhir ini! Apa yang kamu lakukan sampai menyinggung iblis-iblis hidup ini?"

Liu Maoxin, yang rasa takutnya yang terpendam berubah menjadi amarah yang meluap, mendorong bahunya, "Kamu berperilaku baik selama tiga tahun di SMA dan kamu membuat masalah begitu lulus? Apakah kamu mencoba menyeret kami ikut jatuh bersamamu?"

"Bukannya aku mengutukmu, tapi dari semua orang yang kamu ajak berurusan, kamu malah berurusan dengan keluarga Jiang..." Xu Minmin melirik Jiang Xi, yang mengikutinya tidak jauh di belakang, dan menatapnya dengan tatapan mencela.

Jiang Xi menundukkan kepala dan matanya.

"Kita bicarakan nanti. Aku yang akan mengurusnya. Jangan ikut campur," Xu Cheng menjabat tangan bibinya, memberi isyarat agar berhenti.

Kelompok yang duduk di dekat pintu memperlambat makan semangka mereka. Xu Cheng mengenali pemimpinnya. Setahun yang lalu, dia beberapa kali datang ke sekolah untuk 'mengundangnya'; namanya A Wu.

Xu Cheng berhenti dan berkata, "Mencariku?"

A Wu memecahkan kulit semangka dengan suara 'puh', matanya yang kasar menatap Xu Cheng; Xu Cheng tetap tenang, membalas tatapan dinginnya.

Tatapan dingin A Wu menyapu Xu Cheng, lalu melunak saat ia melihat Jiang Xi di belakangnya dan berjalan ke arahnya. Melewati Xu Cheng, A Wu menepuk bahunya dengan jari dan berkata, "Seseorang akan datang untuk berurusan denganmu," kemudian dia tersenyum pada Jiang Xi dan berkata, "Meimei, ayo kita pulang."

Jiang Xi mendongak, A Wu Ge, siapa yang ingin berurusan dengannya? Bagaimana cara mereka berurusan?"

A Wu meraih lengannya dan menariknya ke depan, "Kita akan membicarakannya saat kita kembali."

Jiang Xi menarik diri, "Aku tidak mau pulang."

A Wu terkejut. Ia belum pernah melihat Jiang Xi memberontak, dan ia sendiri belum pernah tidak menaatinya. Tapi hari ini, ia berkata dengan canggung, "Xiaojie, mohon maafkan aku."

Ia mengulurkan tangan kepadanya, dan Jiang Xi segera bersembunyi di belakang Xu Cheng. Xu Cheng juga melangkah maju bersamaan, menghalangi jalannya.

A Wu mendorong bahunya, berteriak, "Apa-apaan kamu ?!"

Ia mencoba berputar untuk mencari Jiang Xi, tetapi Xu Cheng kembali menghalangi jalannya, mendorongnya kembali, "Apa yang salah denganmu?"

"Kamu tidak mau mendengarkan akal sehat!" bentak A Wu, hendak menyerang, ketika sebuah suara tenang datang dari samping, "A Xi, sampai kapan kamu akan terus seperti ini?"

Sebuah mobil hitam terparkir di pinggir jalan. Jendela belakangnya terbuka, dan Jiang Huai duduk di dalamnya, berkata, "Ayah sedang menunggumu di rumah sekarang."

Jiang Xi menatapnya, wajahnya pucat. Ia menundukkan kepalanya lama sebelum berjalan menuju mobil.

Jiang Huai kemudian menatap Xu Cheng; tatapan Xu Cheng baru saja meninggalkannya ketika bertemu dengan tatapannya. Percikan api berterbangan, seperti benturan pedang.

Jiang Huai melirik A Wu dari sudut matanya, memberi isyarat dengan jarinya. A Wu segera datang dan membungkuk.

Jiang Huai berkata, "Tolong masukkan dia ke dalam mobil."

Jiang Xi gemetar saat sampai di mobil, menatap Jiang Huai dengan memohon. Dia menggelengkan kepalanya sedikit, menunjukkan bahwa itu tidak ada gunanya.

A Wu kembali menatap Xu Cheng, tidak mengatakan apa-apa, melirik toko perkakas dan Xu Minmin serta suaminya, lalu menatapnya.

Xu Cheng mengerti dan berjalan menuju mobil.

Xu Minmin bergegas menghampiri, memegang erat Xu Cheng, memohon agar dia tidak pergi. Xu Cheng meyakinkannya bahwa tidak apa-apa, dia akan segera kembali, dan meminta Liu Maoxin untuk menariknya masuk ke dalam mobil.

***

Mobil itu melaju meninggalkan kota tua, berputar menuju Gunung Qiyan. Saat itu pertengahan musim panas, dan gunung itu tertutup kanopi hijau yang rimbun. Jauh di dalam hutan, gerbang besi emas yang megah dari rumah keluarga Jiang terbuka di kedua sisinya. Mobil itu melaju di sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan dan berhenti di depan kompleks bangunan putih yang besar.

Air mancur di pintu masuk menyemprotkan air ke udara, kabut yang naik tertiup angin memberikan kelegaan yang menyegarkan dari panas terik.

Xu Cheng telah mengunjungi tempat ini awal musim panas lalu dan menggambar peta untuk Fang Xinping setelahnya. Sayangnya, saat itu ia hanya diizinkan mengunjungi bangunan kecil di sebelah barat tempat Jiang Xi tinggal, dan tidak memiliki akses ke bagian lain dari kompleks yang luas ini.

Kelompok itu berjalan lurus melewati aula bangunan selatan yang megah. Xu Cheng melirik ke kiri; di situlah Jiang Xi tinggal. Berbalik, matanya bertemu dengan mata Jiang Xi. Ekspresinya kosong, kesedihan samar di antara alisnya.

Xu Cheng memberinya senyum yang menenangkan, dan matanya langsung memerah.

Lebih jauh ke depan terdapat koridor pendek dan ruang tamu yang belum pernah dikunjungi Xu Cheng sebelumnya. Dekorasi di sana sangat mewah, menunjukkan kekayaan pemiliknya di mana-mana.

Banyak darah dan keringat orang telah dicurahkan untuk tempat ini. Mungkin juga bagian ayahnya. Memikirkan hal ini, dia tersenyum merendah.

A Wu menoleh dan menangkap senyumnya yang lepas, terdiam kagum—seluruh keluarga tahu tentang kekalahan Ye Si di tangannya.

Halaman tengahnya berupa taman persegi, ditanami pohon-pohon langka dan eksotis. Di tengahnya berdiri air mancur marmer, ukurannya hampir sama dengan pintu masuk, semburannya menciptakan kabut tipis. Di luar air mancur, di sebelah utara, terdapat paviliun yang dikelilingi pohon pisang, di bawahnya mengalir sebuah sungai kecil. Jiang Chenghui, mengenakan jaket sutra yang sejuk, sedang memberi makan ikan koi di kolam kecil, seorang pelayan memegang umpan di sampingnya. Saudaranya, Jiang Chengguang, duduk di dekatnya sambil memakan buah persik.

Kelompok itu berhenti di kaki tangga di luar paviliun, batu-batu pavingnya hangus terbakar matahari.

Jiang Huai menaiki tangga dan membisikkan beberapa kata kepada Jiang Chenghui. Yang terakhir membuang segenggam umpan terakhir dan berbalik.

Ini adalah pertemuan pertama Xu Cheng dengan Jiang Chenghui, seorang 'tokoh legendaris' di Jiangzhou selama beberapa dekade—mengendalikan industri hiburan, rekreasi, hotel bisnis, dan logistik skala besar di seluruh kota Jiangzhou dan enam kabupaten, dengan koneksi di dunia legal dan ilegal. Ia telah mengumpulkan kekayaannya dari perjudian ilegal di masa mudanya, dan meskipun ia mengaku telah memperbaiki perilakunya dalam beberapa tahun terakhir, keuntungan yang sangat besar tidak memungkinkannya untuk sepenuhnya berhenti berjudi.

Ia memiliki dahi yang sempit, alisnya hampir bertemu, mata kecil, telinga besar, dan bibir tebal. Wajahnya tidak secara inheren garang, tetapi entah mengapa memberikan perasaan yang tidak nyaman.

Jiang Chenghui pertama kali menatap Jiang Xi, telapak tangannya menghadap ke atas, keempat jarinya saling terkait.

Jiang Xi berjalan ke paviliun dan dengan lembut memanggil, "Ayah."

Jiang Chenghui menepuk kepalanya, lalu menatapnya, berkata, "Syukurlah kamu baik-baik saja."

Jiang Xi segera menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.

Ia melangkah maju, berdiri dengan tangan di belakang punggungnya di tangga paviliun, matanya menyipit saat ia mengamati Xu Cheng.

Pemuda ini, yang masih sangat muda, telah menculik putri keluarga Jiang dari geng preman profesional Ye Si yang kuat, dan bahkan menghancurkan sebuah mobil.

Ia penasaran siapa yang telah menculik putrinya yang tertutup dan polos itu. Sekarang, setelah melihatnya, ia sedikit mengerti. Pemuda itu memang tinggi dan tampan, dengan fisik yang bagus dan wajah yang menarik, terutama matanya yang tajam dan terbuka, yang memancarkan semangat maskulin yang bersemangat meskipun usianya masih muda.

Namun Jiang Chenghui tidak menyukai tatapannya—tatapan yang tanpa rasa takut, bahkan arogan dan meremehkan.

Ia melambaikan tangannya dan berkata, "Ye Si."

Ye Si mengangguk dengan penuh semangat, merentangkan jari-jarinya, dan menggerakkan buku jari kuningan di antara buku-buku jarinya. Dengan sekali pandang, dua anak buah yang kuat segera melangkah maju dan mengikat lengan Xu Cheng. 

Ye Si meninju tulang pipi Xu Cheng, seketika mengeluarkan darah dan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Sebelum Xu Cheng dapat bereaksi terhadap rasa sakit yang hebat itu, Ye Si memberikan beberapa pukulan keras lagi ke perutnya. Buku jari kuningan itu memperkuat kekuatan pukulan, setiap pukulan menyebabkan Xu Cheng batuk darah, tubuhnya lemas, dan kepalanya tertunduk.

"Xu Cheng!" Jiang Xi ditangkap oleh A Wu di pinggangnya, yang memperingatkan dengan suara rendah, "Jangan pergi, bos akan semakin marah. A Wen sudah..."

Mata Jiang Xi membelalak ketakutan, "Apa yang terjadi pada A Wen Jie?"

Jiang Chenghui duduk, memberi isyarat kepada pelayan untuk menuangkan teh, dan berkata, "A Wen tidak menjagamu dengan baik, jadi aku menyuruh seseorang mengirimnya kembali ke kampung halamannya."

"Bagaimana dia dikirim? Dia tidak lalai dalam tugasnya, sama sekali tidak!"

"Dia tidak mengawasimu, itu namanya lalai dalam tugas," Jiang Chenghui melihat orang-orang di bawah panggung dan memberi isyarat dengan tangannya. 

Ye Si menyingkir, dan dua preman, yang mendukung Xu Cheng, melangkah beberapa langkah ke bawah tangga.

Jiang Chenghui mengangkat tutup cangkir teh dan berkata, "Apakah dia sudah mati?"

Kepala Xu Cheng yang tertunduk bergerak sedikit.

"Kamu harus menerima pukulan ini. Desas-desus menyebar di seluruh Jiangzhou bahwa kamu menculik putriku ke perahumu, dan kalian berdua, sendirian, telah terombang-ambing selama dua bulan. Apakah kamu mempertimbangkan reputasi dan ketidakbersalahannya?”

Xu Cheng hanya bisa melampiaskan amarahnya; dia tidak menjawab.

Jiang Xi hendak membelanya ketika Jiang Huai meraih pergelangan tangannya, menggelengkan kepalanya dengan tatapan peringatan.

Nada bicara Jiang Chenghui tiba-tiba berubah, "Baiklah, kamu akan bekerja untuk Jiang Huai untuk sementara waktu. Jika kamu tidak bekerja dengan baik, aku akan berurusan denganmu kapan saja."

Dia menyesap tehnya, meletakkan cangkirnya, dan bangkit untuk pergi; tetapi kemudian dia mendengar seringai yang membuat bulu kuduk anak buahnya merinding di bawah terik matahari.

Nada bicara Xu Cheng sarkastik, suaranya serak, "Aku bilang, apakah aku harus bekerja untuk keluarga Jiang-mu?"

Semua pria itu tak berani mengangkat kepala, tak berani bernapas; bahkan Ye Si pun menghindari tatapan Jiang Chenghui.

Bos Jiang terdiam selama sepuluh detik, lalu berkata, "Aku bisa membuatmu menghilang sekarang juga, dan tak seorang pun di sini akan memberi tahu. Apakah kamu percaya padaku?"

Xu Cheng, dengan kepala tertunduk, mata merahnya muncul dari balik rambutnya yang basah kuyup oleh keringat, menatapnya lama, lalu menyeringai dari bibirnya yang berdarah, berkata, "Aku... tidak percaya padamu."

Mata Jiang Huai berubah menjadi jahat, dan A Wu tersentak. Jiang Chengguang hampir tersedak buah persiknya.

Wajah Jiang Chenghui menunjukkan kemarahan yang terpendam, tetapi nadanya tetap tenang, "A Xi, jika aku membunuhnya, apakah kamu akan membongkar rahasia Ayah?"

Jiang Xi terdiam karena terkejut.

"Ayo kita coba," dia melambaikan tangannya lagi.

Sekelompok orang dengan cepat menyeret Xu Cheng ke air mancur. Dua orang memegang siku Xu Cheng, dua orang memegang pahanya, dan Ye Si melompat ke air mancur, meraih kepala dan leher Xu Cheng, mendorong seluruh kepalanya ke dalam air biru jernih.

Air kolam yang dingin seketika membanjiri telinga, hidung, dan mulut Xu Cheng. Dunia, sinar matahari, terik matahari—semuanya lenyap dalam sekejap, hanya menyisakan deru air yang tak berujung, detak jantung yang berdebar kencang, dan perasaan sesak napas yang menyedihkan.

Udara...

Udara...

Tubuhnya secara naluriah berjuang mati-matian, setiap selnya berdenyut putus asa mencari udara, tetapi yang membanjiri hidung dan paru-parunya hanyalah air yang kental dan meresap. Sensasi terbakar yang menyakitkan menjalar dari trakeanya ke dada dan jantungnya. Darah mengalir deras di pembuluh darahnya yang menyempit, seolah-olah akan meledak—

Udara...

Udara...

Jiang Xi berteriak, melepaskan diri dari A Wu, dan bergegas ke air mancur. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka; dia bukan tandingan mereka.

Ia mendorong mereka dengan sekuat tenaga, ia meraih, menggigit lengan Ye Si, dan mencongkel jari-jarinya. Semuanya sia-sia. Mereka tetap tak bergerak.

Ia menyaksikan tanpa daya saat punggung Xu Cheng membengkak menjadi merah tua, urat-urat menonjol di lengannya, jari-jarinya berusaha keras meraih sesuatu, tetapi sia-sia.

Air mancur menyemburkan bentuk-bentuk indah di udara.

Orang-orang di taman menundukkan kepala sebagai tanda patuh atau tetap acuh tak acuh. Dunia begitu sunyi sehingga bahkan angin pun tak terdengar, hanya perjuangan putus asa Xu Cheng yang dipaksa masuk ke kolam.

Jiang Xi berlutut dengan bunyi gedebuk, menangis dan memohon, "Jangan bunuh dia!! Ayah! Aku tidak akan lari lagi, tolong lepaskan dia! Aku tidak akan lari lagi, tolong lepaskan dia. Ge, tolong mohonkan aku pada Ayah. Ge—Ayah—tolong!"

Jiang Chenghui tetap tak bergerak.

Mata Jiang Huai menunjukkan kesulitan, tetapi melihat wajah ayahnya, dia tahu tidak ada jalan kembali, "Ayah..."

Ye Si dan yang lainnya sudah berkeringat deras. Xu Cheng terus berjuang, air memercik dan berhamburan di air mancur, bukti kekuatan hidupnya yang semakin melemah.

Teriakan dan permohonan Jiang Xi sia-sia, jadi dia menerjangnya lagi, dengan putus asa menggigit tangan Ye Si. Tetapi tidak peduli seberapa banyak dia menggigit dan mencakar, hingga berdarah, wajahnya tetap dingin dan acuh tak acuh, cakar besinya tidak menunjukkan tanda-tanda melemah.

Xu Cheng, didorong oleh naluri bertahan hidupnya, dengan panik mencakar Jiang Xi untuk sesaat. Pada saat itu, dia mencengkeramnya erat-erat, telapak tangannya terasa panas karena darah yang mengalir, lalu dalam sekejap, telapak tangannya lemas.

Jiang Xi tenggelam ke dasar kolam, berlutut lagi, dan berteriak kepada Jiang Chenghui, "Ayah, aku mohon!"

"Dia tidak menyukaiku, dan aku juga tidak menyukainya! Dia tidak menculikku, akulah yang ingin melarikan diri! Siapa pun yang kutemui di jalan, aku akan pergi bersama orang itu dan memohon agar mereka membawaku pergi. Ini tidak ada hubungannya dengan dia! Aku hanya tidak ingin tinggal di sini, aku tidak ingin menjadi anggota keluarga Jiang lagi!" teriaknya, suaranya melengking, "Kumohon lepaskan dia!!"

Jiang Chenghui berkata, "Ye Si."

Ye Si melepaskan cengkeramannya; yang lain menyeret Xu Cheng dan melemparkannya ke tanah, pakaian dan rambutnya memercikkan banyak air ke jalan berbatu.

Xu Cheng berguling dua kali di tanah kesakitan, memuntahkan banyak air liur dari mulut dan hidungnya, batuk hebat. Tubuhnya terpantul-pantul berulang kali saat batuk; punggungnya melengkung seperti udang yang kejang. Akhirnya, dia menarik napas dalam-dalam, mengeluarkan suara mendesah.

Jiang Xi merangkak dengan keempat anggota tubuhnya. Xu Cheng basah kuyup, darah merembes dari luka di wajahnya akibat pukulan buku jari kuningan, bibirnya pucat pasi.

"Xu Cheng..." melihat keadaannya yang berantakan dan menyedihkan, air mata mengalir di wajahnya. Ia memeluk kepalanya, menangis tersedu-sedu.

Suara Jiang Chenghui yang berwibawa terdengar, "Kamu ingin meninggalkan keluarga Jiang? Kamu tidak ingin menjadi anggota keluarga Jiang lagi?"

"Ya!" ia mengangkat matanya yang berlinang air mata dan berteriak putus asa kepada orang-orang di paviliun, "Kamu, kamu ...kenapa kamu melukai..." ia tidak sanggup mengucapkan kata 'membunuh', "Menyakiti orang. Aku tidak suka itu! Aku tidak suka menggunakan benda yang berlumuran darah orang lain, keringat orang lain!"

Jiang Huai terkejut, tidak pernah menyangka Jiang Xi yang polos dan naif akan mengatakan hal seperti itu.

"Putriku lembut, pendiam, pemalu, dan introvert; ia tidak akan pernah berbicara kepadaku seperti itu," kilatan dingin terpancar di mata Jiang Chenghui, "Siapa yang mengajarimu mengatakan itu? Teman barumu?"

Jiang Xi berpegangan erat pada Xu Cheng karena takut, khawatir dia akan dibawa pergi lagi, "Dia tidak mencariku; akulah yang mencarinya. Siapa pun yang kutemui, aku akan memohon padanya untuk menyelamatkanku! Kumohon jangan libatkan orang-orang yang tidak bersalah!"

"Kamu pikir kamu bisa begitu saja meninggalkan keluarga Jiang? Kamu pikir kamu bisa begitu saja berhenti menjadi anggota keluarga Jiang?!"

Jiang Xi terdiam, air mata mengalir di wajahnya, takut namun teguh, dan berbisik, "Kamulah yang membesarkanku. Sekarang ambil nyawaku. Kumohon lepaskan dia. Kumohon, Gege dan A Wu Ge, jaga Tian Tian."

Jiang Chenghui membanting cangkir teh ke tanah, menghancurkannya dan serpihannya berhamburan. Tak seorang pun berani bersuara.

"Kamu putriku yang kubesarkan! Apa yang akan kulakukan dengan hidupmu?! Atau kamu benar-benar berpikir aku tidak akan berani melakukan apa pun padamu hanya karena kamu putriku? Baiklah, aku akan mematahkan kakimu yang satunya hari ini, mari kita lihat apa yang akan kamu gunakan untuk melarikan diri nanti! Ye Si!"

Ye Si, dengan wajah pucat pasi, dengan cepat menghunus pisaunya, meraih kaki kanan Jiang Xi, dan menyeretnya ke samping. Ia bergerak dengan kecepatan luar biasa, membuat semua orang lengah. Tiba-tiba, Xu Cheng yang setengah sekarat melompat berdiri, menerjang ke depan untuk memeluk Jiang Xi di pinggang, menariknya kembali ke dalam pelukannya dan melindunginya. Kemudian ia menendang bagian belakang pisau Ye Si, membuat mata pisau itu berderak.

Jiang Xi merasa seolah sinar matahari dan langit biru berputar di sekelilingnya, dan dia sudah berada dalam pelukannya, suara detak jantung dan napasnya yang cepat memenuhi telinganya. Tetesan air dari rambutnya terasa sejuk dan menyegarkan di wajahnya.

Jiang Huai berteriak, "Ye Si!!!"

Ye Si berhenti.

Jiang Huai menatap Jiang Chenghui dan berkata dengan suara berat, "Ayah, kamu tidak bisa memperlakukan adikku seperti ini."

"Bagaimana aku bisa memperlakukannya? Bagaimana lagi aku bisa memperlakukannya?!" teriak Jiang Chenghui, suaranya penuh kesedihan, "AX i, aku membesarkanmu selama bertahun-tahun, dan kamu menyakiti hatiku seperti ini? Aku mendisiplinkannya hanya karena aku marah kamu masih sangat muda, berkeliaran di luar seperti itu tanpa pemahaman yang tepat tentang hubunganmu. Tidakkah kau mempertimbangkan keluarga Jiang? Sudahkah kau memikirkan reputasimu? Sudahkah kau mempertimbangkan apa yang akan dipikirkan orang lain tentangmu? Lihatlah dirimu, semua orang di keluarga ini memperlakukanmu seperti seorang putri. Kau sudah keluar selama dua bulan, dan lihat betapa berantakannya penampilanmu! Hah? Sebagai ayahmu, bukankah aku merasa kasihan padamu? Bukankah aku marah? Tidakkah aku boleh marah juga?"

Jiang Xi sudah merasa terpukul batinnya. Ayahnya tegas, dan dia bisa berdebat dengannya; tetapi begitu ayahnya menunjukkan kelemahan, dia langsung bingung, menangis, "Ayah, aku tidak..."

"Kenapa kamu tidak memberi tahu keluargamu apa yang terjadi? Kenapa kamu harus kabur dari rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun? Keluargamu sudah mengkhawatirkanmu selama dua bulan! Gege-mu hampir gila karena cemas!"

Jiang Huai mengerutkan kening, tetap diam.

Jiang Xi menangis tersedu-sedu, "Gege... aku minta maaf..."

Jiang Chengguang mencoba menenangkan keadaan, "Baiklah, baiklah, anak itu akhirnya kembali. Beberapa teguran saja sudah cukup. Ayo, aku akan bermain catur denganmu."

Wajah Jiang Chenghui mengeras sesaat, lalu ia tampak agak sedih, berkata kepada Jiang Xi, "Putriku sudah dewasa sekarang, aku tidak bisa mengendalikannya lagi. Aku sudah memberinya pelajaran. Demi kamu, aku tidak akan mempersulitnya. Tapi ingat ini, aku, Jiang Chenghui, tidak akan pernah kehilangan putriku. Jika dia kabur lagi, aku akan membunuhnya."

***

BAB 23

Setelah kembali dari keluarga Jiang, Xu Cheng tinggal di rumah selama dua hari karena cedera yang dialaminya.

Xu Minmin merasa patah hati sekaligus marah. Di satu saat ia memarahinya karena perilakunya yang bejat, telah menculik seorang gadis muda ke perahu selama hampir dua bulan; Di saat berikutnya dia akan menangis karena dirinya hanyalah orang biasa, miskin dan tak berdaya, dan anaknya diintimidasi tanpa cara untuk melawan; Sesaat kemudian ia mengutuk anaknya atas segalanya, terutama hubungannya dengan nona muda keluarga Jiang. Ia mengatakan bahwa bahkan jika keluarga Jiang membalas dendam dan bersikap kejam, ia tidak akan setuju—dia tidak peduli dengan uang atau kekayaan; keluarganya, yang berkarakter mulia, tidak akan pernah bergaul dengan orang-orang yang khianat dan haus darah seperti itu, karena takut akan pembalasan. Selain itu, keluarga Xu adalah salah satu dari sekian banyak korban keluarga Jiang; sebuah keluarga yang baik hancur. Jika tidak, keponakannya tidak akan harus menderita begitu banyak di usia yang begitu muda.

Xu Cheng tetap tertidur, menolak untuk menjawab pertanyaan apa pun. Setelah sedikit pulih, ia kembali ke perahu.

***

Insiden nyaris tenggelam di rumah keluarga Jiang adalah sebuah peringatan keras. Dia tidak bisa melupakan rasa sesak napas dan keputusasaan yang mengerikan saat didorong ke bawah air. Dia mempertimbangkan ketidakbersalahannya, tetapi kapan keluarga Jiang pernah memperlakukan siapa pun seperti manusia? Baik itu dirinya, Fang Xiaoshu, Fang Xinping, atau siapa pun.

Ia membenci seluruh keluarga mereka.

Xu Cheng membiarkan hatinya menjadi dingin; dia segera menemui Li Zhiqu, secara singkat menceritakan apa yang terjadi di rumah keluarga Jiang hari itu, dan menolak tawaran Jiang Chenghui. Ini adalah reaksi naluriahnya; intuisinya mengatakan kepadanya bahwa dia tidak bisa menyetujuinya terlalu mudah.

Li Zhiqu menyuruhnya untuk mengambil keputusan sendiri, dengan mengatakan bahwa pendaftaran yang tertunda telah disetujui. Adapun universitas yang ia lamar kemudian, nilai penerimaan mereka telah meningkat tajam tahun ini, dan ia tidak lagi memenuhi syarat. Yah, tidak apa-apa. Orang-orang di luar akan berpikir dia gagal ujian dan tidak bersekolah.

Xu Cheng agak linglung, berkata, "Jiang Xi belum menghubungiku."

Sejak hari itu, Jiang Xi sepertinya menghilang dari hidupnya, tanpa jejak.

Xu Cheng mengemasi pakaian yang ditinggalkan Jiang Xi dan memasukkannya ke dasar lemari, membuang perlengkapan mandinya. Ia bangun sendirian, mandi, melepaskan tali tambat, berlayar, berdagang, memilah barang, merapikan, makan, berlabuh, mencuci pakaian, tidur, mendengarkan radio...

Awalnya, ia akan memikirkan Jiang Xi.

Ia melukis di dek, sibuk di dekat kompor induksi; Ia duduk di depan kipas angin mengeringkan rambutnya yang basah; terbangun dari tidur siangnya, tubuh mungilnya bergoyang, menggosok bekas tikar bambu di wajahnya, ia akan memberinya es loli, yang dipegangnya dengan kosong di mulutnya...

Memikirkannya membuat hatinya gelisah; mengenai apa yang membuatnya gelisah, ia tidak tahu. Kata-katanya terus bergema di benaknya, "Siapa pun yang kutemui, aku akan pergi dengan orang itu."

***

Pada bulan Agustus, jalur air menjadi lebih ramai, dan ia menjadi lebih sibuk lagi, sangat sibuk sehingga ia harus mempekerjakan buruh pelabuhan, yang upahnya dibayarkan setiap hari. Ia tidak punya waktu lagi untuk memikirkan hari-hari yang tampaknya tidak nyata itu.

Seolah-olah perasaan romantis yang samar-samar dari waktu mereka di perahu telah lenyap saat ia membuka pintu kabin, tertiup angin sungai.

Suatu malam, setelah mandi, Xu Cheng merosot ke kursi rotan biasanya, menikmati kehangatan kipas angin, ketika tiba-tiba ia menyentuh sehelai rambut panjang yang halus. Ia memegangnya di antara jari-jarinya, menariknya menjadi benang panjang dan lentur, lalu melilitkannya dua kali di ujungnya dengan jari telunjuknya. Termenung sejenak, ia mengerutkan kening dan membuangnya ke tempat sampah.

Masih belum ada pesan teks di ponselnya. Dia berpikir bahwa apa yang disebut ketertarikannya itu hanyalah ketertarikan seorang anak pada mainan. Begitu mainannya diambil, dia melupakannya.

Dengan begini, rencananya dengan Li Zhiqu kemungkinan besar akan gagal.

***

Panasnya musim panas sangat menyengat, dan kehidupan terasa sibuk. Pada pertengahan Agustus, Xu Cheng mengirimkan pesan multimedia kepada Jiang Xi—tanpa kata-kata, hanya sebuah gambar: bunga gardenia yang disematkan pada kipas.

Sore itu, ia menerima telepon dari Jiang Xi.

Suaranya lembut, bercampur dengan kegembiraan dan kegugupan, "Xu Cheng?"

"Hmm?"

"Ini aku, Jiang Xi."

"Aku tahu."

"Kamu ingat aku?"

"..." ia terdiam, "Langsung saja ke intinya."

Di ujung telepon, Jiang Xi terdiam beberapa detik. Suaranya terdengar samar dan agak asing melalui telepon, membuatnya merasa tidak nyaman tanpa alasan, dan nadanya merendah, "Aku ingin mengajakmu ke taman hiburan besok... oke?"

Xu Cheng menyipitkan mata melihat pantulan sinar matahari di sungai, merasa bahwa lompatan dari hampir tenggelam di rumahnya hingga pergi ke taman hiburan terasa aneh dan tidak masuk akal.

"Xu Cheng, apakah kamu masih di sana?"

Xu Cheng berkata, "Ya."

"Kalau begitu... ayo pergi?" pintanya pelan, "Ayo pergi..."

"Oke."

Kali ini, dia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan itu lagi.

...

Keesokan paginya, Xu Cheng tiba sepuluh menit lebih awal dari yang disepakati, tetapi Jiang Xi sudah ada di sana sebelum dia.

Dia berdiri bersandar pada tongkatnya di bawah pohon sycamore yang sama seperti tahun lalu. Tahun lalu bulan Mei, sekarang bulan Agustus, kanopi pohon itu rimbun dan hijau tua. Mobil hitam yang sama masih terparkir di belakangnya.

Ia berdandan khusus; separuh rambut panjangnya dikepang dan diikat dengan pita, separuh lainnya terurai bebas di bahunya; gaun kasa putih membuatnya tampak seperti dalam mimpi. Angin musim panas berhembus di antara pepohonan, memantulkan sinar matahari di sekelilingnya.

Matanya bersinar terang penuh antisipasi, tanpa menunjukkan sedikit pun ketidaksabaran menunggu.

Xu Cheng mengenakan kemeja putih lengan pendek dan celana jins biru muda, tampak segar dan riang. Saat ia mendekat, mata mereka bertemu. Ia sedikit mengerucutkan bibirnya, pipinya memerah. Xu Cheng tetap tanpa ekspresi; setelah hampir setengah bulan berpisah, mereka sedikit terasing. Namun, dia tidak tidur nyenyak semalam dan agak mengantuk. Ketika orang-orang malas, mereka tampak jauh lebih santai daripada dia.

Xu Cheng bertanya, "Mengapa kamu menggunakan tongkat?"

Jiang Xi melirik mobil di sampingnya, lalu ke arahnya.

Ia mengerti, "Ayo masuk."

Begitu masuk ke taman hiburan, Jiang Xi berkata, "Ayahku tidak suka kaki palsu. Katanya itu menakutkan. Dulu dia tidak suka aku memakainya, katanya akan menyakitinya melihat kakiku lecet seperti itu. Lagipula, kali ini aku kabur dari rumah dan tidak kembali selama dua bulan. Dia sangat marah, katanya kaki palsu itulah penyebabnya, dan dia melarangku memakainya lagi."

Xu Cheng, menyesuaikan langkahnya, berjalan perlahan dan bertanya, "Jadi bagaimana menurutmu?"

Jiang Xi tidak menjawab. Setelah berjalan beberapa saat dengan kruknya, bibirnya sudah berkeringat.

Xu Cheng berkata, "Jiang Xi, aku melompat ke sungai untuk mengambil kaki palsumu, bukan agar kamu harus menggunakan kruk."

Dia berhenti sejenak, lalu menundukkan kepala dan berbisik, "Aku tahu."

Dia tidak bermaksud merusak suasana hatinya atau memikirkannya terus-menerus. Sambil melirik lingkungan sekitar yang semarak dan seperti negeri dongeng, dia berkata, "Kamu mau apa? Kita punya waktu seharian."

Jiang Xi langsung terbuai, wajahnya langsung berseri-seri, "Aku mau naik komidi putar dulu."

"Oke."

Komidi putar masih memainkan lagu sebelumnya, dan mereka menunggu di lingkaran luar. Jiang Xi melihat sepasang kekasih berpelukan di atas kuda di dalam, saling berdekatan, tertawa, menggoda, lalu berbalik untuk berciuman.

Dia memperhatikan, lalu mencuri pandang ke arahnya.

Xu Cheng, bosan, menunggu musik berhenti, memperhatikan kuda-kuda berwarna-warni yang berputar, dan berkata, "Kenapa kamu menatapku seperti itu?"

Jiang Xi merasa malu dan memalingkan muka.

"Kamu datang ke taman hiburan, mengabaikan pemandangan, hanya untuk melihatku? Kamu tidak pernah bosan menatapku."

Jiang Xi tersipu, telinganya juga memerah. Di bawah sinar matahari, bulu halusnya tampak lembut dan mengembang.

Entah mengapa, Xu Cheng tiba-tiba merasa ingin menyentuh telinganya.

"Kita berhenti sekarang. Apakah kamu ingin menunggang kuda putih itu?"

Ia mengangguk berulang kali, "Ya!"

Xu Cheng tidak menatapnya, tetapi mendengar suaranya, senyum tipis terukir di bibirnya.

Itu adalah kuda putih tertinggi dan paling tampan yang pernah ditungganginya tahun lalu. Ia berjalan mendekat dan berdiri di sana menunggu Xu Cheng mengangkatnya. Xu Cheng meletakkan tongkatnya di tanah, memegang pinggangnya, dan mengangkatnya.

Ia duduk, matanya berkaca-kaca, menatapnya, "Kamu ... apakah kamu ingin menunggang kuda bersamaku?"

Xu Cheng tersenyum agak sengaja dan berkata, "Tidak."

Ia berkata "Oh," dan bertanya, "Apakah kamu akan menungguku di luar?"

Tapi kali ini, ia tidak melakukannya. Xu Cheng berdiri diam, dengan malas bersandar di pagar, dan saat roda berputar, ia ikut berputar bersamanya. Ia terkejut, lalu tersenyum.

Kuda itu naik turun, tatapannya tertuju padanya, dan dia menatap langsung padanya, di surga yang semarak dan selalu berubah ini.

Ketika musik berakhir, Xu Cheng mengulurkan tangan kepadanya, "Apa lagi yang ingin kamu mainkan?" 

Dia menurunkannya, tidak lagi malas, dan menjadi agak tertarik.

Sebelum dia bisa menjawab, dia menyelinap ke pelukannya, wajahnya menempel di dadanya. Dadanya hangat, dengan kekuatan yang bersemangat, berbau seperti hutan pinus di tengah musim panas. Tiba-tiba, dua bulan yang mereka habiskan bersama di kapal—hari-hari berlayar, membersihkan kargo, dan hidup bersama—kembali menyerbu, membawa aroma lembap sungai.

Wajahnya semakin memerah.

Xu Cheng melepaskan pinggangnya dan menyerahkan tongkatnya. Dia tahu persis apa yang sedang terjadi, tetapi tetap diam sampai mereka turun dari meja roulette. Kemudian dia bertanya, "Jiang Xi."

"Hmm?"

Xu Cheng mengulurkan jari, seolah ingin menyentuh wajahnya, tetapi hanya melayang di dekat pipinya, "Mengapa wajahmu merah?"

"Terlalu panas," bisiknya, jantungnya berdebar kencang. Ia berpikir pria itu akan menyentuh wajahnya. Ia juga sedikit gugup dan berharap...

Sepasang kekasih yang berbagi es krim berjalan lewat sambil berciuman. Tatapan Jiang Xi mengikuti mereka sejenak.

Xu Cheng berkata, "Mau es krim?"

Jiang Xi terkejut, "Hah?"

Xu Cheng menghela napas, "Aku bertanya apakah kamu mau es krim."

Wajah Jiang Xi memerah entah kenapa, dan ia mengangguk.

"Kamu mau rasa apa?"

"Stroberi. Kalau tidak, jeruk. Sama sekali jangan cokelat. Aku benci cokelat."

Xu Cheng membeli es krim stroberi.

"Kenapa cuma satu?"

"Aku tidak mau memakannya," kata Xu Cheng, "Jangan banyak bicara, makan cepat. Nanti tanganmu akan terkena lelehan."

"Oh," Jiang Xi dengan patuh duduk di tangga dan dengan tekun memakan es krimnya.

Tidak jauh dari situ, pasangan lain duduk berbagi es krim yang sama. Gadis itu, bergandengan tangan dengan laki-laki itu, akan menggigit es krimnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu.

Jiang Xi makan sambil memperhatikan, sesekali melirik Xu Cheng, wajahnya semakin memerah.

"Makan es krimmu, kenapa kamu menatapku?" Xu Cheng menyesap cola-nya, menyipitkan mata ke arah kapal bajak laut.

Dia tahu persis apa yang dipikirkan Jiang Xi.

Cuacanya panas, dan es krimnya cepat meleleh. Xu Cheng ingin dia segera menghabiskannya, jadi dia berhenti mengobrol dengannya dan duduk di tangga di sampingnya, memperhatikan orang-orang yang lewat.

Ada jarak sekitar setengah lebar badan seseorang di antara mereka.

Setelah beberapa saat, Xu Cheng memperhatikan Jiang Xi diam-diam bergerak sedikit lebih dekat kepadanya, tetapi dia tidak keberatan.

Beberapa saat kemudian, "Kenapa celana jeansmu lebar sekali? Kelihatannya bagus sekali," kata orang yang sedang makan es krim.

Xu Cheng memandang kerumunan yang berteriak-teriak di ayunan raksasa di kejauhan dan mengetuk kaleng Coca-Cola-nya dengan jariny, "Sudah kubilang jangan terlalu banyak bicara, bisakah kamu diam setengah menit?"

Jiang Xi melihat arlojinya, "Ya, sduah 40 detik."

"..." kata Xu Cheng, "Baiklah. Silakan bicara. Kalau nanti aku melihat es krimmu meleleh di tanganmu..."

Orang disebelahnya berhenti berbicara dan suara seruputan es krim memenuhi udara.

Xu Cheng memandang ke kejauhan, tiba-tiba ingin tertawa, dan tersenyum diam-diam.

Jiang Xi sekilas melihat profilnya yang tersenyum dan tak kuasa menahan senyum bahagia juga. Matahari bersinar terang, menyinari mereka berdua; panas, tapi dia menyukainya.

Tak lama kemudian, dia selesai makan, dan wajahnya tidak lagi semerah dulu. Sambil memegang bungkus es krim, dia berdiri, bersandar pada tongkatnya. Xu Cheng mengambil bungkus es krim dari tangannya dan berkata, "Aku akan membuangnya."

Tempat sampah itu berjarak sepuluh meter, dan Xu Cheng melangkah ke sana. Jiang Xi berdiri di sana menatapnya, lalu dia berbalik dan berjalan ke arah Jiang Xi. Awalnya, dia sedikit menyipitkan mata di bawah sinar matahari, tampak agak lesu, tetapi tiba-tiba, ekspresinya berubah, "Jiang Xi!"

Jiang Xi berbalik dengan terkejut. Sepasang kekasih, berpelukan dan tertawa, berlari ke arahnya tanpa melihat ke mana mereka pergi.

Benturannya cukup keras; Jiang Xi kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh dari tangga ketika Xu Cheng bergegas menghampirinya, meraih pinggangnya, menariknya ke dalam pelukannya, dan membalikkannya. Pasangan itu bertabrakan dengan Xu Cheng, yang, menahan amarahnya, dengan paksa mendorong mereka hingga terpisah.

"Bagaimana kamu memperhatikan jalanmu? Perhatikan baik-baik!"

Pria dan wanita itu, momen manis mereka terganggu, tampak kesal. Bukannya meminta maaf, pria itu bergumam, "Jika kamu penyandang disabilitas, jangan keluar rumah."

Xu Cheng, "Ulangi lagi."

Pria itu tidak berani mengulanginya; wanita itu memutar matanya, menarik pria itu menjauh, dan menginjak tongkat penyangga yang tergeletak di tanah.

Xu Cheng tiba-tiba mengangkat Jiang Xi, yang masih gemetar, dan membawanya ke peron terdekat, "Duduk di sini dan jangan bergerak."

Jiang Xi melihat wajahnya yang sangat pucat dan berbisik, "Xu Cheng..."

Xu Cheng melangkah menuju pasangan yang pergi, meraih kerah baju anak laki-laki itu, dan membalikkannya. Anak laki-laki itu mencoba melawan, tetapi Xu Cheng jauh lebih tinggi dan lebih kuat, dan dengan sedikit tenaga, ia mendorong punggungnya ke bawah.

Bocah itu membungkuk seperti udang, menumpahkan cola ke seluruh lantai.

Gadis itu menjerit dan mencoba menerobos maju, tetapi Xu Cheng tidak membuang kata-kata padanya, menunjuknya dengan jari. Gadis itu tidak bergerak.

Xu Cheng mencengkeram leher belakang pria itu, mengangkatnya seperti ayam dan menyeretnya ke depan Jiang Xi, menekan punggungnya dengan keras, "Minta maaf."

Pria itu berusaha mendongak ke arah Jiang Xi, yang sedang duduk di peron, "Maaf."

Jiang Xi dengan cepat melambaikan tangannya, dengan tulus berkata, "Tidak apa-apa..."

Melihat ini, pria dan wanita itu menjadi malu; nada suara mereka menjadi tulus, "Kami benar-benar minta maaf."

"Tidak apa-apa..."

Xu Cheng tidak mempermasalahkan hal itu lebih lanjut dan melepaskan pria itu. Keduanya segera lari.

Xu Cheng mengambil tongkatnya, tetapi tongkat itu tertutup cola. Xu Cheng merogoh sakunya dan mengeluarkan segumpal tisu toilet kusut yang telah tercuci di mesin cuci.

Dia bertanya, "Apakah kamu punya tisu?"

Jiang Xi menggelengkan kepalanya dengan kuat, cukup senang, "Tidak."

"..." Xu Cheng meletakkan tongkatnya yang kotor dan menghela napas pelan, "Lalu bagaimana kamu akan berjalan? Memanggil seseorang di luar untuk menggendongmu?"

"Tidak," Jiang Xi menatapnya dengan saksama.

Xu Cheng menyilangkan tangannya dan mencondongkan tubuh ke samping, "Atau, mungkin meminjam sebungkus tisu..."

Jiang Xi mengayunkan kakinya, lalu menendang pelan dengan kaki kanannya, menyebabkan tongkatnya jatuh ke tanah dengan bunyi gedebuk.

Xu Cheng meliriknya dari samping.

Jiang Xi tidak berani menatap matanya dan bertanya dengan lembut, "Mengapa kamu tidak mau menggendongku?"

Xu Cheng membalas, "Mengapa aku harus menggendongmu?"

Jiang Xi tidak bisa menjawab, tetapi setelah beberapa detik, dia menatapnya lagi dan berkata, "Tidak bisakah kamu menggendongku?"

Xu Cheng langsung tersenyum, memperlihatkan gigi putihnya.

Mungkinkah ada cara yang lebih konyol untuk memprovokasi seseorang?

"Hmm, aku tidak bisa menggendongmu," senyumnya belum hilang saat dia dengan malas meregangkan bahunya, "Aku terlalu lelah."

Jiang Xi tahu dia berbohong, dan kekecewaannya tak terbantahkan.

Namun saat Xu Cheng berbicara, dia tersenyum dan berjalan mendekat, dengan lembut mengangkatnya dari peron dan memeluknya erat, "Kamu mau main apa selanjutnya?" tanyanya.

"Kereta kecil!" matanya langsung berbinar.

"Kalau begitu kereta kecil," kata Xu Cheng, tiba-tiba berlari pergi.

Jiang Xi melingkarkan lengannya di lehernya, terkikik.

Di taman hiburan yang penuh warna, dia menggendongnya sambil berlari, pakaian anak laki-laki dan rok anak perempuan itu berkibar di bawah sinar matahari dan angin musim panas.

Sepanjang hari itu, dia menggendongnya. Awalnya, dia dengan patuh bersandar di pelukannya, takut merepotkannya. Tetapi secara bertahap, setelah bermain satu wahana demi wahana, dia menjadi lelah, tubuhnya lemas.

Menjelang senja, dia mulai merasa mengantuk dan tertidur di pelukannya.

Pada saat itu, Xu Cheng, sambil menggendongnya, hendak pergi ketika dia bertanya, "Apakah ada hal lain yang ingin kamu lakukan?"

Tidak ada yang menjawab. Melihat ke bawah, ia melihatnya tidur dengan tenang.

"Jiang Xi?"

"Mmm?" gumamnya dengan mengantuk, memiringkan kepalanya ke belakang hingga menempel di lehernya, pipi dan hidungnya menggesek-gesekkan dengan penuh kasih sayang padanya.

Xu Cheng bergidik, geli, dan berhenti di tempatnya.

Ia duduk di bangku di bawah pohon, berniat menempatkannya di sampingnya agar ia bisa menyandarkan kepalanya di bahunya. Tetapi ia melingkarkan lengannya di pinggangnya. Wajahnya yang hangat dan lembut menempel di lehernya, napasnya menggelitiknya seperti bulu. Sebuah getaran menjalar dari telinga Xu Cheng ke belakang kepalanya, lalu ke tulang punggungnya.

Ia dengan hati-hati menoleh ke samping, mencoba melepaskan diri dari kendali napasnya.

Tetapi cuacanya panas, dan pakaian tipisnya basah kuyup oleh keringat. Lengannya menempel di punggung bawah dan lututnya; pakaian tipis yang menempel di tubuhnya di dadanya sudah basah kuyup oleh keringat. Angin sepoi-sepoi bertiup, hanya membawa lapisan tipis detak jantung di antara mereka.

Taman hiburan itu dipenuhi tawa dan keramaian; Xu Cheng tetap duduk, dengan tenang, menunggu Jiang Xi bangun.

Saat cahaya senja mewarnai langit, angin semakin kencang, mengembus dedaunan. Jiang Xi terbangun oleh gemerisik daun di atas kepalanya, merasa malu dan menyesal, "Maaf, aku tertidur."

"Tidak apa-apa, aku juga tertidur."

Ia berpikir Xu Cheng pasti lelah, dan bertanya, "Bagaimana kalau kita kembali?"

Namun, Xu Cheng melihat kincir ria di seberang dan bertanya, "Apakah kamu tidak ingin menaiki kincir ria?"

Ia tahu Jiang Xi ingin menaikinya tahun lalu.

"Ya!"

Begitu masuk ke dalam kabin, Xu Cheng menurunkannya. Sensasi sejuk yang ringan menyebar di tubuh mereka yang terpisah.

Kincir ria perlahan berputar dan naik, dan Jiang Xi, dipenuhi kegembiraan, mencuri pandang lagi padanya.

Xu Cheng memandang pemandangan di luar dan berkata, "Beginikah cara naik kincir ria? Tidakkah kamu melihat ke luar?"

Ia menjawab, "Kamu lebih tampan."

Xu Cheng, "..."

Ia memandang Kota Jiangzhou di luar jendela, berhenti sejenak, lalu tak kuasa menahan senyum, telinganya sedikit memerah karena cahaya matahari terbenam.

Dari sudut matanya, Jiang Xi masih menatap wajahnya.

"Berhentilah menatap," katanya, berbalik untuk membalas tatapannya. 

Tiba-tiba, Jiang Xi mengulurkan tangan, jari telunjuknya menyentuh alisnya, perlahan menelusuri hidungnya.

Ia tampak menikmati hal ini; ini bukan pertama kalinya.

Jari gadis itu dengan lembut meluncur ke ujung hidungnya, lalu ke pangkal bibirnya, seolah ingin menyentuh bibirnya. Terakhir kali, ia tidak berani.

Xu Cheng menatapnya, matanya sulit dibaca.

Kali ini, Jiang Xi sedikit lebih berani. Dengan sedikit gerakan, ujung jarinya menyentuh bibirnya, berada di antara keduanya.

Ekspresinya tampak berani sekaligus cemas.

Xu Cheng tetap tenang dan terkendali, seolah mengamati seberapa jauh Jiang Xi akan bertindak jika ia tidak bergerak.

Jantung Jiang Xi berdebar kencang. Terjebak di antara dua pilihan sulit, jari-jarinya masih menyentuh bibirnya, ia tiba-tiba mengumpulkan keberanian dan mendekat kepadanya.

Ia mendekat, napas hangatnya menggelitik pipinya.

Xu Cheng menundukkan pandangannya, memperhatikan bulu matanya yang panjang dan gelap bergetar. Ia mencondongkan tubuh lebih dekat, menempelkan pipinya ke pipi Xu Cheng, menggesek-gesekkannya seperti hewan kecil, lalu dengan senang hati menjauh.

Xu Cheng tak kuasa menahan senyum dalam hati.

"Apa yang kamu tertawa?"

Xu Cheng berkata, "Kamu telah menatap semua pasangan yang berantakan itu sepanjang hari, dan ini yang kamu pelajari?"

Jiang Xi tidak menyangka ia telah memahami semua rasa ingin tahu, antisipasi yang samar, dan fantasi malu-malunya hari itu. Ia terlalu malu untuk berbicara.

"Mau menciumku?" kata Xu Cheng dengan suara rendah.

Sekilas kerinduan bercampur panik terlintas di mata Jiang Xi. Napasnya semakin cepat, dan pipinya memerah dengan cepat.

"Kamu mau?" Xu Cheng terkekeh, "Jika kamu tidak mau, maka jangan."

Jiang Xi buru-buru membuka mulutnya, "Ma..."

Sebelum ia menyelesaikan kata 'mau', Xu Cheng memiringkan kepalanya dan mencium bibirnya lebih dahulu.

Jiang Xi langsung meringkuk dalam pelukannya, tangan mungilnya memetik lipatan-lipatan besar di kemeja putihnya.

Xu Cheng mencium bibirnya dengan lembut, seperti menjilat es krim yang lembut dan penuh. Ia menangkup wajahnya yang memerah dengan satu tangan dan melingkarkan tangan lainnya di pinggangnya, menariknya lebih dekat. Kursinya halus, gaunnya ringan dan lembut; ia dengan mudah bergeser ke sisinya, terbungkus dalam pelukannya, dan ciuman itu semakin dalam.

Ia berusaha selembut mungkin, sentuhannya lambat dan perlahan, dengan lembut mencium sudut bibirnya, lidahnya sedikit berbelit dengan lidah Jiang Xi. Namun Jiang Xi tetap terkejut, atau lebih tepatnya, kaget. Ia merasakan napasnya, panas dan intens, menerpa tubuhnya, langsung membakar darahnya, jantungnya berdebar kencang seolah akan meledak, membuatnya tidak bisa bernapas, dan ia tidak berani bernapas.

Bibirnya...bibirnya...sangat panas! Sangat lembut!!!

Pikiran gadis itu benar-benar kacau, seperti sepanci pasta kental yang mendidih, menggelembung dan bergemuruh.

"Jiang Xi?"

"Hmm?"

"Kamu bisa bernapas. Jika kamu tidak bernapas, kamu akan mati lemas."

"...Aku lupa...wooo..."

Ia begitu terpikat oleh ciumannya sehingga semua pikirannya seolah tersedot pergi, menjadi benar-benar tak responsif.

Xu Cheng sedikit melonggarkan cengkeramannya. Jiang Xi linglung, wajahnya memerah, matanya berkabut, seolah tenggelam dalam mimpi musim semi. Polos sekaligus memikat.

Ia menariknya ke pangkuannya, memeluknya erat, dan menciumnya lagi, menghisap dengan keras, lidahnya tanpa basa-basi memaksa masuk ke giginya, berbelit erat dengan lidah kecilnya yang harum. Ia tak bisa menolak. Ia mengangkat bahunya, tubuhnya gemetar dan lemas, mengeluarkan erangan lemah, "Ugh..."

Suaranya begitu lembut dan halus sehingga membuatnya menegang sesaat, lalu ia melepaskannya.

Wajahnya semakin memerah, tubuhnya terbakar rasa malu.

Di luar jendela, matahari terbenam melukis langit dengan warna-warna cerah, cahayanya yang lembut menyelimuti kincir ria; menerangi mata mereka, membuat mata mereka tampak gelap dan berair.

Ia bersandar lembut di bahunya, terengah-engah. Ujung jari Xu Cheng menyingkirkan rambut-rambut yang bertebaran di pelipisnya, tangannya secara alami menyentuh telinganya yang merah. Saat menyentuhnya, jari-jarinya mencengkeram cuping telinganya yang seperti giok, memberinya tekanan yang intim.

Sentuhan itu persis seperti yang ia bayangkan—lembut, halus, dan hangat.

Ibu jari Jiang Xi kemudian menyentuh bibirnya, bibirnya yang merah, halus, dan lembut.

"Mau menciumku lagi?" tanya Xu Cheng.

"Aku mau..."

Ia menggunakan ibu jarinya untuk membuka bibirnya, lalu menundukkan kepala dan menciumnya lagi.

"Mari kita berciuman sampai kincir ria berhenti, oke?" bujuknya dengan suara serak.

"Mmm—" Jiang Xi patuh setuju.

Jadi beginilah rasanya berciuman; ia menyukainya.

Kincir ria di Jiangzhou menyelesaikan satu putaran dalam 28 menit dan 15 detik. Hari itu, mereka berciuman berkali-kali. Xu Cheng mencium Jiang Xi berkali-kali.

(Anak muda... udah boleh bahagia belum ni aku? Hihi... bahagia aja dulu ya)

***

Kemudian, Jiang Xi sesekali teringat ciuman pertama itu, dan ketika ia mengingatnya, ia tak kuasa menahan rasa gemetar.

Seperti apa rasanya ciuman pertama itu? Seperti kaleidoskop yang meledak. Matanya yang terpejam lembut, rambut hitamnya yang acak-acakan, langit senja yang cemerlang, balon-balon warna-warni, roller coaster yang berputar di luar kincir ria.

Mengingat kembali adegan itu membangkitkan aroma musim panas itu: bau samar oli mesin di kincir ria, hormon masa muda di pipinya, aroma sampo di rambutnya, rasa cola dingin di bibirnya.

Salah satu dari sedikit momen berwarna dalam hidupnya. Dia pernah menghargainya sebagai harta paling berharga.

Tapi... semuanya palsu. Semuanya palsu.

***

BAB 24

Keluarga Jiang menyetujui hubungan Jiang Xi dengan Xu Cheng. Namun, baik saat pergi ke dermaga atau tempat lain bersama Xu Cheng, dia harus dijemput dan diantar oleh A Wu dan A Wen. A Wen telah kembali ke keluarga Jiang, kaki kirinya sekarang pincang.

Awalnya, Jiang Chenghui ingin menjodohkan Jiang Xi dengan putra dari mitra bisnis lamanya, pengusaha Makamu Deng Kun, tetapi setelah bertemu dengannya pada bulan Juni, dia melihat bahwa pria itu tidak berguna dan tidak berharga. Dia mempertimbangkan untuk menyerah. Saat itulah, Jiang Xi 'melarikan diri dari pernikahan', melarikan diri dari rumah.

Deng Kun mendengar bahwa putrinya telah tinggal bersama seorang pemuda di atas perahu selama dua bulan, sehingga hal itu menjadi pengetahuan umum, dan tidak pernah lagi menyebutkan pernikahan tersebut.

Ketika Jiang Xi kembali, Jiang Chenghui mengetahui bahwa putrinya telah menyaksikan Ye Si membunuh seseorang dan melarikan diri karena takut; ia menghibur putrinya untuk sementara waktu.

Secara objektif, saudara-saudara Jiang cukup mengagumi Xu Cheng: ia berkemauan keras, berani, setia, dan mampu menangani tanggung jawab besar. Jika ia benar-benar menjadi menantu mereka dan orang kepercayaan keluarga Jiang, setelah beberapa tahun pelatihan, ia dapat membantu Jiang Huai dalam mengelola bisnis keluarga, sehingga Jiang Chenghui dapat pensiun dengan tenang.

Jiang Huai memiliki pandangan yang sama dengan ayahnya. Xu Cheng adalah bakat langka dalam kepemimpinan, dan ditambah dengan statusnya sebagai saudara ipar, ia pasti akan menjadi tangan kanan yang kuat. Kunci untuk merekrut Xu Cheng terletak pada Jiang Xi. Anak muda, terutama ketika sedang jatuh cinta, berada pada usia di mana mereka bersedia melewati api dan air. Jika ia tidak bisa melepaskan Jiang Xi, ia akhirnya akan menjadi anggota keluarga Jiang.

Namun, Xu Cheng 'sama sekali tidak tertarik' dengan urusan keluarga Jiang. Jiang Huai mengundangnya makan malam beberapa kali, tetapi ia selalu mengatakan bahwa ia sibuk.

***

Suatu pagi di akhir Agustus, Jiang Xi datang mengunjungi Xu Cheng. Jiang Huai datang dan naik ke perahu, mengatakan bahwa ia ingin berbicara dengannya.

Xu Cheng tidak membuang-buang kata dengannya, berkata, "Aku tidak tertarik dengan urusan kotor keluargamu. Aku tidak peduli, aku tidak ingin melakukannya, mengerti?"

A Wu hampir memukulnya. Jiang Xi menjulurkan kepalanya keluar dari kabin, memegang es krim dan bertanya kepada A Wu apakah ia menginginkannya. A Wu dengan cepat tersenyum dan berkata ya, ya, lalu berlari pergi dengan gembira.

Hanya mereka berdua yang tersisa di dek.

Jiang Huai melirik lingkungan dermaga yang kotor dan bobrok lalu berkata, "Jadi kamu menikmati pekerjaan kotor dan melelahkan ini? Bolehkah aku bertanya berapa upahmu per hari?"

"Jiang Shaoye, apakah Anda menganggur? Khawatir dengan perahu kecil aku yang rusak?"

"Uang tetap uang, tidak masalah apakah itu kotor atau bersih. Lagipula, apa yang telah dilakukan keluarga Jiang? Kami tidak pernah memaksa siapa pun untuk membeli atau menjual. Jika ayahmu tidak mempercayai pamanmu, apakah perusahaan akan merugi? Jika pamanmu tidak berjudi, siapa yang bisa memaksanya berjudi?"

"Kamu menyelidiki aku?"

"A Xi adalah saudara perempuanku, aku hanya menyelidikinya, itu bukannya tidak masuk akal."

"Pamanku adalah seorang bajingan, aku tidak bisa menyalahkan siapa pun atas kesalahannya. Tapi itu tidak berarti kamu tidak bersalah."

"Jadi kami sedang bertransformasi," kata Jiang Huai sambil mengetuk-ngetuk sepatu kulitnya di dek, "Kami berencana untuk mencuci bisnis pasar gelap kami dalam empat atau lima tahun. Kemudian tidak akan ada yang bisa menyalahkan kami."

Xu Cheng berkata, "Oh. Selamat."

"..." Jiang Huai menyadari anak ini sangat keras kepala. Dia enam atau tujuh tahun lebih tua dari Xu Cheng dan telah melihat lebih banyak dunia, tetapi sikap Xu Cheng yang dewasa di luar usianya dan tanpa rasa takut membuatnya cukup tak berdaya.

Jika ini terjadi di wilayahnya, anak itu pasti sudah dipukuli habis-habisan. Dia menekan kebencian di matanya, menendang tiang kabel di samping kakinya, dan berkata, "Aku perhatikan beberapa hari yang lalu A Xi memiliki kapalan di tangannya. Apakah itu karena mengikat tali tambat?"

Pupil mata Xu Cheng sedikit menyempit.

"Perahu ini, mungkin dia akan menganggapnya baru dan menyenangkan selama satu atau dua bulan, satu atau dua tahun. Tapi bagaimana dengan lima tahun, sepuluh tahun? Seorang pria membutuhkan sesuatu untuk mempertahankan seorang wanita. Kalau tidak..." Jiang Huai menyalakan sebatang rokok, mengubah topik pembicaraan, "Pernahkah kamu melihat anak ayam atau anak itik yang baru lahir? Jika ia melihat seseorang untuk pertama kalinya, ia akan mengikuti orang itu. Apa pepatah dalam buku-buku itu? Imprinting. Begitulah A Xi. Orang pertama yang dilihatnya adalah kamu. Baginya, itu adalah efek imprinting. Begitu ia melihat lebih banyak dan menyadari kamu bukan siapa-siapa, ia akan terbang pergi sepenuhnya, seperti burung dewasa."

Air yang berkilauan terpantul di mata gelap Xu Cheng, cahaya putih yang tajam. 

Jiang Huai melemparkan rokoknya yang setengah terbakar ke dek, menghembuskan asap, menyelipkan kartu namanya ke celah tali tambat, menepuk bahu Xu Cheng, dan pergi.

Xu Cheng masih mengabaikan Jiang Huai, melanjutkan hidupnya di perahu seperti biasa.

...

Jiang Xi hampir setiap hari datang menemuinya. Seorang pria tua dipekerjakan sebagai pekerja sementara di perahu. Terkadang Jiang Xi ingin membantu sesuatu, tetapi pria itu dengan cepat menyuruhnya untuk meletakkannya, mungkin atas perintah Xu Cheng.

Karena tidak ada yang bisa dilakukan, Jiang Xi pergi ke ruang kemudi. Dia ingin bersamanya.

Sebelumnya, ketika hanya mereka berdua di perahu, entah dia di haluan dan dia di buritan; dia di atas dan dia di bawah, mereka selalu merasa terhubung, selalu bersama.

Sekarang, ada orang asing di perahu, dan dia hanya merasa benar-benar bersamanya ketika dia ada di dekatnya.

Xu Cheng biasanya lebih suka berlayar sendirian dan tidak terbiasa ada orang di ruang kemudi. Tapi dia membiarkannya. Terkadang dia akan duduk di sampingnya, terkadang dia akan menatap pemandangan sungai, dan terkadang dia hanya melamun.

Terkadang, Jiang Xi akan mengobrol dengannya selama beberapa menit, dan dia akan menanggapi apa pun yang dikatakannya, tidak peduli betapa biasa atau tidak masuk akalnya topik tersebut.

"Hah? Tas anyaman apa itu di sana?"

"Di mana?"

"Di sana. Aduh, tas itu datang ke arah kita. Bukankah akan tersangkut di baling-baling dan merusaknya?"

"Seharusnya kamu khawatir dengan tas anyaman itu."

"Xu Cheng, seekor burung mendarat di dek. Lihat. Cantik sekali."

"Sepertinya burung pipit."

"Burung pipit? Burung itu lelah terbang dan datang menumpang."

"Kalau begitu, cepat suruh dia mencabut bulunya untuk membayar tiketnya."

"Bagaimana kalau dia tidak mau membayar?"

"Kalau tidak mau membayar, usir saja dari perahu."

"Aku juga belum membayar tiketku."

"...Coba kupikirkan, apa yang bisa kugunakan untuk membayar?"

"Hmm..."

"Hehe."

"Apa yang kamu tertawa?"

"Pelampung itu, bentuknya seperti marmut. Muncul lalu menghilang."

"Oh, benar."

Tapi Xu Cheng tidak banyak bicara dengannya.

Saat Jiang Xi pertama kali bertemu dengannya, dia mengira Xu Cheng ceria, antusias, riang, dan bersemangat. Namun, seiring berjalannya waktu, dia menyadari bahwa meskipun Xu Cheng tampak ramah dan riang, di dalam hatinya dia pendiam dan tidak banyak bicara.

Selama dua bulan pertama di perahu, mereka berdua sibuk dan jarang memiliki waktu luang di ruang tertutup yang sama, jadi semuanya terasa pas. Tapi sekarang, menghabiskan setiap hari bersamanya, waktu yang lebih lama justru mengurangi percakapan mereka.

Apakah dia tidak suka berbicara dengannya? Atau apakah dia tidak menyukai... Jiang Xi?

Jiang Xi merasa gelisah, tetapi dia selalu cepat menenangkan diri, diam-diam menggambar atau tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lagipula, dia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya seperti ini di sayap barat yang kecil selama sepuluh tahun terakhir.

Sekarang, dengan Xu Cheng di sampingnya, dia bisa menoleh dan melihat profil tampannya. Meskipun hanya diam saja, ia merasa tenang dan bahagia.

Ia sering diam-diam menggeser kursinya lebih dekat ke arahnya, hingga tak bisa lebih dekat lagi, perlahan melingkarkan lengannya di pinggangnya dan menyandarkan kepalanya di bahunya. Ia tidak akan tegang seperti pertama kali; tubuhnya selalu menerimanya secara alami, bahkan tanpa sadar bergeser untuk membuatnya lebih nyaman di bahunya.

Jiang Xi akan diam-diam menyandarkan kepalanya di bahunya, menatap hamparan air yang luas yang dipandangnya. Ia akan berkata, "Aku ingin mendengar suara klakson perahu." Kemudian ia akan membunyikan klakson untuknya.

"Bunyi gemerincing—klop-klop—"

Sebagian besar waktu, mereka tidak mengatakan apa pun, dan ia akan tertidur karena kelelahan. Xu Cheng akan tetap setengah diam. Meskipun cuaca panas dan pengap, dia membiarkan wanita itu berbaring di atasnya dan tidur sampai dia bangun.

Namun Xu Cheng sering mencium Jiang Xi, kapan saja.

Ia akan mengangkatnya ke pangkuannya, menekan tubuh rampingnya ke meja dapur, satu tangan menopang punggung bawahnya agar kepalanya tidak terbentur tepi yang keras; tangan lainnya memegang bagian belakang kepalanya, menciumnya hingga ia merasa pusing, darahnya mendidih, hampir tidak bisa bernapas. Dan ketika tangan kecilnya meraba leher dan dadanya selama ciuman penuh gairah mereka, ia bisa merasakan kulit lembut bocah itu menghangat dan detak jantungnya yang kuat berdebar kencang.

Jiang Xi tahu bahwa dalam ciuman yang dalam dan basah itu, dalam napas yang hangat dan lama itu, dia dapat dengan jelas merasakan kasih sayangnya.

***

Sesekali, Jiang Xi akan mengajak Jiang Tian bermain.

Suatu kali, Jiang Xi dengan santai menyebutkan bahwa dia dan Jiang Tian bertengkar kecil malam sebelumnya, tetapi mereka segera berbaikan. Xu Cheng ingat bahwa Jiang Tian sedang pulang berlibur, jadi dia mengatakan bahwa jika dia tertarik, dia bisa datang dan bermain di perahu.

Jiang Xi terkejut saat itu. Xu Cheng bertanya, "Ada apa?"

"Tian Tian cukup merepotkan. Aku khawatir kamu tidak akan menyukainya."

"Dia adikmu. Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?"

"Karena kamu juga tidak menyukai kakakku."

Xu Cheng terdiam sejenak dan berkata, "Itu masalah lain."

Xu Cheng sangat sabar dengan Jiang Tian, ​​​​sering mengambil inisiatif untuk membimbingnya dalam percakapan. Jiang Tian mudah sensitif dan cemas, dan sering mengamuk, tetapi Xu Cheng bisa menanganinya dengan tenang. Kesabaran dan kelembutan ini tidak berubah, baik Jiang Xi ada atau tidak.

Tak lama kemudian, Jiang Tian sendiri yang akan menyebut Xu Cheng, bahkan meminta Jiang Xi untuk mengajaknya bermain dengan 'Xu Cheng Gege'-nya.

Jiang Xi berkata kepada Xu Cheng, "Kamu lebih sering berbicara dengan Tian Tian daripada aku."

Saat itu, Xu Cheng sedang merapikan tempat tidur.

Saat itu akhir September; musim gugur datang terlambat di Jiangzhou tahun ini, tetapi tikar musim panas sudah bisa disimpan.

Xu Cheng menggoyangkan seprai, "Benarkah?"

"Ya."

Dia menatap pipinya yang cemberut dan tersenyum tipis, "Cemburu tentang ini?"

"Tidak, aku tidak. Aku sangat senang; kamu sangat baik kepada Tian Tian."

Dia mengangkat seprai, seprai yang terkena sinar matahari menutupi kepalanya. Ia mencondongkan tubuh lebih dekat, dan melalui seprai kering yang harum, mencubit pipinya, suaranya rendah, "Lalu karena siapa aku menjadi korban?"

Pipinya memerah di bawah seprai.

***

Ketika cuaca menjadi lebih dingin, Xu Cheng dan Li Zhiqu bertemu secara pribadi.

Xu Cheng berkata untuk pelan-pelan; semuanya berjalan sesuai rencana. Ia tidak ingin terlalu mudah setuju. Bergabung terlalu lancar akan menimbulkan kecurigaan. Bahkan jika tidak terjadi apa-apa sekarang, begitu ia mendapatkan akses ke dalam, kecurigaan akan mudah muncul kembali. Beberapa liku-liku justru akan meningkatkan kepercayaan di kemudian hari, membuat segalanya berjalan lebih lancar dan menghindari masalah yang tidak perlu.

Ia sedang menunggu kesempatan yang tepat, yang semakin dekat.

Li Zhiqu juga berpikir ini masuk akal.

Menggunakan Xu Cheng sebagai informan adalah upaya terakhir, tindakan putus asa. Li Zhiqu juga khawatir tentang keselamatannya, mengingat usianya yang masih muda dan kurangnya pengalaman. Jika ia tidak mengenal Xu Cheng dengan baik, dan memahami kecerdasan, kecakapan, dan pendekatannya yang mantap, ia tidak akan pernah berani membiarkannya mencoba. Saat ini, tampaknya Xu Cheng memiliki rencana dan ritmenya sendiri, jadi Li Zhiqu tidak menanyainya lebih lanjut.

Xu Cheng percaya bahwa 'berjalan perlahan' adalah tindakan pencegahan; jika dia akan melakukan sesuatu, dia harus memastikan ketelitian dan mencegah kesalahan. Tetapi mungkin, di tingkat lain yang tidak ingin dia pikirkan, jauh di lubuk hatinya, dia berharap hari-hari damai ini bisa berlangsung lebih lama.

Terkadang, dia tidak tahu siapa yang sebenarnya telah jatuh ke dalam perangkap siapa—dirinya sendiri atau Jiang Xi. Jiang Xi sangat posesif.

Dia selalu berpikir dia tidak menyukai gadis yang posesif. Saat SMP, melihat siswa yang lebih tua dan lebih pemberontak selalu bersama pacar mereka, dia mencemooh. Sepanjang SMA, banyak teman sekelasnya berpacaran secara diam-diam, mencoba segala cara untuk bersama di luar kelas, dan dia mengerutkan kening dengan jijik. Banyak gadis dengan malu-malu memberinya surat cinta, tetapi dia merasa itu terkesan dibuat-buat.

Dia pikir dia mengagumi tipe yang riang dan santai seperti Fang Xiaoshu; tetapi tanpa diduga, dia sekarang mendapati dirinya benar-benar terpikat oleh Jiang Xi.

Terkadang, akal sehat Xu Cheng mengatakan kepadanya bahwa Jiang Xi bukanlah tipe idealnya. Tidak. Sikapnya yang terlalu memanjakan dan kebaikannya terhadap Jiang Xi berasal dari rasa bersalah tertentu.

Namun, ia tidak bisa menjelaskan mengapa ia begitu mendambakannya, mengapa tubuhnya tanpa terkendali menginginkan keintiman dengannya.

Terkadang, ia tidak ingin melakukan apa pun, tidak ingin memikirkan apa pun, hanya ingin menciumnya, membelainya, dan ingin menghancurkannya serta melahapnya sepenuhnya. Beberapa kali, mereka hampir melewati batas.

Ia mengira pengendalian diri adalah hal yang mudah baginya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di hadapan Jiang Xi, hal itu membutuhkan kemauan yang begitu kuat.

Untungnya, Jiang Xi sama sekali tidak mengetahui hal-hal seperti itu, percaya bahwa berciuman dan sentuhan adalah hal paling intim yang dapat dilakukan seorang pria dan wanita.

Xu Cheng menganalisis bahwa keinginan yang begitu kuat itu mungkin didorong oleh hormon.

Namun yang tak bisa ia jelaskan adalah ia selalu mengajak Jiang Xi berbelanja, menonton film, ke toko-toko, membelikan pakaian untuknya, berfoto dengannya di photo booth, membelikan cangkir, gantungan kunci, kemeja, dan pernak-pernik lainnya yang serasi—melakukan semua hal kecil yang biasa dilakukan pasangan—dan ia tidak merasa bosan; sebaliknya, ia merasa senang.

Tentu saja, A Wu dan A Wen selalu ada untuk mengantar mereka. Ia tidak akur dengan mereka berdua, dan awalnya, ia pasti merasa kesal. Namun secara bertahap, ia terbiasa, mengajak Jiang Xi keluar beberapa kali seminggu, meskipun hanya untuk makan dessert.

Ini tidak bisa dijelaskan oleh hormon. Lalu dia menghibur dirinya sendiri dengan berpikir bahwa yang dia lakukan hanyalah memeganginya lebih erat.

(Tuh kan denial terus. Biar apa coba?! Tar nyesel deh)

Pada bulan Oktober, ketika Xu Cheng mengganti seprai dengan selimut musim dingin, Jiang Xi menyentuh selimut lembut itu dan berkata ia ingin tidur di sana. Ia sudah lama tidak tidur di perahu, tetapi ayahnya tidak mengizinkannya.

Xu Cheng berkata, "Bukankah lebih baik tinggal di rumah? Ranjangnya lebar dan besar, tempat ini kecil dan sempit."

"Tapi aku suka di sini," kata Jiang Xi lagi, "Gege-ku aneh sekali, dia selalu bertanya tentangmu. Dia terus bertanya, dan bertanya."

Xu Cheng tetap tenang, "Bertanya apa?"

"Dia hanya bertanya tentang apa yang biasanya kita lakukan, apa yang kita bicarakan. Selalu hal yang sama."

"Oh," dia tampak acuh tak acuh. Dia menganggapnya biasa saja, berbalik, dan berbaring di atas selimut lembut, menghirup aroma kain katun yang dijemur.

"Xiao Cheng..." dia tiba-tiba bergumam, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Xu Cheng sedikit terkejut, "Kamu memanggilku apa?"

"Aku dengar bibimu memanggilmu begitu, Xiao Cheng," dia membenamkan separuh wajahnya di selimut, tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

"Apa yang kamu tertawakan?"

"Xiao Cheng, kedengarannya bagus, memiliki citra yang indah."

"Bagus apanya, itu konyol."

Dia pikir itu luar biasa; sebuah kota kecil di hatinya, begitu damai. Dia berkata, "Mari kita ganti papan namanya menjadi 'Supermarket Terapung Xiao Cheng'."

Xu Cheng mencibir, "Kamu benar-benar oportunis."

Dia tersenyum lagi, senyum sederhana dan bahagia. Sinar matahari sore musim gugur masuk melalui jendela bundar kecil, memancarkan cahaya keemasan lembut pada wajahnya yang cerah.

Xu Cheng menatapnya sejenak, tenggelam dalam pikiran.

"Jiang Xi."

"Hmm?"

Jika kamu naik perahu orang lain saat itu, apakah kamu akan pergi bersama mereka juga?

Tapi dia tidak menanyakan pertanyaan itu. Akal sehat mengatakan kepadanya: itu tidak penting. Dia tidak peduli.

***

Saat cuaca menjadi dingin, Jiang Huai merayakan ulang tahunnya yang ke-25, bukan dengan perayaan besar. Ia merencanakan sebuah acara kecil di klub rekreasi terbaik keluarganya di Jiangzhou, Klub Rekreasi Huise, yang menawarkan kesempatan bagi teman dekat, kerabat, dan mitra bisnis untuk bertukar sapa.

Kali ini, Xu Cheng pergi—saat yang telah lama ditunggunya akhirnya tiba.

Jamuan ulang tahun itu berskala kecil, tetapi sangat mewah. Bunga-bunga saja, yang diterbangkan dari Shanghai, harganya hampir satu juta yuan, dirangkai oleh seorang perangkai bunga ternama dari Shanghai. Gelas kristal, piring porselen putih, sumpit giok hitam, dan serbet yang dilipat menjadi berbagai bentuk tertata rapi di atas meja. Para pelayan cantik dengan gaun cheongsam sederhana masuk, mengisi ulang anggur dan teh, berbicara dengan lembut dan bijaksana.

Semua hidangan disiapkan oleh tim ahli masakan Kanton yang diterbangkan dari Guangzhou, menampilkan hidangan langka dan eksotis, banyak di antaranya belum pernah dilihat Xu Cheng sebelumnya.

Ia dan Jiang Xi duduk di meja utama. Setelah duduk, karena sopan santun, ia menyapa Jiang Chenghui, Jiang Huai, dan yang lainnya. Jiang Chenghui tersenyum dan mengangguk.

Jiang Huai menepuk bahunya sebagai balasan.

Xu Cheng melirik para tamu yang hadir, menilai dari aksen mereka. Sebagian besar berasal dari Jiangzhou, tetapi ada juga aksen dari Yucheng, Yunxi, dan Liangcheng, dan dia bahkan mendengar aksen Kanton. Selama makan, banyak orang datang untuk bersulang untuk Jiang Chenghui dan Jiang Huai, tetapi Xu Cheng tampak tidak menyadari, hanya diam-diam bertanya kepada Jiang Xi apa yang ingin dia makan dan menyajikan makanannya. Dia tampak sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya, namun dia menghafal nama keluarga semua orang yang hadir.

Di meja utama, selain paman dan saudara laki-laki Jiang, duduk seorang pria bernama Deng dengan aksen Kanton dan seorang pria bernama Yu dengan aksen Yucheng, keduanya duduk di sebelah Jiang Chenghui. Status mereka jelas bukan orang biasa. Keduanya mengobrol dengan Jiang Chenghui sepanjang makan, membahas investasi properti. Setelah percakapan singkat, mereka bertanya, "Dan siapa pria ini?"

Jiang Huai tersenyum dan berkata, "Pacar Meimei-ku."

Xu Cheng mendongak dan melihat pria itu memegang segelas anggur merah. Ia mengambil gelasnya, berdiri, dan menawarkan toast.

Deng Kun, terkesan dengan sikap alaminya, memuji Jiang Chenghui, mengatakan bahwa putra dan menantunya sama-sama cakap, tidak seperti putranya sendiri yang tidak berguna.

Jiang Chenghui dengan senang hati menerima pujian itu, berkata, "Ayo minum!"

Xu Cheng duduk kembali. Jiang Huai merangkul bahunya dan berbisik, "Tetaplah di sini dan bersantai sebentar setelah makan malam."

Xu Cheng bergumam setuju dan meletakkan sepotong ikan kod di piring Jiang Xi.

Jiang Huai berkata, "A Xi, apakah kamu kurang makan sayuran hari ini? Xu Cheng, beri dia lebih banyak sayuran, seperti brokoli."

Jiang Xi memegang lengannya dan berkata pelan, "Aku tidak suka brokoli. Jangan dengarkan dia."

Xu Cheng tidak mengambilnya. Jiang Huai tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Setelah makan malam, Xu Cheng mengikutinya ke klub.

Klub Huise terletak di kawasan perkotaan Jiangzhou yang baru dikembangkan, berada di tepi Danau Yanshan, menempati lahan hijau yang luas. Klub ini dibagi menjadi beberapa area bertema: area santai untuk bernyanyi dan bermain kartu, area pijat untuk perawatan kecantikan dan kesehatan, dan juga terhubung dengan lapangan golf keluarga Jiang di sebelahnya.

Acara tersebut berlangsung di area terbesar klub, Taman Fengdan, yang dari luar tampak seperti vila besar bergaya Eropa, tetapi interiornya adalah dunia yang sama sekali berbeda. Ruang tamu memiliki lantai dansa yang luas, sofa dengan berbagai ukuran, dan layar besar di dinding yang berfungsi sebagai layar karaoke. Di sebelah kiri, pagar kaca buram memisahkan area biliar dan dart, sementara di sebelah kanan, deretan lampu gantung yang indah memisahkan area minuman. Di sisi vila yang menuju ke taman, tidak ada dinding, hanya beberapa kolom marmer Romawi. Di luar terdapat kolam renang yang besar. Kursi santai, tempat tidur pijat, dan tempat tidur perawatan ditempatkan di tepi kolam renang.

Saat itu akhir musim gugur, dan kolam renang yang dulunya terbuka kini tertutup atap kaca, air panasnya bergelembung dan bergelombang.

Xu Cheng meliriknya sekilas dan menemani Jiang Xi ke kamar mandi. Kaki palsunya yang baru dipasang tidak pas, menyebabkan rasa sakit. Dia telah menggunakan kruk selama tiga bulan terakhir hingga baru-baru ini ketika Jiang Chenghui setuju untuk membiarkan Jiang Huai membelikannya kaki palsu baru.

Jiang Xi duduk di kursi. Xu Cheng melepas kaki palsunya, memeriksa kakinya, dan mengeluarkan sekotak besar perban dari saku mantelnya, lalu menempelkan beberapa perban pada area yang bergesekan dengan kakinya.

Sejak bersamanya, ia terbiasa membawa perban dan kain kasa, untuk berjaga-jaga jika tangannya sakit karena menggunakan kruk, atau jika ia terjatuh dan kulitnya tergores.

Jiang Xi menatap wajah seriusnya saat ia berlutut di depannya, memeriksa dan memasang perban, lalu menyentuh rambutnya.

Xu Cheng mendongak, "Ada apa?"

Jiang Xi tersenyum, mengerucutkan bibir, dan menggelengkan kepala.

Xu Cheng memasang kembali kaki palsunya dan membantunya keluar.

Tak lama kemudian, di luar menjadi pemandangan pesta pora.

Selain beberapa peserta pesta, ada dua kali lipat lebih banyak wanita cantik berpakaian minim, seperti jaring laba-laba. Jiangzhou tidak memiliki pemanas sentral, tetapi di sini mereka memiliki pendingin udara sentral, udara hangat berhembus kencang, menciptakan suasana panas.

Pasangan bermain biliar, orang-orang minum, bermain permainan minum, berciuman, berenang dan bermain-main di kolam renang, dan menikmati pijat di tepi pantai—pemandangan kemewahan yang berlebihan. Para pelayan, membawa berbagai minuman beralkohol dan makanan ringan, bergerak di antara kerumunan, menawarkan layanan sambil tersenyum, tampaknya tidak terpengaruh oleh pemandangan tersebut.

Xu Cheng membawa Jiang Xi ke sofa di sudut dekat bar dan mengambil dua gelas jus jeruk. Dia menyuruh Jiang Xi duduk di sana, di mana pohon beringin berdaun lebar menghalangi pandangannya, memberinya sedikit ketenangan.

Jiang Xi tidak mendongak, hanya fokus minum jusnya melalui sedotan, merasa sangat gugup dalam suasana seperti ini.

Dia belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya dan sedikit takut.

Xu Cheng tidak sempat menghiburnya ketika dia melihat Jiang Huai mencarinya. Mata mereka bertemu, dan dia melambaikan tangan kepadanya. Xu Cheng memberi tahu Jiang Xi bahwa dia akan datang dan segera kembali.

Jiang Huai memimpin Xu Cheng, menyapa orang-orang di sepanjang jalan, ke sebuah ruangan sudut di lantai pertama. Di dalam, ada sebuah meja dan beberapa kursi, tempat pertemuan sementara.

Puluhan amplop merah berbagai ukuran diletakkan di atas meja. A-Wu duduk di samping dengan pena dan buku kecil merah.

Jiang Huai membuka kancing jasnya, duduk di kursi, dan berkata, "Aku sudah terlalu banyak minum. Bantu aku menghitungnya."

Xu Cheng membuka amplop merah dan membacakan daftar hadiah; A Wu mencatatnya.

"Zhang Shiqi, cek, 500.000; Yu Awei, batangan emas, 2000 gram..."

Setiap angka, jika diambil secara individual, mewakili pendapatan lebih dari satu dekade untuk keluarga Jiangzhou rata-rata pada era itu.

Xu Cheng mengambil sebuah kunci dari salah satu amplop merah. Gantungan kunci itu bertuliskan "Bihu Guangjing," yang menunjukkan kompleks apartemen bertingkat tinggi yang baru dibuka di Jiangzhou, "Bihu Guangjing 12-1601." Kemudian ia mengeluarkan setumpuk cek, batangan emas, perhiasan, dolar AS... dan akhirnya, sebuah kunci mobil.

Bahkan Xu Cheng mengenali mereknya, "Deng Kun, Ferrari."

Jiang Huai tersenyum dan berkata, "Aku akan membiarkanmu mencobanya dulu."

Xu Cheng mendongak, matanya yang gelap sulit dibaca. Ia meletakkan kunci dan berkata, "Aku sibuk berlayar, aku tidak punya waktu untuk mengemudi."

Jiang Huai mengetuk-ngetuk jarinya di meja, mengambil kunci, dan berdiri, "Mobilnya diparkir di luar, coba saja."

Ada pintu di ruangan itu yang langsung menuju ke luar.

Xu Cheng bangkit tetapi tidak mengikutinya, berkata, "Jiang Xi sendirian di dalam. Aku sudah keluar cukup lama."

Jiang Huai terkejut, lalu tertawa, "Kamu benar-benar romantis." Ia menambahkan, "Ini wilayahku, siapa yang berani menyentuhnya? Mereka mencari kematian!"

Xu Cheng menundukkan matanya, seolah setelah bergumul dalam hati, dan berkata, "Satu menit."

Ia membuka pintu dan keluar. Sebuah Ferrari merah terparkir di malam hari. Cahaya bulan dan lampu-lampu bermotif magnolia berkilauan di mobil itu. Jalan di depan membentang jauh di sepanjang halaman bergelombang di klub.

Jiang Huai berdiri di samping dengan tangan bersilang.

Xu Cheng menekan kunci, dan mobil sport itu berbunyi. Ia membuka pintu, masuk, dan mendapati sasis mobil sangat rendah, hampir seperti duduk di tanah. Ia menyesuaikan jok, mengencangkan sabuk pengaman, memegang setir dengan satu tangan, melepaskan rem tangan dengan tangan lainnya, mengganti gigi, dan menatap lurus ke depan sebelum tiba-tiba menginjak pedal gas. Mesin meraung dan bergetar, menyemburkan udara; Ledakan akselerasi yang dahsyat membuat mobil sport itu melesat ke udara, mendorongnya maju seperti cheetah yang melompat keluar dari tanah!

Jiang Huai menyeringai dan berkata kepada A Wu, "Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mengendarai sepeda motor sejak SMP tidak menyukai mobil?"

Sebelum dia selesai berbicara, suara decitan ban memenuhi udara—mobil sport itu, yang telah menempuh jarak lebih dari sepuluh meter, berhenti. Xu Cheng langsung mengganti gigi, melepaskan rem, dan menginjak gas. Mobil sport itu melaju mundur, tergelincir kembali ke kaki Jiang Huai dan berhenti.

Kurang dari sepuluh detik.

Xu Cheng menarik rem tangan, keluar dari mobil, dan berjalan masuk. Melewati mereka, dia melemparkan kunci, sambil berkata, "Ini mobil yang bagus. Aku akan mendapatkannya dengan usaha sendiri."

A Wu dengan cepat menangkap kunci dan menatap Jiang Huai. Jiang Huai tersenyum puas, "Ayo pergi."

Xu Cheng kembali ke dalam ruangan. Setengah gelas jus jeruk tersisa, tetapi Jiang Xi tidak ada di sana. Dia bertanya kepada bartender, yang mengatakan bahwa Jiang Xi telah pergi ke tangga.

Xu Cheng mendorong pintu tangga hingga terbuka. Jiang Xi bersandar di dinding, menatap kosong ke arah rak bunga di luar jendela. Mendengar pintu terbuka, dia berbalik, melihatnya, dan memberinya senyum lembut, tetapi jelas dia tidak senang.

"Apa yang Gege-ku ingin kamu lakukan?"

"Untuk mencoba hadiahnya," Xu Cheng meraih tangannya dan dengan lembut mengusap telapak tangannya. Pendingin udara di lorong itu lemah, dan tangannya sedikit dingin. Dia menggenggam tangan kecilnya dan bertanya, "Mengapa kamu datang ke sini sendirian?"

Dia menundukkan kepala, tampak sedih tanpa alasan, dan berkata, "Aku tidak suka di sini. Aku ingin kembali." Kemudian, dengan khawatir, dia menambahkan, "Bukannya kamu juga tidak ingin datang?"

"Tidak. Dia kakakmu, jadi tentu saja aku harus datang. Bukankah itu wajar?"

"Kenapa?"

"Ini ulang tahun keluarga pacarku," ia membujuknya dengan kata-kata yang sudah disiapkan.

Jiang Xi tersenyum, sedikit malu, matanya berkaca-kaca saat menatapnya.

Xu Cheng mendekat padanya, "Kalau begitu, bukankah seharusnya kamu memberiku hadiah?"

Pipinya sedikit memerah. Jiang Xi menengadahkan kepalanya dan dengan lembut mencium pipinya. 

Xu Cheng dengan sabar menunggu sampai Jiang Xi mencium pipinya, lalu dengan lembut mencubit dagunya dan mencium bibirnya. Jiang Xi berjinjit, melingkarkan lengannya di lehernya, dan membalas ciumannya dengan sepenuh hati. Sepertinya hanya bibir lembutnya dan aroma yang familiar yang dapat menenangkan keanehan dan kekacauan sepanjang malam itu.

Ia menciumnya, satu kakinya tergelincir dan jatuh; ia mengangkatnya dari pinggang dan menempatkannya di atas lemari hias di dekatnya. Jantungnya berdebar, erangan lembut keluar dari tenggorokannya, tetapi ia tidak melepaskannya, dengan canggung menghisap dan menggigit bibirnya.

Ia menciumnya, merasakan aroma lembut dan manisnya, ciumannya berpindah dari bibirnya ke pipinya, telinganya, menggoda ujung cuping telinganya. Hatinya meleleh, ia membuka matanya dengan samar, hanya untuk melihat sekilas seseorang berdiri di tangga lantai dua. Terkejut, ia tersentak dan segera bersembunyi di pelukannya, menyembunyikan kepalanya.

Xu Cheng segera menutupi kepalanya dengan lengannya, berbalik, dan matanya langsung menjadi dingin. Seorang pelayan berjas berdiri di lantai dua.

Setelah mengenalinya, Xu Cheng berhenti sejenak, "Qiu Sicheng?"

Qiu Sicheng tersenyum, "Xu Cheng, sudah lama tidak bertemu."

Jiang Xi mengintip dari pelukannya, melirik Qiu Sicheng, lalu segera mundur. Xu Cheng perlahan berbalik, karena tahu Jiang Xi pemalu, jadi ia menyembunyikan sosoknya sepenuhnya bahkan saat berbalik.

"Kamu di sini..."

"Di tempat kerja. Aku menjadi asisten manajer toko. Bagaimana denganmu?"

"Sedang jalan-jalan dengan pacarku."

Qiu Sicheng menoleh ke belakang dan berkata, "Kamu adik bos muda, kan? Aku pernah bertemu denganmu sebelumnya."

Jiang Xi mengintip dari balik Xu Cheng. Qiu Sicheng dengan sopan berkata, "Aku belum sempat berterima kasih atas apa yang terjadi sebelumnya."

Jiang Xi tampak bingung. Qiu Sicheng langsung mengerti; dia tidak mengingatnya. Dia melirik bibirnya, yang terlihat merah dan bengkak karena ciuman penuh gairah, dan tangan putih rampingnya yang erat menggenggam pinggang Xu Cheng, lalu berkata, "Aku harus pergi sekarang. Nomor teleponmu belum berubah, kan? Aku akan menghubungimu lain hari."

Xu Cheng mengangguk.

Setelah Qiu Sicheng pergi, Xu Cheng mengangkat Jiang Xi dari meja dan bertanya, "Apakah kalian pernah bertemu sebelumnya?"

"Entahlah. Mungkin dia salah mengira aku orang lain."

Keduanya mengucapkan selamat tinggal kepada Jiang Huai dan pergi. Jiang Huai berbicara beberapa patah kata kepada Jiang Xi secara pribadi.

Jiang Xi berlari dengan gembira menuju Xu Cheng. Saat mendekatinya, matanya bersinar terang, "Gege bilang Ayah setuju. Kalau aku mau tinggal di kapal, aku bisa."

Xu Cheng terkejut.

Dia terlalu naif; dia tidak tahu apa artinya ini.

(emang apa artinya anak muda. Krik…krik…krik… Hahaha)

***

BAB 25

Hampir tiga bulan kemudian, Jiang Xi kembali bermalam di perahu, merasa gembira dan bahagia.

Cuacanya dingin, dan dia tidak bisa tidur di sofa. Xu Cheng membawa dua selimut; yang lebih tebal adalah yang sedang dia gunakan untuk tidur.

Jiang Xi terkekeh begitu dia masuk ke bawah selimut. Xu Cheng memperhatikan dan bertanya, "Ada apa?"

"Kamu tidur di selimut ini; baunya seperti dirimu."

"Hidungmu bau sekali! Aku baru menggantinya minggu lalu."

Dia dengan gembira menjelaskan, "Baunya enak sekali, aku suka."

Dia menepisnya, "Baunya? Kamu berhalusinasi."

"Benar!" ia protes, berguling-guling di atas selimut, membiarkan aroma yang menyenangkan menyelimutinya, merasa nyaman dan tenang.

Xu Cheng berpikir ia tampak seperti ulat, agak lucu; tiba-tiba, sebuah pikiran nakal terlintas di benaknya, dan ia melompat ke tempat tidur, menyelipkan tangannya di bawah selimut untuk menggelitiknya.

"Ah—" Ia geli, merintih dan menggeliat, "Ya—Xu Cheng—ah—"

Ia entah kenapa menyukai keceriaan dan tawanya saat ini, menyukai napasnya yang cepat dan terengah-engah saat ia memanggilnya Xu Cheng berulang kali, seperti permohonan, seperti permohonan belas kasihan, namun penuh dengan kegembiraan dan kepolosan, membuat hatinya gatal dan darahnya mendidih. Ia terpikat, tidak ingin melepaskannya dengan mudah, merasakan tubuh kecilnya yang hangat di bawah selimut seperti ikan yang licin dan lentur yang menggeliat.

"Ah—aku tak tahan lagi—Xu Cheng—" ia meraih pergelangan tangannya, tertawa dan berteriak bersamaan, "Aku benar-benar tak tahan lagi—Xu Cheng—ah—"

Xu Cheng melonggarkan cengkeramannya, melepaskannya; pipi Jiang Xi memerah, rambutnya acak-acakan, ia bernapas lemah, mata hitam putihnya yang jernih berkilauan dengan air mata saat ia menatapnya.

Xu Cheng juga menatapnya, pupil matanya yang gelap menyempit, pikirannya tak terbaca. Ia mengelus rambut di pelipisnya, lalu menundukkan kepalanya ke bibirnya.

Jiang Xi dengan patuh menutup matanya, bibir merah mudanya sedikit terbuka, menyambut sentuhannya.

Pada saat itu, Xu Cheng merasakan gelombang dorongan yang kuat, hasrat primal yang tak terkendali di dalam dirinya yang mendesaknya untuk menyingkirkan selimut, menelanjangi tubuhnya, dan melakukan segala yang bisa dan ingin ia lakukan padanya.

Ia sejenak menjadi waspada, pikirannya melayang, tetapi akhirnya ia hanya menahan diri, dengan lembut menyentuh bibirnya, tanpa gerakan lebih lanjut. Bibir mereka bersentuhan lembut, napas mereka bercampur, seolah-olah membuat semacam perjanjian.

Di luar rumah perahu, Sungai Yangtze dengan lembut membasuh dermaga, dan perahu-perahu kargo kecil bergoyang perlahan; di dalam, lampu pijar berputar perlahan. Lampu-lampu perahu malam yang lewat berkedip melalui jendela-jendela bundar kecil.

Malam yang tenang dan damai di tepi sungai.

Hingga napas Jiang Xi yang cepat perlahan mereda, Xu Cheng melepaskannya dan mencium tahi lalat kecil di sudut matanya. Dia selalu suka mencium tanda kecantikan kecil itu; itu sudah menjadi kebiasaan.

Namun, Jiang Xi melebarkan matanya, terkejut.

"Ada apa?"

"Ada sesuatu yang sangat keras di tempat tidur!"

Kulit kepala Xu Cheng langsung merinding. Karena penasaran, Jiang Xi segera mengangkat selimut untuk mencoba meraihnya.

Xu Cheng menekan tangannya, menahan diri, "Telepon. Aku akan mengambilnya."

"Itu bukan telepon, itu besar sekali. Dan sangat panjang—ooh—"

(Apa tuhhhh??? Wkwkwkwk)

Xu Cheng segera membungkamnya dengan sebuah ciuman, jantungnya berdebar kencang di telinganya.

Setelah akhirnya berhasil menipunya, pikiran Xu Cheng masih terasa mati rasa. Dia mematikan lampu dan berbaring di selimutnya sendiri.

Dalam kegelapan, ia dengan paksa menekan pikiran-pikiran yang mengembara, berniat untuk tertidur; Jiang Xi memanggil dengan lembut, "Xu Cheng?"

"Hmm?"

Ia berbisik, "Aku merasa sedikit kedinginan, selimutnya terlalu tipis."

Ia tahu apa yang direncanakan Jiang Xi dari suaranya, bahkan tanpa membuka matanya, "Apakah aku harus mengantarmu pulang untuk tidur?"

"...Oh, aku baru menyadari, selimutnya tidak terbungkus rapi. Aku tidak kedinginan lagi, hehe."

Xu Cheng tersenyum di malam hari. Sesaat kemudian, ia merasakan hembusan angin di selimut di bawah kakinya. Lalu, sebuah kaki lembut yang agak dingin menyelip dan menggelitik betisnya. Terasa sedikit gatal, jadi ia segera menarik kakinya.

Xu Cheng membuka matanya. Ruangan itu remang-remang, dan ada bintang-bintang di langit melalui jendela bundar kecil. Wajah Jiang Xi pucat, dan bulu matanya yang terpejam rapat sedikit bergetar.

Xu Cheng menatapnya lama, lalu menutup matanya; hanya setelah selusin detik, kaki kecilnya terulur lagi, menggaruk betisnya, lalu ditarik kembali.

"Jiang Xi," panggilnya, suaranya bernada peringatan. Ia tetap menutup matanya rapat-rapat, berpura-pura tidur.

Xu Cheng kembali memejamkan matanya, menunggu wanita itu mengganggunya dengan kakinya sekali lagi. Tiba-tiba, dia menarik selimut wanita itu, menyeretnya sepenuhnya ke dalam selimutnya sendiri, dan membungkusnya erat-erat. Wanita itu tersentak, matanya sedikit melebar, bersinar gelap di malam hari.

Kelopak matanya setengah tertutup, suaranya lesu, "Bisakah kita akhirnya tidur sekarang?"

"Mmm."

Dia menariknya ke dalam pelukannya, betisnya memegang kakinya yang agak dingin: "Apakah kamu kedinginan?"

"Mmm," Ia meringkuk dalam pelukan hangatnya, menemukan posisi yang nyaman, dan bergumam bahagia, "Xu Cheng, kamu sangat hangat, aku sama sekali tidak kedinginan."

Dia akhirnya bisa tidur nyenyak, tetapi dia sudah kehilangan harapan.

*** 

Setelah musim dingin tiba, itu adalah musim sepi untuk transportasi air. Permukaan air surut, memperlihatkan hamparan lumpur yang luas di kedua tepian sungai.

Jiangzhou lembap dan dingin, hawa dingin menusuk hingga ke tulang; ditambah dengan angin sungai yang lembap dan dingin, kehidupan di sungai seperti tinggal di dalam lemari es dengan puluhan alat pelembap udara besar yang beroperasi.

Xu Cheng, muda dan bersemangat, memiliki tubuh sepanas tungku. Di malam hari, keduanya berpelukan dalam satu selimut, dan Jiang Xi merasa sangat hangat. Tetapi begitu bangun dari tempat tidur, kelembapan dan hawa dingin meresap ke mana-mana. Jiang Xi sangat sensitif terhadap dingin, namun ia menolak untuk dipisahkan dari Xu Cheng. Akhirnya, keduanya pindah kembali ke rumah keluarga Jiang.

Saat itu, Xu Cheng sudah mulai bekerja untuk Jiang Huai, dan penampilannya telah berubah total. Ia selalu berpakaian rapi dengan setelan jas, kemeja, sepatu kulit, mantel dan jas hujan buatan Italia, syal kasmir, jam tangan bertatahkan berlian, dan mobil mewah...

Ia sudah tampan, dengan bahu lebar, pinggang ramping, dan kaki panjang lurus; bahkan pakaian termahal pun tampak bagus padanya. Mata gelapnya yang dalam menambah ketenangan dan sikapnya yang terkendali, membuatnya tampak empat atau lima tahun lebih tua.

Xu Cheng cerdas, cepat tanggap, dan berpikiran tajam. Ia belajar dengan cepat, jeli tetapi pendiam, dan memiliki tindakan dan respons yang luar biasa. Lebih jauh lagi, ia murah hati, tidak korup, dan tidak tunduk pada atasan maupun sombong kepada bawahan, menjadikannya mitra yang diinginkan oleh semua orang.

Saudara-saudara Jiang dengan cepat menyadari bahwa mereka tidak salah menilai dirinya; ia bahkan lebih berguna daripada yang mereka duga. Beberapa kali selama negosiasi bisnis, situasi tak terduga muncul, dan wawasan tajam serta tindakan cepatnya menyelesaikan semuanya.

Xu Cheng dengan cepat menguasai operasi dan urusan bisnis keluarga Jiang.

Di tahun-tahun awalnya, Jiang Chenghui dan Jiang Chengguang, bersama sekelompok sepupu dan saudara angkat, memulai bisnis mereka dengan panti pijat dan tempat bermain game. Dalam peraturan yang longgar di tahun 1990-an, Jiang Chenghui memiliki koneksi di dunia legal maupun kriminal, dan berkembang pesat di industri tersebut. Ia secara bertahap memonopoli pasar gelap di Jiangzhou. Sekitar pergantian milenium, ia menggunakan modal yang telah dikumpulkannya untuk berinvestasi di bisnis legal, termasuk hotel, resor, logistik, rekreasi dan hiburan, serta pengembangan real estat, dan meraih kesuksesan besar. Kini, dengan perkembangan Kawasan Baru Jiangzhou, ia telah berinvestasi besar-besaran.

Xu Cheng, mengikuti Jiang Huai, terutama berpartisipasi dalam urusan bisnis ini, membantu Jiang Huai dalam jamuan makan, pertemuan, dan interaksi sosial.

Semua ini adalah informasi yang diketahui. Dalam dua bulan pertama, Xu Cheng tidak banyak berhubungan dengan transaksi gelap; bahkan jamuan makan atau pemberian hadiah yang sesekali dianggap melanggar aturan adalah praktik bisnis yang umum. Dari sudut pandang Li Zhiqu, hal itu tidak relevan.

Yang dicurigai Li Zhiqu dan Fang Xinping adalah bahwa keluarga Jiang tidak secara terang-terangan melakukan transformasi dan pencucian uang, melainkan secara diam-diam melanjutkan aktivitas ilegal, menggunakan bisnis yang disebut sah untuk mencuci uang dan dengan mudah mengumpulkan kekayaan yang besar.

Setelah dengan cepat memahami proses operasional bisnis keluarga Jiang yang terang-terangan—seperti penetapan harga, lalu lintas pelanggan, volume pelabuhan, investasi dan pendapatan real estat, dan berbagai pengeluaran—Xu Cheng menyadari bahwa operasi bisnis yang sah saja tidak dapat menghasilkan kekayaan keluarga Jiang yang sangat besar.

Lima tahun lalu, selama penertiban prostitusi, Fang Xinping menangkap beberapa orang yang melanggar peraturan di cabang panti pijat milik keluarga Jiang, tetapi orang yang terlibat bersikeras bahwa itu adalah tindakan individu. Insiden terburuk hanya menimpa manajer cabang, yang dijatuhi hukuman lima tahun. Ia berperilaku baik dan dibebaskan kurang dari tiga tahun kemudian. Ia kemudian menghabiskan kekayaannya untuk berjudi di Makau dan hidup mewah sejak saat itu.

Setelah milenium, tempat permainan arcade milik keluarga Jiang yang dikelola publik menghilangkan mesin slot judi, hanya menyisakan permainan taruhan rendah seperti mesin dorong koin dan permainan memancing. Namun, pada saat yang sama, sejumlah tempat judi bawah tanah dengan pemilik yang tidak dikenal muncul. Mereka yang kehilangan segalanya dan tidak dapat membayar hutang mereka, keluarga mereka terus menerus menyetorkan uang ke klub hiburan keluarga Jiang.

Tiga tahun lalu, Fang Xinping menggerebek sebuah tempat judi yang dibangun di ruang bawah tanah sebuah pabrik kapas yang terbengkalai. Permainan di dalamnya sangat beragam. Selain mesin slot, ada permainan seperti Texas Hold'em dan poker; permainan bankir termasuk baccarat dan blackjack; bahkan ada tempat taruhan yang disinkronkan dengan lotere Hong Kong dan Makamu . Ternyata "pemiliknya" adalah seorang pria yang pernah bekerja sebagai sopir untuk keluarga Jiang pada tahun 1990-an dan kemudian menjalankan supermarket kecil. Dia dan lima atau enam orang penting lainnya dibawa ke pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara antara sepuluh hingga dua puluh tahun. Keluarga mereka pindah ke kota-kota besar dan tinggal di rumah-rumah mewah.

Informasi tersebut diberikan oleh dua pelanggan tetap yang telah menghabiskan semua uang mereka untuk berjudi di sana. Mereka secara proaktif menghubungi Fang Xinping untuk melaporkan mereka, menuntut imbalan. Setelah itu, Fang Xinping menyarankan mereka untuk bersembunyi. Kedua orang itu kembali setelah setahun bersembunyi. Salah satunya secara tidak sengaja jatuh dari gedung; yang lainnya ditikam hingga tewas kurang dari dua puluh meter dari rumahnya saat membuang sampah di malam hari. Pembunuhnya tidak pernah ditemukan.

Adapun dana yang mengalir melalui daerah tersebut, semuanya masuk ke rekening di Hong Kong, Makamu , dan luar negeri. Setelah kejadian itu, rekening-rekening tersebut segera ditutup, dan keberadaannya tidak dapat dilacak.

Xu Cheng menduga bahwa Deng Kun adalah kontak keluarga Jiang di luar negeri, tetapi belum ada bukti.

Saat ini, urusan-urusan penting keluarga Jiang masih ditangani oleh saudara Jiang Chenghui dan Jiang Chengguang. Jiang Chenghui juga sesekali membahas pekerjaan secara pribadi dengan Jiang Huai. Xu Cheng tidak memiliki akses ke bagian ini.

Setiap hari, ia menjalani kehidupan penuh kepura-puraan: tampil terhormat, sering mengunjungi tempat-tempat mewah, melakukan negosiasi bisnis, memeriksa perusahaan, dan menghadiri rapat. Di malam hari, tempat itu berubah menjadi pemandangan pesta pora, surga nafsu birahi yang sesungguhnya. Pria-pria paruh baya yang miskin menyanyikan lagu-lagu cinta dengan wanita-wanita muda berkaos tanpa lengan dan celana ketat. Botol-botol minuman keras mahal, seharga ribuan dolar, tumpah dari gelas mereka, cairan berwarna kuning keemasan memercik ke dada pria dan wanita di tengah tawa dan pesta pora.

Xu Cheng dibombardir oleh berbagai kata, nilai, dan gambaran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan belum pernah terdengar, terkadang merasa bingung, tidak yakin dengan logika dunia. Ia bertanya-tanya akan menjadi apa dirinya, apakah ia bahkan akan mengenali dirinya sendiri setelah misinya selesai.

Para pelayan wanita masuk, sosok mereka anggun, mengisi ulang botol dan membersihkan gelas-gelas kosong. Ia mengambil gelas, menyesapnya, dan tak kuasa mencemooh dirinya sendiri, "Kamu tahu," pikirnya, "Minuman keras ini, seharga ribuan dolar per botol, sungguh enak."

Xu Cheng meletakkan kembali gelas anggurnya. Seorang pelayan di dekatnya, yang sedang membersihkan piring, tanpa sengaja menyenggol tangannya, sehingga anggur dari gelasnya tumpah.

Gadis itu buru-buru meminta maaf, dengan tergesa-gesa mengambil tisu untuk menyeka noda anggur di meja kopi. Wajah pengawas mengeras, "Pekerjaan macam apa ini? Ceroboh sekali! Nanti kamu dihukum!"

Gadis itu, gemetar, terus meminta maaf sambil menyeka meja kopi.

Xu Cheng berkata kepada pengawas, "Ini salahku, aku tidak sengaja menyenggolnya, tolong jangan hukum dia."

Pengawas terkejut. Dia jelas melihat semuanya, tetapi karena dia sudah berbicara, dia secara alami mengikuti perintahnya, tersenyum dan berkata, "Begitukah?" Kemudian dia mengerutkan kening pada gadis itu, "Mengapa kamu menyeka meja? Tidakkah kamu lihat tangan pria itu berlumuran anggur?"

Gadis itu dengan cepat menawarkan tisu kepada Xu Cheng untuk menyeka tangannya.

"Tidak perlu," Xu Cheng dengan cepat menghindar, mengambil tisu, dan dengan cepat menyeka lengan baju dan telapak tangannya hingga bersih. Gadis itu buru-buru menggosokkan tangannya pada manset bajunya. Dia berkata, "Oke, sudah bersih." Kemudian dia menarik tangannya kembali.

Gadis itu berbisik, "Terima kasih." 

Xu Cheng meliriknya; dia adalah wanita yang sangat cantik. Saat dia berdiri, gaun mini ketatnya yang berleher halter menonjolkan lekuk tubuhnya.

Jiang Huai, yang telah menyaksikan semuanya, mencondongkan tubuh dan bertanya, "Kamu tertarik pada seseorang?"

Xu Cheng mengangkat alisnya sedikit terkejut. Jiang Huai berbicara kepada gadis itu, sambil meng gesturing dengan dagunya ke arah sisi Xu Cheng, "Duduk di sini."

Gadis itu bergoyang menggoda untuk duduk di samping Xu Cheng, roknya sangat pendek sehingga memperlihatkan segalanya, dan menempelkan dirinya ke lengannya. Ruangan itu terasa hangat, dan Xu Cheng telah melepas mantel dan sweater kasmirnya, hanya menyisakan kemeja; tubuhnya yang lembut dan bulat menempel di lengannya.

Nada bicara Xu Cheng masih sopan saat ia berkata, "Xiaojie, bisakah Anda bangun?"

Gadis itu mengedipkan matanya yang besar, menatap Jiang Huai untuk meminta instruksi.

Jiang Huai berkata, "Untuk apa kamu bangun? Xu Cheng, aku akan kembali sedikit lebih siang nanti, tidak apa-apa."

Xu Cheng menatap gadis itu, senyumnya hampir tak terlihat, "Aku ada urusan dengan bos muda, tidak nyaman bagimu untuk berada di sini."

Gadis itu terus menatap Jiang Huai. Baru setelah ia mengangguk, gadis itu merapikan rok pendeknya dan bangun untuk pergi.

Setelah gadis itu pergi, nada bicara Xu Cheng sedikit dingin, "Apa yang kamu lakukan?"

"Kupikir kamu ingin suasana yang berbeda," tatapan Jiang Huai mengikuti gadis itu—wajah cantik, dada 34E, pinggang ramping, pinggul bulat, benar-benar mempesona.

Nada bicara Xu Cheng tenang, tanpa menunjukkan emosi, "Apakah kamu sedang mengujiku?"

Jiang Huai meneguk anggurnya, "Mengujimu untuk apa?"

"Menguji perasaanku pada Jiang Xi."

Jiang Huai menyembunyikan keterkejutannya yang sekilas di wajahnya dan tersenyum, berkata, "Kita berdua laki-laki, aku mengerti. Tidak peduli perempuan seperti apa, setelah beberapa saat, kamu akan bosan dengannya. Laki-laki mana yang tidak menginginkan sesuatu yang baru?"

Xu Cheng mengambil gelas anggurnya dan menyesap perlahan, terlalu malas untuk memperhatikan kata-katanya yang tidak tulus, hanya memberikan senyum asal-asalan, "Benarkah?"

Jiang Huai tersedak. Cahaya warna-warni yang redup di ruangan itu menyinari kepala Xu Cheng, membuat matanya tampak sulit dipahami.

Jiang Huai tahu dia lebih suka pendekatan langsung, jadi dia tidak bertele-tele dan bertanya, "Bagaimana hubunganmu dengan A Xi akhir-akhir ini?"

Kali ini, Xu Cheng menoleh, ekspresinya serius, "Bagaimana hubunganmu dengan apa?"

"Hubungan kami."

Dua bulan terakhir ini, Xu Cheng sangat sibuk, dengan terlalu banyak hal yang harus dipelajari dan dilakukan, dan dia hampir tidak punya waktu untuk bersama A Xi. Mereka hanya bisa bertemu di pagi hari dan sebelum tidur. Dia menunggunya pulang setiap hari untuk tidur bersama. Terkadang dia pulang larut malam, dan meskipun Jiang Xi kelelahan, dia akan menunggunya, menguap begitu banyak selama makan camilan larut malam mereka sehingga dia bisa memasukkan semangka ke dalam mulutnya.

Jika suasana hatinya sedang baik, dia akan mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk mulutnya berulang kali dengan lembut saat dia menguap, membuat gadis itu mengeluarkan suara "ah-wah-wah-wah-wah". Gadis itu akan langsung merasa geli dan menatapnya dengan alis halusnya yang berkerut. Jika dia terus tertawa, gadis itu akan menerkamnya dan menggelitiknya.

Tapi... sebagian besar waktu dia tidak dalam suasana hati yang baik dan jarang berbicara dengannya.

Jiang Xi telah bertanya kepadanya—dia memperhatikan bahwa Xu Cheng tampak tidak bahagia. Xu Cheng menutupinya, mengatakan bahwa dia bukannya tidak bahagia, hanya terlalu lelah. Kemudian dia bertanya apakah ayah dan Gege-nya telah memaksanya melakukan hal-hal yang tidak disukainya; dia juga tidak ingin Xu Cheng terlibat dalam urusan keluarga Jiang. Xu Cheng masih mengelak, mengatakan bahwa apa yang dia lakukan adalah bisnis yang sah, tidak ada yang salah dengan itu. Selain itu, dia tidak bisa bergantung pada perahu itu selamanya, membuat Jiang Xi menderita; dia ingin lebih mampu berada di sisinya. Setelah kata-kata yang muluk-muluk itu, Jiang Xi tidak berani membahasnya lagi.

***

Namun Xu Cheng tidak menyangka Jiang Xi akan berbagi perasaan ini dengan Jiang Huai.

Xu Cheng bertanya, "Apakah dia tidak senang? Apa yang dia katakan padamu?"

"Tidak. Aku hanya bertanya. Dia tidak mengatakan hal buruk tentangmu. Tapi aku ingin bertanya sesuatu."

"Dia baik-baik saja," kata Xu Cheng, "Akan lebih baik lagi jika kamu berhenti mengajakku ke tempat-tempat ini dan membiarkanku pulang kerja lebih awal."

Jiang Huai terdiam, lalu terkekeh dan menawarinya sebatang rokok.

Xu Cheng berkata, "Jiang Xi tidak suka bau rokok."

Suatu kali, dia tidak bisa menolak rokok yang ditawarkan oleh rekan bisnisnya di meja makan, dan ketika sampai di rumah, Jiang Xi mengatakan baunya menyengat.

"Dia hanya bersikap mesra padamu. Aku tidak melihatnya mengatakan apa pun ketika aku merokok di rumah," Jiang Huai terkekeh, menyalakan rokok tetapi tidak melanjutkan membujuknya, "Hubungan kalian sangat baik, mengapa kalian tidak menikah tahun depan?"

Xu Cheng terdiam, "Kami berdua masih di bawah umur."

"Kalian bisa bertunangan dulu, atau mengadakan pesta pernikahan besar. Di Jiangzhou, pesta dan tamu sama saja dengan menikah. Kalian bisa punya anak nanti. Akta nikah hanyalah selembar kertas; kalian bisa mendapatkannya saat sudah mencapai usia dewasa."

Punya anak? Dia sendiri masih anak-anak.

Meskipun Jiang Xi memiliki tinggi 168 cm, ia bertubuh kecil. Setelah mandi, ia mengangkatnya keluar dari kamar mandi, dan di cermin, Jiang Xi tampak lebih kecil darinya. Ia masih remaja, dan meskipun bertubuh tegap, ia kurus dan ramping, belum mencapai usia di mana ia memiliki fisik yang kekar. Meskipun begitu, ia tetap lebih besar darinya.

Xu Cheng berpikir samar-samar, dia pasti sangat kesakitan.

Lagipula, semua ini terasa sangat tidak masuk akal baginya.

Pernikahan... bagaimana mungkin...

Sejak bergabung dengan keluarga Jiang, Xu Cheng sengaja menghindari meneliti hubungannya dengan Jiang Xi.

Dia mencuci otaknya sendiri, mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak memiliki perasaan romantis padanya. Ia akan menganggapnya sebagai anggota kru, seorang teman, adik perempuan, seorang pendamping.

Ada rasa bersalah, dan ada rasa sakit hati.

Ia sama sekali tidak punya waktu untuk memikirkan hubungan mereka.

Setiap hari, ia menyaksikan banjir kenikmatan sensual, melihat bagaimana, di hadapan uang dan kelas sosial, orang-orang seperti mayat hidup, tanpa martabat, diinjak-injak. Ia merasa hampa. Apa yang disebut hubungan dan perasaan antar manusia menjadi tidak relevan, sebuah lelucon.

Terlebih lagi, ia harus selalu waspada, merekam dan mengingatkan segala sesuatu di sekitarnya; pikirannya selalu siaga.

***

Malam itu, ketika ia pulang, A Wen mengatakan Jiang Xi ada di studio.

Xu Cheng pergi mencarinya, hanya untuk menemukan bahwa ia tertidur di sofa empuk. Lukisan minyak di atas kuda-kuda lukisan belum selesai; itu adalah potret dirinya.

Xu Cheng dengan lembut mengangkatnya. Ia melingkarkan lengannya di lehernya dan bertanya dengan mengantuk, "Ada anggur manis untuk makan malam, apakah kamu mau? Aku akan menemanimu."

Ia berbisik, "Tidak, ayo tidur. Kamu tidurlah."

Kemudian ia tertidur dengan tenang.

Malam itu, Xu Cheng memeluk Jiang Xi, dan tidak bisa tidur untuk waktu yang lama.

Kamar Jiang Xi sangat hangat, dan tempat tidurnya besar dan empuk, tetapi ia tetap tidak menyukai tempat ini. Selain Gedung Utara tempat Jiang Chenghui tinggal, yang selalu dijaga; tempat ini terlalu besar, terlalu banyak orang yang tidak penting, semuanya dengan nyaman menikmati kekayaan mereka, sombong dan angkuh. Dan melihat dengan jelas betapa banyak daging dan darah yang menjadi dasar bangunan besar ini membuatnya semakin jijik dan muak.

Di sisi lain, studionya, yang menghadap hutan hijau yang luas, tempat yang tidak dikunjungi siapa pun, membuatnya sedikit rileks.

Tetapi bukankah studionya juga bagian dari keluarga Jiang?

Xu Cheng mengerti bahwa malam ini, Jiang Huai memang sedang mengujinya, tetapi bukan menguji apa yang disebut perasaannya. Atau lebih tepatnya, itu bukan ujian, melainkan tuntutan sumpah setia—sampai hari ini, Xu Cheng tidak melakukan kesalahan, pelanggaran, atau tindakan ilegal di hadapannya; Xu Cheng tidak meninggalkan pengaruh apa pun atas dirinya.

Ia pasti akan berkonflik dengan Jiang Huai cepat atau lambat.

Xu Cheng menarik Jiang Xi yang sedang tidur lebih dekat, membenamkan wajahnya di lehernya. Saat ini, di rumah besar, mewah, namun dingin ini, mungkin hanya aroma bersihnya yang bisa memberinya kedamaian.

Namun setelah ketenangan itu, sebuah suara tiba-tiba bertanya dalam benaknya: Apakah ini hanya imajinasinya?

Ya, ia tahu Jiang Xi tidak bersalah, jadi pikiran bahwa apa yang ia lakukan, dan apa yang akan ia lakukan, pasti akan menyakitinya membuatnya dipenuhi rasa bersalah dan gejolak batin.

Namun ia juga dengan jelas mengatakan pada dirinya sendiri: Jiang Xi tidak terpisahkan dari keluarga Jiang; ia memang telah menerima dukungan mereka.

Segala sesuatu yang telah ia dapatkan hingga hari ini, semua nutrisi yang ia terima, berasal dari keluarga Jiang. Uang yang diperoleh dari kanibalisme digunakan untuk membeli makanan mewah, pakaian, tempat tinggal, dan transportasi—semuanya untuk kenikmatan bersama seluruh keluarga Jiang di rumah besar ini.

Satu saat ia melihat kamar Jiang Xi yanag mewah dan seperti kamar seorang putri, saat berikutnya ia melihat seorang gadis yang direduksi menjadi "putri" di kamar pribadi untuk melunasi hutang keluarganya. Bukankah itu ironis?

Apa yang telah dilihat dan didengar Xu Cheng selama beberapa bulan terakhir telah menghancurkan pandangan dunianya, dan kebenciannya terhadap keluarga Jiang semakin kuat setiap harinya.

Ketika tiba saatnya ia dan Jiang Huai berada di pihak yang berlawanan, Jiang Xi, pihak mana yang akhirnya akan kamu pilih?

 

BAB 26

Konflik antara Xu Cheng dan Jiang Huai terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.

Festival Musim Semi tahun 2005 datang lebih lambat dari biasanya. Keluarga Jiang sangat menghargai Festival Musim Semi; ayah Jiang Chenghui dan Jiang Chengguang yang sudah lanjut usia masih hidup, dan setiap tahun seluruh keluarga akan berkumpul untuk makan malam reuni, sebuah acara meriah dengan puluhan orang.

Jiang Huai menyebutkan kepada Xu Cheng bahwa ia ingin menghabiskan malam Tahun Baru di rumah mereka, tetapi Xu Cheng mengatakan ia ingin begadang di rumah bibinya. Jiang Huai tidak bersikeras. Namun, Xu Cheng diam-diam membuat janji dengan Jiang Xi untuk membawanya ke tepi sungai untuk menyalakan kembang api pada malam Tahun Baru.

Jiangzhou adalah tempat kecil, dan begitu Desember tiba, orang-orang mulai menantikan festival-festival tersebut.

Pada malam hari kedelapan bulan kedua belas kalender lunar, keluarga Jiang mengadakan makan malam keluarga. Xu Cheng tidak ikut; ia pulang untuk makan malam bersama bibinya, kemudian berganti pakaian olahraga dan berlari di tepi sungai. Sungai itu gelap gulita; ia berlari di sepanjang tepi sungai yang remang-remang di bawah lampu jalan menuju Galangan Kapal Jembatan Liangxi yang terbengkalai. Selain bangunan pabrik yang bobrok dan derek gantry, tidak ada seorang pun di sekitar. Ia terus berlari menuju hutan pohon kamper, di mana ia bertemu dengan Li Zhiqu, yang juga sedang jogging di malam hari.

Selain Xu Cheng, Li Zhiqu memiliki banyak informan lain, termasuk mereka yang ditinggalkan oleh Fang Xinping. Ia secara teratur berbagi informasi dengan semua orang untuk memfasilitasi kerja sama. Sebelumnya, setelah berbagi sejumlah besar petunjuk yang diperoleh Xu Cheng dengan orang lain, beberapa informan menggunakan ini sebagai titik awal untuk menggali lebih dalam dan mengungkap informasi yang dapat diandalkan: keluarga Jiang memiliki buku besar penting yang mencatat arus kas masuk dan keluar dari rekening di Hong Kong, Makau, dan luar negeri. Memperoleh buku besar ini akan memberikan bukti penting. Namun, lokasi buku besar tersebut saat ini tidak diketahui; hanya kata kunci seperti "kunci" yang disebutkan.

Xu Cheng telah menangani banyak buku besar, tetapi semuanya menunjukkan pendapatan normal; ia belum pernah mendengar tentang buku besar ini sebelumnya dan mengatakan akan mengawasinya. Kemudian ia bertanya apakah Li Zhiqu memperhatikan Deng Kun.

Li Zhiqu mengatakan bahwa Deng Kun memegang paspor asing dan tinggal di Makamu sepanjang tahun; saat ini, belum ada bukti konklusif untuk mendukung penyelidikan bersama di berbagai lokasi. Fang Xinping juga sebelumnya mencurigai bahwa Deng Kun membantu keluarga Jiang dalam pembukuan mereka. Jika keluarga Jiang ditangkap, dan kita memiliki bukti yang tak terbantahkan, maka menindaklanjuti penyelidikan Deng Kun kemungkinan dapat membantu polisi di kota-kota sekitarnya untuk menindak kekuatan lokal serupa.

***

"Bagaimana keadaan keluarga Jiang?"

Xu Cheng, sambil berlari, berbicara tanpa terengah-engah, "Aku telah menemukan banyak hal. Meskipun kita belum mencapai titik krusial, semakin aku mengerti, semakin baik aku memahami situasi secara keseluruhan. Mungkin suatu hari nanti, perubahan kuantitatif akan mengarah pada perubahan kualitatif."

"Bagus," Li Zhiqu, yang tidak dapat berlari lebih jauh, melambaikan tangannya, "Kamu masih muda; kamu bisa berlari lebih cepat dariku. Ngomong-ngomong, sopir yang membunuh tuanku sudah ditangkap di Liangcheng. Dia akan dipindahkan kembali sebelum Tahun Baru."

Xu Cheng berhenti, membungkuk menghadap Sungai Yangtze di malam hari, meletakkan tangannya di lutut, dan bertanya, "Di mana Yang Xing? Ke mana dia pindah?"

"Aku butuh persetujuan atasan untuk melakukan apa pun." 

"Yang Xing bukan tersangka di permukaan, jadi di mana kita bisa menemukan polisi untuk melacaknya?"

Angin mengacak-acak rambut Xu Cheng, mencerminkan sedikit kesedihan di matanya, "Jika Paman Fang mengatakan dia tersangka, maka dia memang tersangka."

Li Zhiqu menghela napas, "Aku mengunjungi si pembunuh di penjara bulan lalu. Dia masih mengatakan hal yang sama: itu adalah perselisihan asmara dengan Yang Xing, dan dia membunuh Fang Xiaoshu dalam keadaan marah. Terlepas dari kecurigaan kita, target utamanya adalah Jiang Chenghui. Begitu dia tertangkap, semua misteri akan terungkap."

Xu Cheng menatap sungai yang bergelombang di bawah langit malam, wajahnya tampak sedih. Tiba-tiba ia menundukkan kepala, berkedip beberapa kali, terdiam sejenak, lalu berdiri tegak.

Li Zhiqu, yang mengetahui kesedihan di hatinya, tetap berada di sisinya untuk waktu yang lama. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu dan bertanya, "Apakah Jiang Xiaojie mudah diajak bergaul?"

Wajah Xu Cheng yang linglung tampak sedikit bingung, "Dia baik-baik saja."

"Ada desas-desus bahwa anggota keluarga Jiang semuanya sulit diajak bergaul. Aku khawatir dia akan terlalu tidak masuk akal dan mempersulitmu."

"Tidak."

"Kalian berdua..." Li Zhiqu tampak malu dan tergagap, "Kalian...jangan..." 

Bagaimanapun, Jiang Xi adalah seorang perempuan, dan ia tidak ingin Xu Cheng melakukan sesuatu yang terlalu buruk padanya...

Xu Cheng mengerti, "Aku tahu," setelah terdiam sejenak, ia berkata singkat, "Aku tidak menyentuhnya."

Keduanya terdiam canggung untuk beberapa saat.

"Tapi Jiang Chenghui dan Jiang Huai mengira sudah pasti terjadi sesuatu antara aku dan dia. Kalau tidak, mereka tidak akan percaya padaku."

Ekspresi Li Zhiqu berubah aneh; dia tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi.

Xu Cheng kemudian menyadari bahwa dia telah menceritakan banyak hal tentang keluarga Jiang kepada Li Zhiqu—penampilan, kepribadian, dan hubungan semua orang dalam keluarga Jiang, baik kerabat maupun jaringan sosialnya. Dia bahkan telah menceritakan tentang Jiang Tian. Tetapi dia tidak pernah menggambarkan Jiang Xi kepada Li Zhiqu. Dia tidak pernah berbicara tentang Jiang Xi sebagai pribadi, atau tentang dirinya.

Pada saat ini, dia seharusnya menjelaskan sesuatu. Tetapi ketika dia membuka mulutnya, dia tidak tahu harus mulai dari mana, hanya berkata, "Dia orang yang sangat, sangat, sangat sederhana."

Li Zhiqu tampaknya mengerti, tetapi tidak bertanya lebih lanjut, hanya berkata, "Untunglah mereka mempercayaimu."

Tetapi dia masih menahan diri. Hari itu di tempat acara, Jiang Huai pertama kali mengujinya dengan nyonya rumah di ruang pribadi; ketika dia tidak terpancing, dia menggunakan pertunangan yang diatur secara tergesa-gesa untuk menjebaknya. Dia memperlakukannya seperti keledai, menggantungkan wortel yang tidak ada. Tentu saja, mungkin itu tidak sepenuhnya tidak ada. Tetapi menurut penilaian Xu Cheng, itu tidak akan terjadi setidaknya dalam dua atau tiga tahun.

Bahkan dalam interaksi sehari-hari, seseorang harus selalu waspada terhadap kebenaran atau kebohongan dalam kata-kata Jiang Huai.

Saat berpisah, Xu Cheng bertanya tentang bagaimana nasib anggota keluarga Jiang. Li Zhiqu menjawab bahwa, berdasarkan jumlah yang terlibat dan keadaan, Jiang Chenghui dan Jiang Chengguang pasti akan menghadapi hukuman mati dan penyitaan harta benda mereka. Jiang Huai dan sepupu-sepupunya akan menerima hukuman penjara setidaknya sepuluh tahun. Hukuman untuk yang lain akan bergantung pada tingkat keterlibatan mereka.

Xu Cheng bertanya, "Bagaimana dengan Jiang Xi dan Jiang Tian?"

Li Zhiqu terkejut, "Mereka tidak terlibat. Apa hubungannya dengan mereka? Hukum itu adil; itu tidak melibatkan pembunuhan atau pemusnahan seluruh keluarga." 

Ia mendengar Fang Xiaoyi mengatakan bahwa Xu Cheng menyukai Fang Xiaoshu dan menasihati, "Kamu tidak bisa melampiaskan amarahmu pada Jiang Xi karena situasi Fang Xiaoshu. Jiang Tian itu idiot; apakah kamu akan membalas dendam padanya?"

Xu Cheng tahu ia telah salah paham.

Ia masih tidak ingin menyebut Jiang Xi dan memutuskan untuk pergi tanpa mengatakan apa pun lagi, mengucapkan selamat tinggal. Tapi—

Ia berbalik, berkata pelan, "Zhiqu Ge, dia dan adik laki-lakinya tidak mungkin bisa bertahan hidup."

Li Zhiqu bingung, "Apa maksudmu?"

Xu Cheng menjelaskan secara singkat. Ia praktis dikurung di rumah. Ia baru mengetahui hal ini setelah tiba di rumah keluarga Jiang. Ia jarang bersekolah di sekolah khusus, mengandalkan guru privat. Meskipun begitu, ia sering bolos pelajaran gurunya, menghabiskan waktunya sendirian di bangunan kecil di sebelah barat. Sebelum ia pertama kali bertemu dengannya di studio seni, ia telah sendirian selama setengah bulan.

"Dia sangat, sangat naif," ulang Xu Cheng, "Dia tidak mengerti banyak hal. Jadi... apa yang akan terjadi padanya dan adik laki-lakinya jika seseorang membalas dendam pada keluarga Jiang?"

Li Zhiqu berpikir sejenak dan berkata, "Aku akan mencoba membantu mereka, melihat apakah kita bisa menemukan tempat untuk menampung mereka. Aku sudah mencatatnya."

Dia adalah seorang polisi yang baik hati, lembut, dan bertanggung jawab. Xu Cheng mempercayainya, tidak berkata apa-apa lagi, mengucapkan selamat tinggal, dan berlari ke malam musim dingin.

***

Dua hari kemudian, masalah muncul.

Pagi itu, Xu Cheng pergi ke Dermaga Bada, milik keluarga Jiang di hulu Jiangzhou, untuk memeriksa pendapatan tahun lalu. Dia sibuk hingga pukul 4:30 sore ketika dia menerima telepon dari Jiang Huai, memintanya untuk datang ke Hui Se dan menunggunya di Taman Fengdan.

Ketika Xu Cheng tiba, lobi vila itu sepi; lampu di monitor, area bar, dan area biliar mati. Hanya beberapa lampu sorot yang menyala di aula utama, dan uap dari kolam renang mengepul masuk, berputar-putar di sekitar sorotan cahaya terdekat.

Jiang Huai dan sepupunya Jiang Hao duduk di sofa besar sambil merokok. Ye Si dan sekelompok preman berpakaian hitam berdiri dingin di kedua sisi. Tiga orang berlutut dengan malu-malu di tengah ruangan, kepala mereka hampir terbenam di tanah.

Ketika Jiang Huai melihat Xu Cheng, ia menjentikkan abu rokoknya, memberi isyarat dengan dagunya ke samping, dan tersenyum, "Silakan duduk."

Xu Cheng duduk di sebelahnya dan menemukan bahwa ketiga orang yang berlutut itu adalah manajer toko Lu Qi, wakil manajer toko Qiu Sicheng, dan akuntan Lin Fangfang.

Jiang Huai adalah pria yang pendiam; ketika ia bersikap baik kepada seseorang, ia selalu tersenyum dan sopan; ketika ia bersikap tidak baik kepada seseorang, ia kejam dan tanpa ampun. Mereka yang memegang jabatan mereka telah menyaksikan metode paksaannya, dan bahkan mereka yang tidak memiliki masalah pun akan ketakutan.

Jiang Huai menyilangkan kakinya dan bersandar di sofa, "Katakan padaku, siapa di antara kalian bertiga yang mencuri buku catatan Huise dan menyerahkannya ke polisi?"

Jantung Xu Cheng berdebar kencang, tetapi ia mengamati ketiga pria itu dengan tenang. Ketiganya menggelengkan kepala, gemetar.

Lin Fangfang adalah yang pertama berteriak, "Huai Ge, bukan aku! Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Aku sudah bersamamu selama bertahun-tahun! Kamu harus percaya padaku!"

Lu Qi buru-buru menambahkan, "Bukan aku, Huai Ge! Kamu sudah begitu baik padaku, bagaimana mungkin aku melakukan hal seperti itu? Sungguh bukan aku!"

Suara Qiu Sicheng bergetar, "Huai Ge, kamu membayarku gaji yang begitu tinggi, di mana lagi aku bisa mendapatkan pekerjaan seperti ini? Bagaimana mungkin aku menghancurkan mata pencaharianku sendiri?"

"Benar," Jiang Huai menghembuskan asap rokok sambil mendesah, "Kamu sudah bersamaku selama bertahun-tahun, begitu baik padaku, memberiku begitu banyak uang, dan kamu tetap mengkhianatiku... Aku sama sekali tidak bisa memaafkanmu. Baiklah, karena tak seorang pun dari kalian mau bicara, aku akan menganggap kalian bertiga bersalah. Aku akan berurusan dengan kalian semua bersama-sama."

Nada bicaranya terdengar ringan seolah-olah ia sedang berurusan dengan beberapa faktur. Ketiga pria itu pucat pasi, masing-masing memohon agar dinyatakan tidak bersalah dengan lebih keras dari yang lain, "Huai Ge, itu benar-benar bukan aku! Kumohon, lepaskan aku! Itu benar-benar bukan aku!"

Jiang Huai memberi isyarat dengan jari yang memegang rokoknya ke arah Ye Si, yang kemudian memimpin beberapa orang maju, mulai memukuli mereka. Suara pukulan, tendangan, dan jeritan memenuhi udara, diselingi oleh permohonan ampun—sebuah pemandangan yang benar-benar mengerikan.

Alis Xu Cheng berkerut, wajahnya dipenuhi amarah.

Lin Fangfang, sebagai seorang perempuan, adalah yang pertama menyerah, jatuh tersungkur ke tanah, terlalu lemah bahkan untuk membela diri. Lu Qi dan Qiu Sicheng meringkuk bersama, kepala mereka tertunduk di tangan mereka karena serangan itu.

"Cukup."

Jiang Huai berbicara, dan serangan itu berhenti.

Ketiga pria itu berlumuran darah, pakaian mereka robek, wajah mereka tergores.

Jiang Huai bertanya, "Apakah mereka sudah mati?"

Ia bertanya kepada Lin Fangfang, yang dipenuhi luka tetapi berhasil berdiri.

"Aku punya ide, mari kita lihat apa yang takdir siapkan," ia mengulurkan tangan, dan A Wu menyerahkan bola biliar kepadanya; ia menimbangnya di tangannya dan terkekeh, "Siapa pun yang terkena bola itu adalah informan."

Pupil mata ketiga pria itu melebar karena terkejut, dan Xu Cheng juga terkejut. Tetapi dalam sekejap, Jiang Huai mengerahkan kekuatan luar biasa, meluncurkan bola biliar seperti bola meriam. Dengan kekuatan dan kecepatan yang mengerikan, benda itu melayang di atas kepala Qiu Sicheng dan menghantam dinding kaca di belakangnya. Dentuman yang memekakkan telinga! Seluruh dinding kaca hancur berkeping-keping, serpihannya berhamburan ke mana-mana.

Semua orang yang hadir terkejut. Xu Cheng menggertakkan giginya—jika itu mengenai kepalanya, tengkoraknya pasti akan retak seketika.

Kaki Qiu Sicheng dan Lu Qi lemas, dan mereka jatuh berlutut. 

Lin Fangfang jatuh ke tanah, rambutnya acak-acakan, terisak-isak, "Huai Ge, kamu telah berbuat salah padaku! Pasti mereka!" Menunjuk kedua pria itu, dia meratap, "Jika kamu laki-laki, akui saja! Kalian semua akan mati jika menyeretku ikut jatuh!"

Jiang Huai, sambil memegang sebatang rokok yang setengah terbakar, berjalan menghampiri ketiga pria itu, menatap dua orang yang tersisa, "Bagaimana menurut kalian berdua? Atau, aku akan terus menghancurkan satu sampai aku sampai pada yang itu."

Qiu Sicheng, dengan darah mengalir dari dahi dan bibirnya, merangkak maju dan meraih kaki celana Jiang Huai, memohon sambil menangis, "Huai Ge, ini pasti bukan aku! Percayalah, ini pasti bukan aku!"

Lü Qi juga menangis dan memohon.

Jiang Huai mengerutkan kening, "Ck, celanaku kotor."

Kedua pria itu segera melepaskan pegangan mereka, terkejut. Jiang Huai menoleh ke Xu Cheng di sofa, nadanya menggoda, "Kakak Xu, kamu bilang siapa? Pilih salah satu."

Nadanya santai seperti memilih kubis.

Xu Cheng berkata, "Aku tidak tahu."

Jiang Huai menyipitkan matanya, "Pilih secara acak."

Xu Cheng menatapnya langsung, "Aku tidak akan memilih."

Melihat ini, Jiang Hao bangkit dan mendekat, "Aku merasa itu wanita ini."

Lu Qi dan Qiu Sicheng menghela napas lega, sementara Lin Fangfang dengan panik berteriak mengaku tidak bersalah.

Jiang Huai tidak bergerak, tetapi memberi isyarat kepada Ye Si. Ye Si mengambil tongkat biliar dan mengayunkannya, mengangkat dagu ketiga pria itu.

Jiang Huai mengamati ketiga pria itu; mata mereka masing-masing dipenuhi rasa takut.

Ia mengamati mereka, lalu dengan kejam mengejek, "Bodoh."

"Tidak ada yang salah dengan buku catatanku," ia mengulurkan tangan, dan A Wu menyerahkan setumpuk buku catatan kepadanya, "Ketika aku mengambilnya dari kantor polisi hari ini, kamu tidak melihat wajah para polisi itu. Mereka seperti meludah lalat, hahaha," ekspresinya berubah, dan ia berkata, "Lin Fangfang bisa pergi sekarang."

Seorang preman mengangkat Lin Fangfang dan mendorongnya keluar. Orang-orang yang tersisa bergegas maju dan menahan Qiu Sicheng dan Lu Qi, yang sedang berlutut.

Ye Si menyerahkan tongkat biliar kepada Jiang Huai.

"Mulai dari kamu," kata Jiang Huai, sambil mengetuk pipi Qiu Sicheng yang bengkak dengan ujung tongkat biliar, "Buka mulutmu."

Qiu Sicheng ketakutan, menggelengkan kepalanya berulang kali dan berteriak, "Huai Ge, bukan aku! Bukan aku! Kamu harus percaya padaku!"

Namun Ye Si menahan kepalanya dengan satu tangan dan membuka mulutnya dengan tangan lainnya.

Jiang Huai mendorong ujung tongkat biliar ke dalam mulutnya, sampai ke tenggorokannya. Qiu Sicheng meronta-ronta ketakutan, mengeluarkan suara mendengus, tetapi beberapa tangan kuat menahannya, membuatnya tidak mampu melawan.

Xu Cheng terperangah, pikirannya kosong. Dia tidak pernah membayangkan keluarga ini bisa berulang kali melampaui batas kesopanan.

Sebelum Jiang Huai sempat mengerahkan kekuatan apa pun, Xu Cheng dengan dingin berkata, "Huai Ge!"

Jiang Huai menoleh, dan Xu Cheng berkata, "Mungkin memang bukan mereka."

Jiang Huai, tanpa ekspresi, memiringkan tongkat biliar ke arahnya dan berkata, "Kamu duluan."

Pupil mata Xu Cheng menyempit, ekspresinya tidak ramah, jelas menantang. Tetapi akhirnya, dia berkata, kata demi kata, "Dia teman sekamar SMA-ku."

"Baiklah," kata Jiang Huai, seolah sedang bernegosiasi, "Kalau begitu, mari kita mulai dengan yang ini."

Ia menarik tongkat biliar dari mulut Qiu Sicheng dan mengarahkannya ke Lu Qi, yang berteriak, "Huai Ge, bukan aku! Tolong selamatkan aku, selamatkan Cheng Ge..."

Selama beberapa bulan terakhir, ketika Xu Cheng datang ke Huise untuk bekerja, Lu Qi secara pribadi menerimanya, menunjukkan sikap dingin pada pertemuan pertama. Lu Qi bergantung padanya sebagai penyelamat, tetapi mulutnya masih terbuka lebar, tongkat biliar dimasukkan ke dalam mulutnya, dan didorong ke arah tenggorokannya. Ia tidak bisa mengeluarkan suara, hanya bisa merintih dan memohon dengan matanya.

"Kemarilah," Jiang Huai mengangkat alisnya, "Xu Cheng, kamu telah berurusan dengan pengkhianat untukku hari ini, seorang saudara dari keluarga Jiang yang mempertaruhkan nyawanya untukku."

Lu Qi berteriak putus asa, "Ah..."

Xu Cheng tidak bergerak, lentera di atas kepalanya menaungi rambut hitamnya. Matanya tersembunyi dalam bayangan, memancarkan aura yang menakutkan, "Aku tidak akan melakukannya."

Aula yang menampung lebih dari selusin orang itu begitu sunyi hingga suara jarum jatuh pun bisa terdengar.

Ekspresi Jiang Huai berubah drastis. Dia mengeluarkan tongkat biliar, menghentakkannya ke lantai, dan tiba-tiba bertanya, "Kamu tidak berpihak pada mereka, kan?"

Xu Cheng berkata, "Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?"

Jiang Huai, "Mengapa kamu tidak menjelaskan kepadaku mengapa kamu tidak pernah menyebutkan—bahwa kamu mengenal Fang Xinping?"

"Aku kenal Fang Xinping. Bukankah kamu sudah cukup menyelidiki? Apakah aku harus menjelaskan?" kata Xu Cheng, "Lima tahun lalu, ketika lingkaran teman-temanmu yang kaya raya menjebakku dan membuatku menanggung kesalahan, dia adalah polisi yang bertanggung jawab atas kasus itu. Dia menegakkan hukum dan menangkap teman-temanmu. Lalu kenapa?"

Wajah Jiang Huai sedingin es.

"Kamu ingin aku mendengarkanmu, tunduk padamu, terlibat dalam masalah keluargamu, melakukan pekerjaan kotor keluargamu, menjadi pionmu, untuk membuktikan aku tidak bersalah..." Xu Cheng menyeringai, seringai yang kejam.

"Kalau begitu aku...! Ya, aku agen rahasia, informan. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan ketiga orang itu."

Xu Cheng melangkah maju, cahaya di atas kepalanya memudar. Mata gelapnya yang tak kenal takut dan tanpa ampun terlihat jelas oleh Jiang Huai. Ia menunjuk bahu Jiang Huai dengan jarinya, "Kamu berani sekali. Coba saja tusuk aku sampai mati dengan tongkat golf hari ini. Kalau tidak, lain kali akan sama: aku tidak akan melakukannya!"

Tatapan mata mereka bertemu dengan tajam. Tatapan Xu Cheng setajam pisau, sementara wajah Jiang Huai pucat pasi.

Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Jiang Hao terperangah hingga linglung. Sebenarnya, Jiang Huai sudah tahu siapa informannya. Seluruh sandiwara ini memiliki dua tujuan: pertama, untuk menjadikan Xu Cheng sebagai contoh dan memperingatkan dua orang lainnya; kedua, untuk membujuk Xu Cheng agar berjanji setia. Tapi ia tidak menyangka Xu Cheng akan begitu teguh.

Qiu Sicheng begitu terkejut hingga ia melupakan rasa takutnya, benar-benar tenggelam dalam pikirannya; ia tidak mengerti bagaimana Xu Cheng bisa begitu berani, begitu tidak takut pada mereka. Ia tidak mengerti bagaimana Xu Cheng bisa begitu tangguh. Tiba-tiba ia merasakan kebencian yang mendalam. Jika ia lebih tangguh, tidak terlalu lemah, bukankah ia akan diperlakukan seperti ini?

Tepat ketika suasana di ruangan itu menegang hingga hampir menimbulkan percikan api, sebuah ponsel berdering.

Di balik suara itu terdengar nyanyian, "Aku mencintaimu, matamu yang memikat, tawamu yang lebih mempesona. Aku berharap bisa lagi membelai wajahmu yang cantik dengan lembut, menggenggam tanganmu dan membisikkan kata-kata manis, seperti kemarin, kamu dan aku—"

Xu Cheng telah memasang nada dering khusus untuk Jiang Xi di ponselnya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan menerima banyak panggilan, jadi memasang nada dering khusus berarti ia dapat langsung menjawab dan tidak melewatkan panggilan Jiang Xi. Jiang Huai juga tahu nada dering itu milik Jiang Xi.

Nada dering yang lembut dan penuh kasih aku ng itu membuat suasana menjadi canggung. Naluri pertama Xu Cheng adalah menjawab, tetapi ia membuat pilihan yang menguntungkannya—ia menutup telepon tanpa melihat.

Benar saja, lima detik kemudian, ponsel Jiang Huai berdering.

Jiang Huai mengumpat pelan, wajahnya muram, tetapi kemudian memalingkan muka dan berbisik, "Halo?"

Orang di ujung telepon bertanya, "Ge, ada apa dengan Xu Cheng?"

"Ada apa?"

"Dia tidak mau mengangkat teleponku," kata Jiang Xi cemas, "Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak ada, nanti aku ceritakan."

Orang lain itu membantah, "Di mana dia?! Jangan bohong padaku!"

Jiang Huai, dengan wajah dingin, menyerahkan telepon kepada Xu Cheng. Xu Cheng menjawab, alisnya rileks, "Halo?"

"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?"

"Aku agak sibuk, aku salah menekan nomor, aku baru saja akan meneleponmu kembali."

"Oh. Kalau begitu, lanjutkan saja urusanmu, nanti kita mengbrol lagi..."

"Oke..."

Xu Cheng menutup telepon, wajahnya langsung berubah dingin, dan melemparkan telepon itu kembali.

Jiang Huai menangkap telepon itu, tangannya di punggung, dan setelah beberapa saat, berkata dingin, "Xu Cheng, ini belum selesai."

Xu Cheng tahu dia adalah bos di sini, dengan banyak orang yang mengawasi; dia butuh jalan keluar. Ia berjalan ke meja biliar, mengambil bola hitam, meletakkannya di tangan Ye Si, dan, sambil menatap Jiang Huai, mundur dengan tangan terentang sambil berkata, "Seperti yang kamu katakan, itu terserah takdir. Jika mengenai, aku mati; jika tidak, maka aku pergi."

"Apakah jarak ini cukup?" Xu Cheng berhenti. Malam telah tiba di luar, dan kegelapan di belakangnya membuat matanya tampak semakin hitam pekat.

Jiang Huai menggertakkan giginya, merebut bola biliar dari tangan Ye Si, dan melemparkannya ke Xu Cheng.

Bola melesat di udara, dan semua orang tersentak. Bola hitam itu menyentuh rambut Xu Cheng, angin menerbangkannya di sekitar rambut hitamnya. Bola itu jatuh ke kolam renang dengan suara cipratan.

Kolam itu beriak. Xu Cheng berdiri selama dua detik, lalu berjalan, mengambil mantelnya dari sofa, dan keluar, "Kita impas."

Xu Cheng pindah dari rumah keluarga Jiang hari itu. Ia memang tidak memiliki banyak barang sejak awal; Hanya sebuah tas ransel yang dibawanya.

Xu Cheng bisa menebak—Jiang Huai tahu siapa yang membocorkan informasi itu. Dia mengatur semua itu untuk menguji batas kemampuan Xu Cheng dan menyeretnya bersamanya. Fang Xinping telah menjadi polisi selama dua puluh lima tahun, menangani banyak kasus penegakan keadilan dan memerangi uang dan kekuasaan, yang menguntungkan banyak orang, bukan hanya Xu Cheng. Jiang Huai juga mengetahui semua ini. Dan untuk melindungi harga diri Xu Cheng, dukungan finansial dan perhatian Fang Xinping kepadanya dilakukan secara pribadi, tanpa diketahui orang luar.

Jiang Huai sekarang mengangkat masalah ini untuk memberikan tekanan maksimal padanya, untuk mengujinya. Jika Xu Cheng menunjukkan kelemahan hari ini, bahkan konsesi sekecil apa pun, dia akan mati.

Setelah hari ini, dia tidak akan meragukannya lagi. Tetapi karena Jiang Huai telah mengambil langkahnya, dia tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan terus memanggilnya saudara. Jadi ini adalah satu-satunya cara.

Tetapi dia tidak tahu bagaimana menghadapi Jiang Xi—dia tidak melakukan kesalahan apa pun, dan dia tidak ingin menyakitinya; Namun, Gege-nya yang tercinta begitu kejam, ia takut akan sulit untuk tidak melampiaskan amarahnya padanya—jadi ia pergi saat Jiang Xi berada di studio seni.

Jiang Xi kembali ke kamarnya dan mendapati kabel pengisi daya ponselnya hilang. Ia segera meneleponnya. Ia menutup telepon, dan setengah menit kemudian, mengirim pesan singkat hanya dengan dua kata: Ayo kita putus.

***

BAB 27

Awalnya Jiang Huai mengira Xu Cheng hanya berpura-pura, menunggu ia tenang. Ia telah melihat terlalu banyak orang yang dibeli oleh kenyataan. Jiang Chenghui juga mengatakan bahwa begitu seseorang telah merasakan manisnya uang dan kekuasaan, sulit untuk melepaskannya.

Lebih dari sepuluh hari kemudian, ia mengetahui bahwa Xu Cheng tidak hanya tidak datang bekerja, tetapi juga telah putus dengan Jiang Xi.

Sehari sebelum Tahun Baru Imlek, Jiang Huai memberi tahu A Wu saat sarapan untuk mengundang Xu Cheng makan malam, untuk memberinya jalan keluar. A Wu baru saja meninggalkan halaman ketika ia bertemu A Wen, bertukar beberapa kata, lalu kembali dan mengatakan bahwa mereka berdua telah putus pada malam hari tanggal sepuluh bulan kedua belas kalender lunar.

Jiang Huai terkejut, "Siapa yang mengatakannya?"

"Siapa lagi?" seru A Wu dengan marah, "Dia bahkan tidak mengatakannya langsung kepadanya, hanya mengirim pesan singkat dan itu saja. Dia juga tidak mau menjawab telepon. Dia tidak manusiawi!"

"Dia putus dengannya?" mata Jiang Huai melebar, ekspresi terkejutnya berlangsung selama sepuluh detik sebelum ia meledak dalam amarah, "Itu adikku!! Apakah dia ingin mati? Berani-beraninya dia mengatakan dia ingin putus? Di mana dia? Ikat dia sekarang juga! Jika dia tidak datang, bunuh dia!!"

Setelah melampiaskan amarahnya, ia berkata dengan dingin, "Pergi dan panggil Ye Si, pergi dan lumpuhkan kakinya sekarang juga. Aku akan memastikan dia tidak akan pernah meninggalkan Xiaoxilou lagi. Pergi!"

Wajah A Wu mengerut cemas, "Mereka putus beberapa hari yang lalu, dan Meimei masih belum mau memberitahumu..." 

"Aku hanya takut kamu ... dia akan patah hati."

Jiang Huai sangat marah hingga hampir menghancurkan mangkuknya, "Bajingan macam apa Xu Cheng itu?! Dia punya selera bagus; dari 480.000 pria di Jiangzhou, bagaimana mungkin dia memilih yang terburuk?!"

A Wu, juga mengutuk Xu Cheng sebagai bajingan, menambahkan, "Tapi di sisi lain, Meimei punya selera bagus," sambil mengacungkan jempol, "Dia pandai memilih."

Jiang Huai, setelah melampiaskan amarahnya, bertanya dengan kasar, "Bagaimana keadaannya?"

"Dia tidak bicara, tidak mau makan, hanya berbaring di tempat tidur."

Jiang Huai, dengan wajah muram, langsung pergi ke aku p barat. Saat masuk, dia melihat Jiang Tian duduk di sofa, kepala tertunduk, dengan cemberut memegang lumba-lumba kecilnya.

A Wen berjalan tertatih-tatih mendekat, berkata, "Ge, sebaiknya kamu bicara dengannya. Xu Cheng sangat tidak berperasaan. Berapa kali pun Meimei menelepon, dia tidak akan menjawab; berapa banyak pesan yang dia kirim, dia tidak akan membalas. Meimei menangis setiap hari, sangat menyedihkan, dia hampir menangis sampai mati."

Jiang Huai langsung naik ke atas, berhenti di pintu kamar tidur, "Apakah dia tidur?"

"Aku tidak tahu apakah dia tidur, tapi dia tidak tidur sama sekali semalam."

Jiang Huai berbalik dan berjalan sedikit menjauh, memberi isyarat agar mereka mendekat, dan merendahkan suaranya, "Menurutmu Xu Cheng itu benar-benar menyukainya?"

A Wu mengangguk dengan tulus, "Kita berdua laki-laki, kamu bisa tahu apakah dia benar-benar menyukainya atau tidak."

Jiang Huai sebenarnya memiliki penilaiannya sendiri, tetapi ingin mendengar lebih banyak.

A Wen juga mengangguk. Xu Cheng dan Jiang Xi tidak menghabiskan banyak waktu bersama setiap hari, tetapi pandangan dan bahasa tubuh mereka yang tidak disengaja mengungkapkan kasih sayang mereka.

Namun, A Wen, merasa kasihan pada Jiang Xi, mengkritik, "Dia tidak pernah mengatakan hal yang baik, tidak satu pun kata sanjungan, seolah-olah dia tidak mau mengakuinya. Sepertinya A Xi tidak cukup baik untuknya."

A Wu berkata, "Keluarganya sangat miskin, dia bergantung pada keluarga Jiang untuk mendapatkan bantuan. Itulah yang terjadi ketika harga diri seorang pria terlalu tinggi."

***

Jiang Huai melambaikan tangannya, menandakan dia tidak akan mengatakan apa pun lagi. Dia berjingkat masuk ke kamar tidur. Tirai tebal tertutup, dan lampu kuning hangat menyala di samping tempat tidur. Jiang Xi meringkuk di sisinya di bawah selimut, bantalnya setengah basah, bulu matanya lengket karena air mata.

Jiang Huai menghela napas, duduk di tepi tempat tidur, mengambil tangannya yang mencuat dari bawah selimut, dan dengan lembut mengusapnya. Setelah beberapa lama, dia berkata, "Aku tidak akan ikut campur. Jika kamu ingin menemuinya, silakan. Aku akan bicara dengan Ayah. Jika dia cukup menyukaimu, dia akan kembali. Tapi jika tidak, kamu tidak bisa memaksanya. Tentu saja, jika kamu ingin memaksanya, aku punya cara sendiri untuk melakukannya, tapi jangan salahkan aku jika aku bersikap kejam."

***

Jiangzhou memiliki kebiasaan mengirimkan lampion dan membakar uang kertas di makam orang yang telah meninggal selama Tahun Baru Imlek. Sebelum hari gelap, Xu Cheng menemani Yuan Qingchun dan Fang Xiaoyi untuk mengirimkan lampion ke Fang Xinping dan Fang Xiaoshu. Saat membeli lampion di pintu masuk pemakaman, Xu Cheng memilih lampion dengan dua bunga putih di dalamnya.

Fang Xiaoyi berkata, "Kuning, kurasa. Ayah dan Jiejie-ku paling suka warna kuning."

Xu Cheng berkata, "Bukankah dia paling suka warna putih?"

"Tidak, bagaimana mungkin kamu salah ingat?"

Xu Cheng tidak berbicara dan meletakkan lampion itu kembali. Orang yang menyukai warna putih adalah orang lain. Dia agak linglung sepanjang perjalanan ke sana.

Saat mereka membakar uang kertas, Yuan Qingchun menghela napas, "Xinping, sopir yang membunuhmu telah diserahkan ke Jiangzhou. Jika arwahmu mengawasi dari surga, biarkan pelaku sebenarnya yang membunuh Xiaoshu diadili." Dia menyeka air matanya dan berkata, "Aku bermimpi tentangmu kemarin, tapi aku tidak mendengar apa yang kamu katakan..."

Fang Xiaoyi juga menangis.

Xu Cheng berjongkok di tanah, melemparkan uang kertas ke dalam api, nyala api menari-nari di matanya yang gelap.

Fang Xiaoyi menyalakan lampu dan meletakkannya di puncak bukit makam ayah dan saudara perempuannya. Dia berlutut di samping Xu Cheng, bergumam, "Mereka bilang ketika lampu dinyalakan, mereka bisa menerangi jalan pulang. Tapi mengapa aku tidak pernah bermimpi tentang saudara perempuanku? Xu Cheng, apakah kamu bermimpi tentangnya?"

Dia menggelengkan kepalanya.

"Apakah dia tersesat dalam perjalanan pulang?" Fang Xiaoyi bertanya sambil menangis, tetapi tidak ada yang bisa menjawab; hanya bara api yang melayang pergi ke langit yang memudar.

Setelah keluar dari pemakaman, ponsel Xu Cheng berdering karena ada pesan masuk. Dia tahu dari siapa pesan itu dan awalnya berniat mengabaikannya, tetapi tidak bisa menahan diri untuk memeriksa pesan dari Jiang Xi.

"Xu Cheng, kamu bilang akan mengajakku menyalakan kembang api di Malam Tahun Baru. Kapan kita akan pergi?"

Anehnya, dia bisa melihat ekspresi dan mendengar nada suaranya di setiap pesan yang dikirim Jiang Xi beberapa hari terakhir ini. Misalnya, suara Jiang Xi lembut dan pelan, alisnya sedikit berkerut, sedikit sedih.

Dia menatapnya selama beberapa detik, tetapi tetap tidak membalas, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku.

Fang Xiaoyi bertanya, "Ada apa?"

"Hah?"

"Kamu tampak sedang melamun."

"Tidak apa-apa."

***

Ibu Fang mengundang Xu Cheng ke rumah mereka untuk makan malam merayakan Tahun Baru bersama, dan Fang Xiaoyi juga mengundang Xu Cheng. 

Xu Cheng mengatakan sepupunya sudah pulang, dan keluarganya mengadakan makan malam reuni, jadi dia tidak akan pergi.

Xu Cheng tidak pergi ke makan malam reuni; dia tidak akur dengan kerabatnya. Xu Minmin murah hati dan bisa duduk di meja yang sama dengan saudara perempuannya untuk makan, tetapi Xu Cheng terlalu malas untuk menghibur mereka dan malah mengundang beberapa teman ke warnet untuk bermain game.

Du Yukang dan Chen Yanjing'er sedang belajar di luar rumah selama liburan musim dingin, sementara Gao Donggua, setelah lulus, tidak melanjutkan studinya dan membantu di toko sarapan keluarganya. Beberapa waktu lalu, Xu Cheng kabur dari rumah keluarga Jiang dan memiliki waktu luang, jadi kelompok itu sering berkumpul bersama. Namun, beberapa hari itu, panggilan dan pesan dari Jiang Xi membuatnya gelisah. Dia sengaja tidak mematikan ponselnya, membiarkannya berdering saat dia bermain game.

Du Yukang menggodanya, "Hubungan romantis macam apa yang telah Xu Ge alami?"

Dia bertindak seolah-olah tidak mendengarnya, mendominasi permainan.

Hari ini adalah Malam Tahun Baru. Setelah Jiang Xi mengirim pesan teks itu, tidak ada kabar lebih lanjut. Kemudian, pukul 21.30, ponselnya menerima pesan teks lain.

JX, "Aku akan mencarimu, bagaimana kalau kita menyalakan kembang api?"

Dia telah menyaksikan kekeras kepalaannya sebelumnya, dan akhirnya menjawab, "Jangan mencariku!"

Dia melempar ponselnya, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, bermain selama sekitar setengah jam. Du Yukang menyenggol lengannya, memiringkan dagunya ke samping, "Bukankah dia mencarimu?"

Xu Cheng melepas headphone-nya, menoleh, dan melihat Jiang Xi berdiri di ujung deretan komputer, bersandar pada tongkatnya. Dia mengenakan jaket bulu putih dengan bulu rubah putih yang lembut di tudungnya, yang menonjolkan wajahnya yang halus dan kurus.

Warung internet itu tidak ramai pada malam Tahun Baru, tetapi sekelompok berandal merokok, menendang kursi, dan mengumpat dalam permainan, menciptakan suasana berasap.

Xu Cheng menatapnya selama lima atau enam detik, wajahnya tanpa ekspresi saat ia menatap layar. Cahaya putih terpantul di wajahnya, membuatnya tampak dingin dan acuh tak acuh. Ia memasang kembali headphone-nya, tetapi tanpa sadar menurunkan volume permainan.

Jiang Xi, bersandar pada tongkatnya, perlahan berjalan mendekat. Ruangannya sempit, dan ia, menggunakan tongkatnya, menabrak kursi orang lain. Mereka yang asyik bermain game berteriak tidak sabar, "Sial! Hati-hati!"

Jiang Xi tersipu dan berbisik meminta maaf.

Wajah Xu Cheng tegang; untungnya, sebagian besar kursi di barisan ini kosong. Ia perlahan mendekat dan memanggil, "Xu Cheng..."

Suaranya masih lembut, mengandung sedikit kerinduan.

Ia tidak menoleh. Teman-temannya menatapnya dengan aneh, tetapi tetap diam. 

Du Yukang menyenggol lengannya dan menasihati, "Apa pun yang kamu pikirkan, kamu harus berbicara dengannya dengan baik."

Xu Cheng melepas headphone-nya dan membantingnya di atas meja. Dia berdiri, kursinya bergesekan dengan lantai dengan bunyi keras, dan berjalan melewatinya untuk pergi. Jiang Xi memberi Du Yukang tatapan terima kasih dan segera mengikutinya keluar.

Pada malam Tahun Baru, semua toko di jalan itu tutup, dan tidak ada seorang pun yang terlihat. Bahkan lampu jalan pun redup, menciptakan suasana yang sepi. Dia tidak melihat mobil A Wu; tidak ada satu pun mobil di kedua sisi jalan—benar-benar kosong.

Xu Cheng berhenti, menunggunya untuk menyusul; dia tertinggal di belakang, agak cemas. Beberapa ubin persegi di tanah longgar, beberapa sudutnya hilang. Tongkatnya menyentuh bagian yang rusak, menyebabkannya terhuyung, kehilangan keseimbangan, dan hampir jatuh.

Xu Cheng segera bergegas maju untuk menstabilkannya.

Ia masih gemetar, tangannya mencengkeram lengannya.

Mereka berdiri sangat dekat, keduanya diam.

Ia menahan diri, menstabilkan tubuhnya, melepaskannya, mundur setengah langkah, dan bertanya, "Mengapa kamu menggunakan kruk lagi?"

Ia menundukkan kepala, seperti anak kecil yang telah melakukan kesalahan, "Kurasa berat badanku turun, prostesisku longgar..."

Lebih dari sekadar sedikit, ia telah kehilangan banyak berat badan. Ia menyadarinya begitu melihatnya; dagunya menjadi jauh lebih tipis. Beberapa hari terakhir ini, ia tidak bisa makan, dan ia memahami situasinya.

Ia tidak pantas membuatnya menderita seperti ini.

Ini tidak masuk akal. Tidak peduli seberapa keras ia menjauhinya, ia akan dengan keras kepala dan setia kembali kepadanya, tidak peduli berapa kali ia menjauhinya. Apakah itu benar-benar seperti yang dikatakan Jiang Huai, sebuah jejak?

Pikirannya kacau.

Mungkin rasa bersalahnya terlalu besar; ia tidak bisa mengubah apa pun, dan ia juga tidak bisa melawan apa pun. Mungkin, akan lebih baik untuk berpisah; itu akan menjadi yang terbaik untuknya, untuk mengakhiri semuanya di sini.

Atau mungkin, dengan sedikit usaha lagi, dia masih bisa mengubah sesuatu. Tapi dia tidak bisa kembali semudah itu. Beberapa hari terakhir ini, dia telah tenang dan memahaminya. Berdasarkan pemahamannya tentang Jiang Huai selama beberapa bulan terakhir, meskipun dia kejam dalam tindakannya, dia tidak tega untuk membunuh. Penusukan yang direkayasa dengan tongkat golf jelas dimaksudkan untuk mengintimidasi Xu Cheng.

Ekspresinya acuh tak acuh, "Jadi, mengapa kamu harus datang sejauh ini? Aku sudah bilang jangan datang."

Dia terkejut, tidak menyangka dia akan begitu tegas di hadapannya. Dia menusuk, "Aku tidak mengerti, mengapa?"

"Karena aku tidak menyukaimu lagi," kata Xu Cheng. Dia membeku, kilatan kesedihan di matanya yang jernih, "Bagaimana...mungkin ini?"

Dia tidak bisa menatap matanya. Angin dingin menerpa kerah bajunya, membuatnya merinding, "Jiang Xi, begitulah manusia. Mereka bisa tiba-tiba menyukai seseorang, dan tiba-tiba tidak menyukai seseorang. Tidak ada alasan. Mengerti?"

Jiang Xi tidak mengerti, cemas dan bingung, ia terisak, "Tapi aku akan selalu menyukaimu, aku tidak akan pernah berhenti menyukaimu."

Xu Cheng mengerutkan kening, menatap ke kejauhan, wajahnya kaku dan tegang.

Ia bertanya dengan lembut, "Apakah selama ini aku memaksamu...?"

Ia sedikit membuka mulutnya, menarik napas. Angin dingin menerpa paru-parunya, menusuk seperti pisau, "Sudah kubilang, aku tidak suka keluargamu. Aku tidak akan pernah bisa akur dengan mereka. Jika kamu harus memilih antara aku dan Jiang Huai... Jiang Xi, siapa yang akan kamu pilih?"

Ia membeku, meraih tangannya, "Kalau begitu ayo pergi. Xu Cheng, ayo kita pergi dari sini, oke?"

Ia berkata, "Mengapa aku harus pergi dari sini bersamamu? Apa yang kamu miliki sehingga membuatku ingin melakukan ini?"

Hembusan angin kencang menerpa, dan Jiang Xi terombang-ambing ditiup angin, wajahnya pucat pasi, tetapi ia memaksakan senyum lemah, "Baiklah. Jadi... kamu tidak menyukaiku, kan? Aku tidak akan menelepon atau mengirimimu pesan lagi. Tapi…" matanya dipenuhi bayangan bintang yang hancur, "Aku hanya ingin sering bertemu denganmu. Aku akan datang menemuimu secara diam-diam, dari jauh. Anggap saja aku tidak ada, oke?"

Ia mendengarkan kata-katanya dalam diam, memperhatikan jari-jarinya mencengkeram tongkatnya.

Ia menatap jalanan yang kosong, merasa situasinya sangat absurd. Senyum tipis dan pahit muncul di wajahnya, "Kamu adalah manusia yang hidup dan bernapas, bukan kucing atau anjing. Bagaimana aku bisa berpura-pura kamu tidak ada, Jiang Xi?"

"Jangan mencariku lagi. Seharusnya kamu tidak datang hari ini. Pulanglah," ia hendak berbalik ketika

"Tapi Xu Cheng..."

Air mata membasahi tahi lalat di sudut matanya dan mengalir di pipinya. Suaranya memilukan, dipenuhi kerinduan dan kesedihan yang tak berujung, "Aku sangat merindukanmu..."

Setiap kata diucapkan dengan tulus, seperti suara hatinya yang berdarah.

Dia membeku, tak mampu menatapnya. Bahkan sekilas pandang pun akan membuatnya pingsan. Dia mengepalkan tinju dan melangkah menuju warnet tanpa menoleh ke belakang. Saat dia masuk, sekelompok berandal, rokok menggantung di bibir mereka, bergandengan tangan, keluar dengan terburu-buru.

Xu Cheng segera khawatir bahwa dia mungkin telah menakut-nakuti Jiang Xi, dan dia tidak tahu apakah orang-orang ini akan membuat masalah, tetapi A Wu pasti ada di dekatnya dan tidak akan membiarkan siapa pun mengganggunya.

Dia memakai headphone-nya dan mematikan suara game. Tiba-tiba, dia samar-samar mendengar teriakan. Dia segera melepas headphone-nya dan bergegas keluar dari warnet. Tidak ada seorang pun di luar, dan sebuah tongkat tergeletak di pintu masuk gang terdekat.

Hati Xu Cheng hancur. Dia ingin menampar dirinya sendiri beberapa kali. Ia bergegas seperti orang gila dan berbelok ke gang, hanya untuk melihat Jiang Xi berdiri di sana dengan gugup, satu tangan di dinding.

Ia berhenti sejenak, lalu melangkah ke arahnya, melihat sekeliling, "Apa yang terjadi?"

Jiang Xi memeluknya erat-erat, pelipisnya menempel di dagunya, "Aku sengaja melakukannya, untuk melihat apakah kamu akan mencariku."

Xu Cheng segera mencoba melepaskan pelukannya, tetapi Jiang Xi memeluknya erat-erat.

Ia tidak bisa berdiri tegak, menyandarkan seluruh kekuatannya padanya; ia jelas bisa merasakan jantungnya masih berdebar kencang, tubuhnya masih gemetar; ia menangis, "Xu Cheng, jangan coba mendorongku pergi. Aku tahu kamu mengkhawatirkanku."

Xu Cheng tetap diam, lengannya akhirnya melingkari Jiang Xi, memeluknya erat-erat, dan ia menundukkan kepalanya untuk mencium rambutnya dengan penuh gairah.

Bagi Jiang Xi, ia adalah seseorang yang telah hilang dan kemudian didapatkan kembali; tetapi bagi Xu Cheng, itu sama saja.

***

Malam Tahun Baru itu, Xu Cheng mengemudikan perahu ke tengah sungai dan menyalakan kembang api di dek. Ia memeluk Jiang Xi dari belakang, dan bersama-sama mereka mendongak: kembang api melesat ke langit, mekar menjadi bintang-bintang tak terhitung jumlahnya di langit malam yang seperti tirai sebelum berjatuhan. Percikan api yang jatuh ke arah wajah mereka begitu dahsyat sehingga Jiang Xi selalu takut percikan itu akan mengenai wajahnya, dan ia tak kuasa menahan diri untuk tidak mundur. Xu Cheng kemudian menundukkan kepalanya untuk melindunginya, dan keduanya memiringkan kepala mereka, tersenyum sambil memandang langit malam, menyaksikan kembang api meledak dan jatuh lagi dalam pertunjukan yang memukamu .

Malam itu, di kedua tepi Sungai Yangtze, setiap rumah tangga di Jiangzhou menyalakan kembang api. Dari atas air, mereka melihat kota di kedua sisinya menyala dengan kembang api yang bermekaran, seperti hutan api yang berwarna-warni.

Jiang Xi dengan gembira berseru, "Aku ingin membuat permintaan!" Ia berkata, "Aku ingin bersama Xu Cheng selamanya."

Xu Cheng memeluknya erat-erat di tengah semilir angin sungai, menatap langit yang penuh kembang api, sambil berpikir:

Ia rela memberikan apa pun untuk mewujudkan keinginan ini—

Ia berharap ia dan Jiang Xi dapat melewati ini dengan lancar dan lolos dari pusaran ini bersama.

Ia berharap suatu hari nanti, Jiang Xi tidak akan membencinya.

Jika itu terlalu sulit, setidaknya—

Ia berharap Jiang Xi akan selamat.

(Bisa gila ni aku nerjemahin begini. Sedih banget sih. Hikkssss...)

***

BAB 28

Setelah berdamai, Jiang Xi tidak sebahagia sebelumnya.

Ia mulai merasa semakin gelisah.

Juli lalu, ketika ia dibawa pulang, Jiang Chenghui telah mengklarifikasi 'kesalahpahaman' tersebut, mengatakan bahwa pria itu hanya dipukuli dan tidak meninggal. Keluarga Jiang sedang bertransformasi dan tidak akan lagi terlibat dalam kegiatan ilegal; dikatakan juga bahwa meskipun ada beberapa hal yang tidak pantas di masa lalu, mereka telah mendukung banyak keluarga dan mendukung perekonomian Jiangzhou.

Ia berkata bahwa bisnis selalu memiliki area abu-abu; tidak ada hitam dan putih yang mutlak. Ia masih muda, kurang pengalaman sosial, dan ada banyak hal yang tidak dapat ia pahami. Selain itu, ia telah membesarkannya selama bertahun-tahun; bagaimana mungkin ia tidak merasa berterima kasih? Apakah ia tidak peduli dengan Jiang Huai, Jiang Tian, ​​A Wen, dan  Wwu?

Ia menggunakan taktik iming-iming dan ancaman, mengatakan bahwa kencan putrinya dengan Xu Cheng telah menimbulkan gosip. Jika ia berani melakukan hal seperti itu lagi, ia tidak tega menghukum putrinya. Tetapi ia bisa saja mencelakai Xu Cheng.

Saat itu, Jiang Xi berada dalam keadaan bingung. Ia tidak mengerti 'alasan' ini, terlalu lemah dan sendirian, dan bahkan lebih takut menyakiti Xu Cheng. Bayangan Ye Si mendorongnya ke dalam air dan hampir menenggelamkannya menjadi mimpi buruknya.

Ia tidak bisa melepaskan diri, dan ia tidak berdaya untuk melawan. Ia begitu lemah; apa yang bisa ia lakukan? Ia hanya bisa menarik diri, membelakangi kamera, dan menutup matanya.

Namun perpisahan ini kembali membangkitkan kecemasannya. Ia menduga Xu Cheng terlibat dalam sesuatu yang tidak pantas. Tetapi Xu Cheng selalu membantahnya. Ia menjelaskan bahwa ia dan Jiang Huai sama-sama berkemauan keras, dan bekerja sama dengan mudah menimbulkan konflik. Lebih jauh lagi, urusan keluarga Jiang rumit, yang tak pelak lagi menyebabkan frustrasi dan kemarahan.

Ia berulang kali menegaskan kepadanya bahwa ini benar, bahwa transformasi keluarga Jiang berjalan lancar, dan bahwa semua bisnis mereka beroperasi secara sah, yang akan menjadi dorongan besar bagi perekonomian Jiangzhou di masa depan. Jiang Xi tidak pernah meragukan Xu Cheng; ia selalu mengatakan ini, jadi ia mempercayainya.

Tentu saja, Xu Cheng berbohong.

Ketika ia kembali, sikap Jiang Huai terhadapnya telah jauh membaik. Lu Qi menghilang, dan seorang manajer toko baru telah dipindahkan dari tempat lain. Xu Cheng tidak tahu apa yang terjadi di vila setelah ia pergi hari itu, tetapi ia mendengar bahwa Lu Qi telah mengaku dan kemudian dibawa menemui Jiang Chenghui oleh Ye Si.

Tidak lama kemudian, Li Zhiqu bertanya kepadanya apakah ia tahu keberadaan salah satu informannya, Lü Qi.

Xu Cheng tidak tahu, dan tidak bisa dengan gegabah bertanya.

Saat itu, keluarga Jiang jelas lebih mempercayainya daripada sebelumnya. Beberapa percakapan internal atau panggilan penting dengan orang lain tidak lagi dirahasiakan darinya. Xu Cheng kemudian menyaksikan lebih banyak kegelapan dan kekotoran, membuatnya benar-benar kelelahan.

***

Waktu berlalu, dan musim semi tiba.

Dua tahun telah berlalu sejak Xu Cheng pertama kali bertemu Jiang Xi di studio.

Hari itu adalah hari ulang tahun Xu Cheng.

Ia sudah tahu sebelumnya bahwa Deng Kun akan mengunjungi Jiangzhou. Sore itu, Jiang Chenghui dan Jiang Huai akan bertemu dengannya di klub untuk membahas bisnis.

Jiang Huai mengatakan kepadanya bahwa itu adalah hari ulang tahunnya dan memberinya libur sehari agar ia dan Jiang Xi dapat bersenang-senang. Xu Cheng setuju.

Saat makan siang, Xu Cheng 'dengan senang hati' minum anggur; ia tidak tahan minum dan 'mabuk'; lalu ia 'tertidur' di kamarnya.

Meskipun rumah keluarga Jiang ramai dan berisik, bangunan kecil di sebelah barat tempat Jiang Xi dan Jiang Tian tinggal di luar rumah tetap tenang. Bahkan A Wen, yang tidak diundang, tetap berada di kamar pelayan dan tidak berkeliaran.

Xu Cheng mengira Jiang Xi akan pergi ke kelas bimbingan belajar atau kelas seni seperti biasanya di sore hari. Tetapi Jiang Xi tetap di kamar untuk merawatnya.

Ia mengira Xu Cheng benar-benar mabuk, memberinya air dan menyeka wajah serta tangannya. Bahkan ketika ia berpura-pura tidur, Jiang Xi berbaring di sampingnya dengan tenang, mengawasinya.

Waktu berlalu perlahan, dan Xu Cheng dengan lesu membuka matanya. Jiang Xi berbaring miring, menatapnya dengan mata hangat dan tulus seperti biasanya.

Ia berbisik, "Apakah kamu merasa lebih baik sekarang?"

Xu Cheng tidak menjawab, tetapi tiba-tiba mencondongkan tubuh dan menggigit bibirnya, gerakannya kasar, isapannya kuat dan kasar, seperti binatang buas yang tak terkendali.

Jiang Xi terkejut; lidahnya terasa perih. Ia belum pernah diperlakukan sekasar itu sebelumnya. Meskipun bingung, ia tanpa sadar melingkarkan lengannya di leher Xu Cheng, agak sembarangan mencoba menjawabnya.

Namun jari-jari Xu Cheng tiba-tiba menyelip ke dalam roknya, ke tempat yang belum pernah disentuhnya sebelumnya.

Jiang Xi berteriak "Ah!" dan buru-buru mendorongnya menjauh, lalu bangkit duduk. Ia agak linglung.

Xu Cheng yang 'mabuk' berbaring miring, sebagian besar wajahnya terbenam di bantal, tampak tertidur.

Ia merasakan Jiang Xi berlutut dengan gelisah di tempat tidur, tangannya mencengkeram seprai dengan erat, tak bergerak selama satu menit penuh. Setelah diam-diam turun dari tempat tidur, ia tampak berdiri di samping tempat tidur untuk beberapa saat, akhirnya berjinjit mengambil tongkatnya dan pergi.

Pintu tertutup rapat saat Xu Cheng perlahan membuka matanya.

Ia segera bangun dari tempat tidur, mengeringkan jari-jarinya dengan tisu, mengambil tas hitamnya, dan keluar.

Sebelum pergi, Xu Cheng melirik ke luar studio; Jiang Xi sudah mulai melukis. Xu Cheng tahu kebiasaannya; begitu ia mulai, ia akan melukis dengan tekun selama berjam-jam. Ia tidak akan berhenti di tengah jalan, kecuali ada keadaan yang tidak terduga.

Ia segera menghilang ke dalam hutan, lenyap tanpa jejak. Seluruh keluarga Jiang Xi percaya bahwa dia telah melarikan diri dengan bersembunyi di dalam mobil yang sedang pergi. Namun, Jiang Xi diam-diam pernah memberi tahu Xu Cheng tentang jalan rahasia di balik gunung itu.

Xu Cheng bergegas ke gedung kantor Jiang yang baru dibangun di distrik baru, tidak masuk melalui pintu utama. Ia berputar ke tempat terpencil di hutan di balik tembok, memanjat melalui jendela ke toilet pria, mengeluarkan satu set pakaian hitam yang telah ia siapkan di tasnya, mengganti pakaiannya, dan mengenakan topi baseball dan masker.

Ia berhasil menyelinap masuk. Gedung itu baru dibangun, dan kamera pengawas baru akan dipasang minggu depan. Saat itu juga akhir pekan, dan area kantor sepi.

Semua tirai tertutup, dan secercah cahaya menerangi koridor yang remang-remang.

Namun, ia perlu mengatur waktu gerakannya dengan hati-hati, menghindari petugas keamanan dan staf kebersihan yang berpatroli.

Xu Cheng menghindar beberapa kali di area kantor dan melalui tangga darurat, berhasil mencapai lantai atas dan menyelinap ke kantor Jiang Chenghui.

Tidak ada orang di sekitar, dan pintu kantor terkunci. Xu Cheng sebelumnya telah mencuri cetakan kunci dan membuat salinan kuncinya, dengan mudah membuka pintu dan masuk.

Kantor Jiang Chenghui luas. Tirai ditarik tetapi tidak tertutup sepenuhnya, memungkinkan sinar matahari sore menerobos masuk ke ruangan.

Xu Cheng langsung menuju meja. Laci dan lemari terkunci; ia menggunakan kunci utama yang diberikan oleh Li Zhiqu untuk membukanya satu per satu.

Ia menarik napas tenang. Pertama, ia membuka laci yang berisi laporan keuangan bulanan Jiang untuk tahun ini. Ia sudah memeriksanya; semuanya tampak normal. Ia tidak membuang waktu dan segera menutup laci itu.

Ia berlutut dan membuka pintu lemari. Di dalamnya terdapat brankas besar yang dilas ke dinding.

Ia tidak tahu kombinasinya, tetapi selama bekerja dengan ayah dan anak keluarga Jiang, ia telah menghafal semua kunci yang pernah ia temui atau curi.

Membuka brankas dalam keadaan darurat membutuhkan dua kunci.

Dan sekarang ia memiliki enam belas kunci, tidak termasuk kunci pintu kantor dan kunci utama. 256 kombinasi.

Cahaya hitam putih dari tirai menusuk kulitnya. Topinya ditarik rendah, dan keringat menetes di pelipisnya hingga mengenai maskernya.

Terombang-ambing antara gejolak batin dan perjuangan tanpa henti, ia menolak untuk menyerah. Ia pertama kali mencoba kata sandi, memeriksa tanggal lahir Jiang Chenghui dan Jiang Huai—keduanya salah. Ia tidak berani mencoba untuk ketiga kalinya.

Ia hanya bisa secara refleks mulai mencoba berbagai kunci dengan panik. Tangannya bergerak dengan kecepatan luar biasa, dengan cepat mengidentifikasi delapan kunci yang terlalu besar atau terlalu kecil, tidak dapat masuk ke salah satu gembok.

Dari sepuluh kunci yang tersisa, lima hanya dapat masuk ke satu gembok.

Setelah proses ini, kombinasi yang mungkin berkurang menjadi empat puluh lima.

Tenang dan sabar, ia berulang kali dan dengan mantap memasukkan, memutar, menarik keluar, mengganti kunci, menggabungkan, dan memasukkan lagi... Ia tidak tahu berapa lama ia telah mencoba ketika, tiba-tiba, ia mendengar bunyi klik.

Terkejut, ia gemetar. Brankas itu terbuka.

Di dalamnya ada sebuah pistol, beberapa baris peluru, dan lima atau enam buku besar.

Ia dengan panik mengeluarkan buku-buku besar itu, membolak-baliknya semakin cepat, keringat mengalir di wajahnya, tangannya gemetar, pikirannya berpacu untuk memproses informasi di hadapannya. Tapi... ini hanyalah catatan semua bisnis keluarga Jiang selama beberapa tahun terakhir; pendapatannya sangat besar.

Tidak cukup.

Dia tahu uang ini sudah dicuci.

Percuma.

Tepat saat itu, dia mendengar bunyi "ding," pintu lift terbuka.

Xu Cheng langsung menahan napas, berhenti sejenak, dan mendengarkan dengan saksama. Dia mendengar langkah kaki. Dia segera mengembalikan uang itu, menutup brankas, dan mengambil kuncinya.

Detik berikutnya, dia mendengar suara kunci masuk ke dalam kunci pintu kantor.

Xu Cheng merasa ngeri. Begitu pintu terbuka, dia terjatuh ke kamar mandi di sebelahnya.

Jiang Chenghui dan Jiang Huai memasuki ruangan. Secara logis, mereka seharusnya berada di klub sekarang; bagaimana mereka tiba-tiba berakhir di sini?

Xu Cheng menempelkan dirinya ke dinding kamar mandi, menatap satu-satunya jendela, beberapa pikiran berkecamuk di benaknya.

Ini lantai enam.

Seluruh tubuhnya menegang. Dia merayap sangat pelan ke jendela dan melirik ke luar. Sebuah pipa pembuangan yang halus membentang di sepanjang dinding, pelindung hujannya berlapis-lapis. Deretan pohon sycamore berdiri di luar.

Jiang Chenghui berkata, "Lihat? Seorang wanita bisa menampung banyak pria."

Xu Cheng hendak melompat ke jendela.

Seseorang mengetuk pintu. Hening sejenak. Pintu terbuka dengan cepat, dan pendatang baru itu tersenyum, "Aku kira aku belum pernah ke kantor baru Jiang Zong."

Xu Cheng membeku, gerakannya ke jendela terhenti. Dia samar-samar mengenali suara itu, tetapi tidak dapat mengingatnya.

Karena seseorang telah datang, Jiang Huai segera pergi dan membuka tirai. Sinar matahari yang menyilaukan masuk ke kantor, menerangi sudut kamar mandi.

Xu Cheng segera menyandarkan dirinya ke dinding, jantungnya berdebar kencang.

Dia harus pergi.

Pendatang baru itu melanjutkan, "Aku suka mahasiswi, bukan gadis muda. Jiang Zong, Anda tahu aku, aku paling suka mahasiswi yang berpengetahuan."

Bayangan Jiang Huai berkelebat di lantai kamar mandi. Xu Cheng menarik napas dalam-dalam dan melihat ke jendela lagi. Dia harus pergi. Tepat saat itu,

Jiang Chenghui tertawa, "Mahasiswi itu sulit diatur, pemarah, dan cenderung melompat dari gedung."

Suara itu mendesah, "Aku suka seperti itu, lebih seru..."

Xu Cheng tiba-tiba teringat suara itu, rasa dingin menjalari tulang punggungnya. Ia menahan napas, perlahan mendekati celah di pintu kamar mandi, perlahan, mengalihkan pandangannya—orang itu duduk di sofa tunggal di dekat jendela. Xu Cheng pertama kali melihat bahunya, rambutnya yang tipis, setengah dari profilnya...

Ia tidak salah, orang yang sering muncul di siaran berita Kota Jiangzhou.

Xu Cheng merasa seperti jatuh ke dalam gudang es, bulu kuduknya berdiri, dan segera mengalihkan pandangannya!

Ia harus pergi!

Ia diam-diam melompat ke ambang jendela.

"Itu kamar mandi, kan? Aku akan menggunakannya sebentar." 

Orang itu berdiri.

Serangkaian langkah kaki bergema di dalam.

Xu Cheng meraih pipa pembuangan dan melompat keluar.

Ia meluncur turun melalui pipa pembuangan dan pelindung hujan, dengan cepat mencapai lantai dua, dan melompat ke pohon ara.

Ia berpegangan pada batang pohon, meluncur turun dalam beberapa langkah, mengabaikan ranting-ranting yang berdesir dan tiga atau empat kucing yang tiba-tiba melesat keluar dari semak-semak. Ia berlari secepat mungkin, menembus rimbunnya pepohonan.

"Suara apa itu?!"

***

Xu Cheng berlari di sepanjang dasar tembok halaman dan pohon-pohon ara, tanpa pernah menoleh ke belakang.

Ia berlari jauh, memanggil taksi hitam, berkendara tanpa tujuan melewati beberapa jalan, keluar, membuang topi dan maskernya ke tempat sampah, berganti taksi beberapa kali lagi, membuang mantel hitamnya di sepanjang jalan.

Ia merasa seperti melarikan diri tanpa batas waktu, basah kuyup oleh keringat, hatinya membeku.

Siaran berita Jiangzhou yang tak terhitung jumlahnya, pria-pria berpakaian rapi, kegelapan tanpa dasar, laporan yang mengejutkan, mayat-mayat mengambang di sungai...

Semua gambar ini menari-nari di depan matanya, dan untuk pertama kalinya, ia sepertinya menyadari apa yang baru saja disentuhnya.

Kota tempat ia tinggal telah busuk.

Tidak heran keluarga Jiang bertindak tanpa hukuman. Ia mendongak ke langit; sebuah payung hitam besar tergantung di atas kepala, memancarkan cahaya redup dan suram.

Ia ingin pergi ke kantor polisi, tetapi mungkin itu sia-sia. Ia harus kembali sekarang, kembali ke kamar Jiang Xi. Jika Jiang Huai mendapatinya hilang, ia pasti akan mati.

Ia ketakutan, curiga bahwa orang itu telah melihatnya, curiga bahwa semua orang telah melihatnya. Mungkin, setelah hitungan mundur, ia akan menjadi mayat mengambang di sungai.

Xu Cheng melihat bunga-bunga musim semi berwarna merah muda, kuning, dan merah bermekaran dengan menyeramkan di sepanjang jalan-jalan kumuh kota tua Jiangzhou.

Berdiri di siang bolong, ia merasakan rasa gelisah dan tak berdaya yang mendalam, seolah-olah diselimuti oleh malam yang gelap dan luas. Ia bahkan masuk ke toko pinggir jalan, membeli sebotol baijiu, membuka tutupnya, dan mulai minum sambil berjalan, lalu menghancurkan botol itu berkeping-keping setelahnya.

Ia menduga bahwa ia akan mati dengan cara yang mengerikan besok, dan Li Zhiqu lusa.

Ia tidak tahu bagaimana ia sampai ke gunung belakang. Ia terhuyung-huyung kembali ke bangunan kecil di sebelah barat dan, melalui jendela, melihat Jiang Xi masih duduk di tempat yang sama, melukis.

Ia masih sama seperti saat ia pergi, mengenakan gaun putih, murni, tenang, dan tenteram.

Baru sekarang, sinar matahari telah mencapai kakinya, dan sebuah pemandangan muncul di kanvasnya.

Xu Cheng merasa seperti seorang pengembara yang telah menempuh ribuan mil dan menemukan air jernih; seorang pengembara dalam kegelapan tak berujung dan menemukan cahaya, satu-satunya sinar murni! Ia melangkah masuk ke gedung, langsung menuju studio, dan membuka pintu dengan kasar!

Jiang Xi terkejut, tetapi melihat bahwa itu adalah dia, ia tersenyum lagi, "Gege-ku baru saja menelepon untuk bertanya apa yang sedang kamu lakukan, dan aku bilang kamu sedang tidur. Kenapa kamu sudah bangun?"

Jantung Xu Cheng berdebar kencang. Entah karena alkohol, lari jarak jauh, atau rasa takut yang terpendam, pikirannya kabur. Ia dengan hampa berkata, "Aku mengalami mimpi buruk, dan ketika aku bangun dan kamu tidak ada di sana, aku sedikit takut."

Hal ini membuat Jiang Xi terdiam, menganggap perilakunya sangat tidak biasa. Ia segera meletakkan kuasnya dan bergegas ke sisinya, "Ada apa? Wajahmu sangat merah. Apakah kamu merasa tidak enak badan?"

Ia menyentuh wajahnya dengan penuh perhatian, "Apakah kamu demam?"

Xu Cheng tidak menjawab. Jantungnya berdebar kencang saat ia menatap Jiang Xi.

Ia tidak mendengar sepatah kata pun yang diucapkan Jiang Xi.

Ia menggaruk kepalanya dengan kosong, merasa sangat panas. Ia telah berlari dan minum alkohol; alkohol itu berputar-putar di kepalanya. Tahun ini, Gala Festival Musim Semi bertepatan dengan gelombang dingin yang tiba-tiba. Jiang Xi, yang sensitif terhadap dingin, merasa pemanas studio terlalu kuat. Ia merasa sesak napas, buru-buru menarik kerah bajunya, dan dengan cepat merobek kemeja tipisnya, melemparkannya ke lantai, kerahnya hampir terbuka. Ia bermaksud duduk di sofa empuk, tetapi malah tersandung dan jatuh, menarik selimut dari sofa.

Ia duduk bersila di lantai, matanya kosong.

"Ada apa? Apakah kamu kepanasan?" Jiang Xi berlutut di depannya, tatapannya tanpa sadar tertuju pada kemejanya yang setengah terbuka, memperlihatkan otot-otot tipis dan bertulang yang naik turun mengikuti detak jantungnya.

Ia melihatnya, menatapnya, dan tiba-tiba mulai membuka kancing-kancing kemejanya yang tersisa, memperlihatkan perut sixpack-nya yang ramping namun kuat. Suaranya menggoda, "Apa yang kamu lihat? Kamu sudah pernah melihatnya sebelumnya. Ingat?"

Wajah Jiang Xi memerah, "Aku tidak ingat."

"Pembohong," ia menangkup pipi Jiang Xi yang memerah dengan satu tangan, jari manis dan kelingkingnya menekan denyut nadi yang berdenyut di lehernya, "Dua tahun lalu, tepat di sini, kamu melihatku telanjang sepenuhnya. Jiang Xi, apakah kamu akan menyangkalnya?"

Ia tidak bisa membantah lagi, dan berkata dengan genit, "Kamu bersikeras menunjukkannya padaku."

"Jadi kamu tidak menyukainya?"

Ujung jarinya membuat jantung Jiang Xi berdebar lebih kencang, dan bulu mata gadis itu terkulai, "Aku menyukainya."

Ia mengulurkan tangan dan menyentuh perutnya.

"Sejujurnya, bukankah seharusnya kamu juga menunjukkannya padaku?" suaranya kini bernada hasrat, dan tangan satunya bergerak ke lututnya, ujung roknya, dan ke atas.

Wajah kecilnya menempel di telapak tangannya, mulutnya sedikit terbuka, gemetar, namun tak ada suara yang keluar.

Ia menyentuh payudaranya, menelusuri jejaknya—lembut dan penuh, seperti kuncup tulip.

Jiang Xi mengeluarkan erangan lembut, alisnya yang halus sedikit mengerut, matanya sudah berkaca-kaca.

Resletingnya terlepas, meluncur ke bawah bahunya seperti butiran beras yang dikupas.

Tangan kecilnya dengan lemah menggenggam lengannya, dengan lembut memanggil, "Xu Cheng..."

Xu Cheng tiba-tiba menariknya mendekat, menciumnya dengan penuh gairah.

Napasnya panas, seperti seseorang yang demam tinggi, menghirup tetes air terakhirnya. Ia sudah lemas, tak mampu duduk diam, dan ia mendorongnya ke tanah, selimutnya tergulung dan menjatuhkan buku sketsanya. Kuas dan cat berhamburan dan berserakan.

Xu Cheng tampak sama sekali tidak menyadari apa yang sedang dilakukannya, telinganya dipenuhi oleh suara detak jantungnya sendiri, seolah-olah naluri tertentu membuatnya gila, tanpa akal sehat sama sekali.

Jiang Xi awalnya terkejut, mengira dia masih mabuk. Tetapi aroma tubuhnya kurang seperti alkohol dan lebih seperti bau hormon—intens, kasar, namun penuh dengan emosi yang kuat.

Jiang Xi terbius oleh ciuman dan belaiannya, merasakan wajahnya memerah. Ciumannya seperti ciuman seseorang yang demam tinggi, membara, membakar hatinya.

Dia tidak tahu apa-apa, tetapi tubuhnya, dari kulit hingga hati, terasa geli dan mati rasa, seolah-olah jutaan semut mengerumuninya, menguras semua yang ada padanya.

Dia melingkarkan lengannya di lehernya, dan di antara ciuman di telinganya, dengan napas terengah-engah bertanya, "Aku merasa sangat tidak nyaman... Xu Cheng, apakah kamu kesakitan...?"

Ia kesakitan, seolah-olah semua rasa takut, amarah, ketidakberdayaan, kebencian, kesedihan, kekacauan, kerinduan, rasa bersalah, rasa sakit, dan cinta—semua emosi—bergolak di dalam pikiran dan tubuhnya, siap meledak!

Xu Cheng berada dalam kekacauan, sama sekali tidak mampu menenangkan diri. Mungkin untuk sesaat, secercah akal sehat menyuruhnya untuk berhenti, benar-benar berhenti!

Tetapi ia tidak bisa berhenti. Api dorongan destruktif membakar dirinya, keinginan untuk membakar dirinya sendiri dan segala sesuatu di sekitarnya menjadi neraka yang hidup.

Pada saat itu, ia mungkin kehilangan akal sehat, sepenuhnya dikendalikan oleh keinginan dan insting. Ia berbisik, "Jiang Xi, berikan padaku."

Jiang Xi menjawab dengan hampa, "Apa pun yang kamu inginkan, akan kuberikan padamu."

Dan kemudian, secercah akal sehat terakhirnya muncul seperti seutas benang kecil.

Tetapi Jiang Xi benar-benar naif, sama sekali tidak menyadari apa yang sebenarnya ia coba lakukan, apa yang sedang ia lakukan.

Xu Cheng tidak pernah mengajarinya.

Saat itu, dia meringkuk ketakutan, tangannya dengan panik mencakar lengan dan punggungnya.

Namun dia tidak menolak, juga tidak menunjukkan keengganan atau perlawanan. Dia menerima segala sesuatu tentang dirinya dengan cara yang kacau namun rela, dan merangkul seluruh dirinya.

Dia tahu bahwa dia sedang dimanjakan. Jadi dia melanjutkan kegilaannya, seolah-olah dia benar-benar kehilangan akal sehatnya.

Mungkin itu benar; air mata menggenang di matanya. Tapi dia tidak mengeluarkan suara, hanya terengah-engah, kukunya menancap di lengannya, meninggalkan beberapa goresan berdarah. Xu Cheng mendapatkan kembali sedikit akal sehatnya, menyadari apa yang telah dia lakukan.

Dia menciumnya, dengan lembut menghiburnya untuk waktu yang lama.

Tapi dia tidak bisa berhenti, seperti seseorang yang telah melarikan diri dalam ketakutan sepanjang malam tiba-tiba bergegas ke tempat perlindungan yang lembut dan damai. Aroma yang familiar, bersih, dan menenangkan itu terus-menerus menenangkan hatinya. Bagaimana dia bisa berhenti?

Dia tidak berhenti.

Dia tidak tahu apakah dia sedang melampiaskan rasa sakit batinnya atau menikmati cinta yang mendalam. Apakah dia bingung atau sadar? Dia tidak bisa memastikan. Dia hanya tahu bahwa jantungnya berdebar kencang, darahnya mendidih, dan kulitnya terus berkeringat.

Lambat laun, Xu Cheng menjadi lebih lembut. Jiang Xi perlahan menerima semuanya, bersenandung pelan sambil dengan canggung namun penuh kasih sayang memeluknya. Jiang Xi merasa hatinya sangat dekat dengan hati Xu Cheng, seolah-olah mereka telah menyatu, jiwa mereka terjalin.

Jantungnya berdebar kencang, begitu pula denyut nadinya, menciptakan melodi yang harmonis. Kehangatan kulitnya dan napasnya yang panas memenuhi udara; kasih sayang mereka, seperti kasih sayang hewan kecil, merasuk jauh ke dalam hati mereka.

Jiang Xi entah kenapa menyukai pengalaman yang sama sekali asing namun mengasyikkan dan baru ini, seperti roda gigi yang terpasang sempurna dan terkunci bersama, tak terpisahkan. Hanya orang lain itu, yang lembap, intim, dan hatinya dipenuhi dengan kehangatan yang menenangkan.

Ia merasa sangat bahagia, sangat bahagia hingga pingsan.

Xu Cheng memeluknya erat, berbisik di telinganya, "Jiang Jiang..."

"Jiang Jiang"

Itu adalah pertama kalinya dia memanggilnya seperti itu.

Dia tidak tahu mengapa dia memanggilnya seperti itu, tetapi pada saat itu, dia tanpa alasan memanggilnya seperti itu, dengan kelembutan yang tak terbatas, "Jiang Jiang" Dia tampak menyukai nama itu, menjawab dengan lembut dengan "mmm" di telinganya, mencium telinganya, hatinya dipenuhi dengan kegembiraan.

Xu Cheng sebenarnya tidak dapat mengingat setiap hal yang terjadi selama kurang lebih setahun yang dia habiskan bersama Jiang Xi, terutama karena tahun-tahun berlalu, mengaburkan masa lalu. Tetapi beberapa adegan dan momen tetap sangat jelas.

Seperti hari itu, dia seperti seorang pecandu, ingin memilikinya lagi dan lagi.

Kertas lukisan berserakan di lantai, sinar matahari awalnya menyilaukan, lalu meredup. Di luar jendela, matahari terbenam yang megah memenuhi langit. Kemudian, bulan yang sangat terang muncul.

Dia ingat bahwa kulit Jiang Xi berwarna putih bersih dan transparan di bawah sinar matahari; Jika dilukis di atas kanvas, akan dibutuhkan sedikit tambahan warna biru kobalt pada warna putih seng. Tetapi di bawah sinar bulan, kulitnya menjadi putih seperti porselen yang solid, sehingga membutuhkan sedikit warna kuning krom pada warna putih titanium.

Hari itu, dia dan wanita itu menyendiri di studio mereka, terisolasi dari dunia luar.

Lingkungan itu sunyi; bahkan suara terkecil pun terdengar jelas.

Suara punggungnya yang berkeringat menempel pada kain tipis gaunnya, suara jari-jarinya yang menggaruk ringan celah-celah di selimut dan gabus, suara kakinya yang menghentak-hentak kertas gambar, suaranya yang serak, basah, dan lembut.

Dia bahkan mengingat aroma wanita itu hari itu, awalnya seperti embun pagi, perlahan-lahan mengental, menjadi memikat, dan perlahan menyatu dengan aromanya sendiri, berubah menjadi aroma yang samar, menyenangkan, manis, dan sedikit amis.

Ia juga mengingat kata-kata konyol dan malu-malu wanita itu, "Jadi, 'itu' ada di dalam sana."

Ia duduk, mengangkat wanita itu, dan wanita itu mengerang kesakitan, namun tampak puas, senyum tipis dan tak fokus teruk di wajahnya. Pada saat itu, ia pun merasa bahagia.

Kemudian, Xu Cheng membungkus dirinya dengan selimut tipis, berguling dari sofa empuk, dan langsung tertidur di lantai. Ia tidak tahu berapa lama ia tidur, tetapi cahaya bulan tampak lebih terang, dan dunia luar seperti lampu sorot yang terang.

Ia samar-samar mendengar Jiang Huai di luar pintu bertanya kepada Jiang Xi, "Xu Cheng bersamamu sepanjang sore?"

"Ya. Dia benar-benar mabuk,"

Jiang Huai, "Apakah dia di dalam? Aku akan masuk dan bertanya..."

Jiang Xi buru-buru menghentikannya, "Tidak. Dia sedang tidur. Apa yang kamu lakukan?"

Jiang Huai, "Kalian bersama sepanjang sore?"

"Bukankah kamu baru saja bertanya?"

"Dia sudah di studio sepanjang sore, sampai sekarang, sepuluh jam?"

"Sepuluh jam? Lalu memangnya kenapa? Aku bersamanya setiap hari dan aku tidak pernah bosan."

"Ck ck, apa yang kamu lakukan?"

Suara Jiang Xi merendah, "Aku tidak akan memberitahumu."

Jiang Huai, "Kamu masih menyimpan rahasia dariku?"

Jiang Xi, "Sudah kubilang, itu bukan urusanmu."

Xu Cheng berguling, berbaring di atas kertas gambar yang berserakan di lantai. Dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman di tangannya, mengangkatnya, dan di bawah sinar bulan, melihat lengan bajunya berlumuran darah.

Di selimut lembut, di kertas gambar, di tangannya.

Seseorang membuka pintu, dan Xu Cheng menutup matanya.

Jiang Xi datang dengan lembut, perlahan berbaring di sampingnya, kepalanya bersandar di bahunya, menemukan posisi nyaman di pelukannya.

Xu Cheng membiarkannya, berbaring tenang sejenak sebelum menarik napas dalam-dalam, berpura-pura baru bangun tidur.

Ia berbalik, berbaring miring, menarik Jiang Xi sepenuhnya ke dalam pelukannya, dan mencium pelipisnya.

Jiang Xi melingkarkan lengannya di pinggang Xu Cheng dengan gembira, bergumam, "Aku sangat lelah tadi, sampai tertidur. Dan ketika aku bangun, kamu belum bangun."

Xu Cheng dengan malas bergumam setuju.

Jiang Xi mulai menelusuri kontur wajah Xu Cheng dengan jarinya lagi, dari dahi hingga alisnya. Ketika jarinya mencapai pangkal hidungnya, ia tiba-tiba bertanya, "Ke mana kamu pergi siang ini?"

Xu Cheng membuka matanya, jantungnya berdebar kencang.

Tatapan Jiang Xi jelas, "Aku bilang pada Gege-ku kamu sedang tidur. Tapi ketika aku pergi ke kamarmu, kamu tidak ada di sana."

Xu Cheng berkata, "Aku pergi mengambil minuman."

Jiang Xi bingung, "Kamu mabuk, mengapa kamu perlu mengambil minuman?"

"Ya, untuk memberiku keberanian."

Jiang Xi masih bingung, tetapi setelah satu atau dua detik, dia mengerti maksudnya. Matanya melirik ke arah lain, dan wajahnya kembali memerah.

Jari telunjuknya terus menelusuri hidungnya, berhenti di philtrumnya, dan dia berbisik, "Kamu...kamu tidak perlu mengumpulkan keberanianmu. Bukannya aku tidak mau..."

Saat dia berbicara, bulu matanya berkedip, dan dia menatapnya, matanya seperti bintang yang berkaca-kaca.

Pada saat itu, tanpa alasan yang jelas, hati Xu Cheng terasa seperti ditusuk pisau tajam, rasa sakit yang menusuk.

Jarinya terus menelusuri hidungnya, berhenti di bibirnya.

Dia sedikit membuka bibirnya, bibirnya menangkap ujung jarinya. Dia gemetar karena malu.

Dia mendekat dan mulai menciumnya lagi. Dia melingkarkan lengannya di lehernya, membalas ciumannya sambil berbisik, "Xu Cheng, punggungku sakit sekali."

"Benarkah?" tangan hangatnya dengan lembut memijat pinggangnya. 

Jiang Xi tidak bisa menolaknya, dia hanya menginginkannya.

"Tapi..." katanya malu-malu, "Rasanya sangat menyenangkan."

Suaranya serak dan kering, namun dia memanggil namanya berulang kali, "Jiang Jiang... Jiang Jiang..."

Dia benar-benar menyukai panggilan itu, dan segera kembali patuh, membuka hatinya kepadanya seperti biasa, tanpa ragu.

Sebelum hari ini, dia tidak tahu apa-apa tentang keintiman. Dia mengajarinya.

Ternyata, selama enam bulan berpacaran, setiap kali dia memeluk dan menciumnya, hasrat yang asing, membara, dan tak terpuaskan di dalam tubuhnya untuknya, hasrat untuk lebih dekat dan lebih intim dengannya, hanya bisa dipuaskan dengan cara ini.

Betapa bahagianya.

Malu namun gembira, polos namun bersemangat, dia berkata, "Xu Cheng, menurutku ini sangat ajaib!"

Pada saat itu, jauh di dalam hatinya, dia menciumnya, berbisik, "Apa yang ajaib?"

Dia bergumam manis, "Ternyata orang yang saling mencintai dapat memiliki tubuh yang terhubung erat."

Cinta?! ...

Hati Xu Cheng bergetar hebat.

Pada saat itu, menatap mata Jiang Xi yang tulus dan murni di bawah sinar bulan, hatinya seketika terkoyak oleh pisau tajam, berdarah deras.

***

BAB 29

'Kehilangan kendali' hari itu sama sekali di luar rencana Xu Cheng.

Awalnya ia berniat untuk tidak melewati batas. Setelah misi selesai, ia akan kembali ke sekolah, dan Jiang Xi serta Jiang Tian akan diurus oleh Li Zhiqu, yang akan membuatnya tenang. Jika itu tidak cukup baik, jika itu tidak menenangkan pikirannya, ia akan mengurus Jiang Xi dan adik laki-lakinya sendiri.

Namun semua yang tiba-tiba terjadi membuatnya kacau.

Hatinya dihantam oleh guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti kotak rahasia yang telah lama ia coba sembunyikan dan tahan erat tiba-tiba terbuka. Semua rahasia tersembunyinya, seperti hujan es bercampur hujan, menghantamnya, membuatnya benar-benar berantakan.

Xu Cheng dengan cepat mengumpulkan kembali puing-puingnya dan menutup kotak itu lagi. Tetapi pada saat itu, ia membuat keputusan.

Ia mengatakan kepada Li Zhiqu bahwa setelah misi selesai, ia menginginkan dua hal, tetapi ia tidak akan mengungkapkannya untuk saat ini. Li Zhiqu tahu ia tidak akan mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal dan setuju.

Kali ini, Xu Cheng tahu ia harus melakukan segala daya upayanya untuk memastikan keberhasilan misi.

Xu Cheng merenungkan dirinya sendiri, menyadari bahwa berbagai guncangan, perpecahan, gaya hidup hedonistik, kegelapan yang begitu pekat hingga seolah meneteskan tinta, telah mengasingkannya.

Ia sering bertanya-tanya apakah cangkang yang bergoyang di sekitarnya adalah manusia atau iblis yang menyamar.

Ia harus waspada terhadap setiap kekurangan, memperhatikan setiap detail, dan mencari setiap kesempatan untuk menyusup ke lokasi rahasia keluarga Jiang berulang kali, berjalan di atas es tipis untuk menemukan petunjuk.

Di permukaan, ia tampak tenang dan terkendali; di dalam hatinya, ia tegang, mudah takut, dan temperamennya telah berubah drastis.

Di luar, ia menanggung tekanan, kecemasan, ketakutan, dan ketegangan yang tak berujung.

Hanya ketika ia kembali menemui Jiang Xi, hatinya dapat menemukan kedamaian sesaat. Ia seperti satu-satunya tanah suci di hatinya—ia kecanduan Jiang Xi.

Setiap kali berada di rumah, ia akan mengunci diri di studio atau kamar tidur bersamanya. Ia terus-menerus ingin memeluknya, membelainya, menciumnya, dan memilikinya.

Bagaimana mungkin Jiang Xi muncul dari tanah busuk Jiangzhou ini? Ia begitu bersih dan murni, begitu cantik dan polos.

Kulitnya, selembut dan semulus sutra, aroma manis rambut dan dadanya, keringat yang berkilauan di pinggangnya...

Ia tenggelam di dalamnya, seolah-olah tangannya sedang menguleni dan meremas permen kapas yang lembut dan lembap, meninggalkan jejak kelembapan yang lembut dan lentur di mana-mana.

Terkubur di dalam dirinya, rasanya seperti tenggelam ke dalam danau yang hangat dan lembut, air yang jernih dan bersih menenangkan semua kebencian, kesedihan, kepahitan, dan rasa malu di hatinya. Hanya keintiman dan cinta yang paling penting yang tersisa.

Jiang Xi juga menyukai keintiman fisik dengannya. Ia tak bisa menjelaskannya; itu adalah perasaan suka yang melampaui segalanya, keinginan untuk berdekatan erat, terhubung secara intim.

Ia polos dan sederhana, namun ia selalu bisa mengungkapkan cinta dan perasaannya secara langsung dan tulus, merintih, "Xu Cheng, aku merasa sedikit... lelah",  "Xu Cheng, punggungku sakit", "Xu Cheng, aku sangat bahagia."

Ia tidak tahu bahwa kata-kata itu seperti siksaan baginya.

Xu Cheng tampak terpesona olehnya, hanya ingin terikat erat dan penuh gairah dengannya, seolah-olah hidup, jiwa, dan tubuh mereka sepenuhnya menyatu. Hanya dia dan Jiang Jiang yang tersisa di dunia; kekacauan dan kekotoran dunia luar tak lagi bisa menyerang.

Hari-hari paling intim dan penuh gairah mereka bertepatan dengan musim hujan yang lembap di Jiangzhou. Meskipun ada sinar matahari musim semi, udara di dalam ruangan selalu dingin, lembap, dan dipenuhi uap.

Jiang Xi senang telanjang bersamanya, terbungkus selimut tipis, membiarkan panas tubuhnya menyelimutinya, membuatnya tak merasakan dingin.

Lagipula, dia paling takut dingin. Tapi sejak bersamanya, dia sudah lama tidak merasa kedinginan.

Suatu kali, Xu Cheng pergi keluar. Jiang Xi sedang sauna di rumah. A Wen tiba-tiba menemukan bahwa tubuhnya dipenuhi bekas ciuman. Merah terang yang baru, merah tua yang lama—dada, pinggang, lengan, punggung, bahkan selangkangan...

A Wen berseru kaget, "Dia seperti binatang buas! Dia selalu terlihat begitu terhormat, dasi dan jasnya selalu terpasang rapi."

Jiang Xi tersipu dan berkata, "Jika kamu mengatakannya lagi, kamu boleh pergi."

A Wen tahu Jiang Xi tidak tahan jika ada yang mengatakan hal buruk tentang Xu Cheng. Bahkan setelah putus, ketika dia dengan marah mengutuk Xu Cheng beberapa kali, Jiang Xi tidak berbicara dengannya selama dua hari.

A Wen mencubit pipinya, "Baiklah, katakan sesuatu yang ingin kamu dengar. A Wu bilang ayahmu semakin menghargai Xu Cheng. Dia mengajaknya ke banyak acara."

"Benarkah?"

"Ya. A Wu bilang Xu Cheng memang sangat cakap, otaknya tak tertandingi, dan dia sangat berbakat. Ayahmu ingin dia segera memahami..." A Wen menyadari dia sudah terlalu jauh dan segera berhenti.

Jiang Xi merasakan sesuatu, "Apa?"

A Wen memaksakan senyum, "Aku tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan mereka. Bagaimana mungkin aku ingat? Aduh, sudah waktunya. Ayo keluar, aku akan segera merasa pusing."

Jiang Xi merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa alasan yang jelas, ia teringat kejadian pada tanggal 1 Juni tahun lalu. Saat itu, ia begitu larut dalam hubungan asmaranya dengan pria itu sehingga hampir lupa bahwa pria itu telah memutuskan hubungan dengannya tanpa alasan yang jelas.

***

Malam itu, Jiang Xi bermain dengan Jiang Tian di ruang tamu gedung kecil di sebelah barat. Melihat Xu Cheng belum kembali, Awu mengatakan bahwa Xu Cheng berada di gedung utara, sedang berbicara dengan Jiang Chenghui dan Jiang Huai tentang sesuatu.

Jiang Xi merasa cemas mendengar 'gedung utara'. Setelah kejadian tahun lalu, dia tidak pernah pergi ke arah itu lagi.

Namun kali ini, dia diam-diam menyelinap pergi. Dia merayap di koridor dan melihat Xu Cheng dari kejauhan, duduk di kursi rotan di aula bunga, mengobrol dengan ayah dan saudara laki-lakinya.

Dia mengenakan jas yang terbuka, dasinya sedikit longgar, dan satu kancingnya terbuka. Dia tampak energik sekaligus nakal—sebatang rokok terselip di antara jari-jarinya.

Versi dirinya ini tidak dikenalnya.

Cara semua orang mengobrol dan tertawa sangat mirip dengan malam kejadian 'orang mati' tahun lalu.

Jiang Xi perlahan mendekat dan mendengar Jiang Chenghui berkata, "Beri dia pelajaran. Jangan khawatir, dia tidak akan mati."

Xu Cheng mengerutkan kening, menghisap rokoknya dalam-dalam, dan menarik napas dalam-dalam. Dia sedikit membuka mulutnya, menatap lampu gantung kristal di langit-langit, matanya dipenuhi cahaya putih.

Jiang Chenghui berkata, "Xu Cheng, cepat atau lambat kamu akan seperti anakku. Kamu baik dalam segala hal, lebih berprestasi daripada anak-anak lain di keluarga Jiang generasi ini. Hanya saja kamu terlalu sombong dan terlalu kaku. Terlalu berlebihan, itu menyebalkan. A Xi menyukaimu, tetapi ada banyak pria cakap yang ingin menjadi menantuku. Kami tidak membutuhkanmu."

Xu Cheng membuka mulutnya, dan kepulan asap biru perlahan naik, menyelimuti wajah pucatnya yang diterangi lampu malam, membuatnya tampak kesepian.

Seseorang muncul dari sudut, dan Jiang Xi menyelinap pergi, kembali ke bangunan kecil di sebelah barat.

...

Setengah jam kemudian, Xu Cheng kembali, tanpa jejak asap di tubuhnya atau di napasnya. Wajahnya jernih dan cerah, senyum tersungging di bibirnya. Dia selalu tampak seperti ini ketika melihatnya.

Jiang Xi tahu bahwa ketika dia tidak melihatnya, dia akan linglung, bahkan murung. Bahkan lebih dari saat di perahu.

Ia selalu tahu bahwa Xu Cheng tidak bahagia.

Namun, tak peduli bagaimana ia bertanya, Xu Cheng selalu mengatakan tidak.

Malam itu, mungkin karena terbebani emosi yang belum terselesaikan, ia hampir meluapkan emosinya; Jiang Xi menjerit kesakitan, dan baru kemudian Xu Cheng bereaksi, buru-buru meminta maaf.

Saat itulah Jiang Xi terbangun seolah dari mimpi. Ia memperhatikan bahwa Xu Cheng semakin jarang berbicara. Setiap malam, ia hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya berciuman dan bercinta dengan penuh gairah.

Mungkin, semua keintiman itu adalah seruannya minta tolong.

Anehnya, Jiang Xi mengatakan ia ingin kembali tinggal di perahu, meskipun hanya dua atau tiga hari seminggu.

***

Hari ia pindah bertepatan dengan Festival Qingming.

Pada malam hari, api unggun yang tersebar menerangi tepi sungai. Orang-orang membakar uang kertas, memperingati orang yang telah meninggal.

Jiang Xi duduk di dek, menyaksikan pemandangan yang terjadi, ketika tiba-tiba ia bertanya tanpa alasan, "Jika aku meninggal suatu hari nanti, maukah kamu membakar uang kertas untukku?"

Xu Cheng menepuk bibirnya pelan, "Omong kosong apa yang kamu bicarakan?"

"Maksudku, jika... kamu akan membakar uang kertas untuk mengenang orang yang telah meninggal, kan?"

"Aku akan melakukannya, tapi itu hanya formalitas. Aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu."

"Kamu tidak percaya pada hantu atau dewa?"

"Ya. Aku juga tidak percaya pada kehidupan setelah kematian. Aku tidak percaya pada reinkarnasi, dan aku tidak percaya pada dewa."

"Mengapa?"

Xu Cheng berkata, "Aku seorang materialis sejati, dan aku tidak percaya pada pembalasan, baik atau buruk. Jika memang ada pembalasan di dunia ini..."

"Mengapa orang baik meninggal secara tragis? Mengapa kejahatan merajalela?"

Ia menyembunyikan kesedihannya dan berkata, "Percaya pada semua omong kosong itu tidak ada gunanya. Aku hanya ingin mengikuti prinsipku sendiri dan menempuh jalan ini. Datang ke dunia ini, mendengarkan hatiku, dan jujur ​​pada diriku sendiri—itu sudah cukup untuk hidup ini."

Jiang Xi menatap profilnya, profil yang teguh, gigih, namun diwarnai sedikit kesedihan dalam hembusan angin malam. Gambaran itu terukir di hatinya.

Ia bertanya-tanya, Xu Cheng, apakah ini alasan mengapa kamu menderita?

Lambat laun, Jiang Xi mulai menanyakan tentang pekerjaannya. Tidak peduli bagaimana ia bertanya, ia selalu menepisnya dengan 'tidak ada apa-apa'. Tetapi Jiang Xi menjadi curiga dan waspada. Ia tidak bisa menjelaskan, takut jika terlalu banyak bicara akan menimbulkan masalah.

Selama waktu itu, ia secara lahiriah menemani ayah dan anak keluarga Jiang ke berbagai transaksi gelap, menyaksikan korupsi dan kekotoran keluarga tersebut. Diam-diam, ia menggeledah brankas dan buku besar keluarga Jiang seperti seorang pencuri. Setiap langkah penuh bahaya, setiap upaya berakhir dengan kegagalan.

Setiap hari, ia menavigasi hubungan kompleks antara Jiang Chenghui, Jiang Huai, Li Zhiqu, Jiang Xi, dan sejumlah kebenaran dan kebohongan yang bertentangan, kepolosan dan kegelapan. Ia berada di bawah tekanan yang sangat besar, terlalu takut bahkan untuk berbicara dalam mimpinya; ia berada di ambang kegilaan.

Ia terus mengajukan lebih banyak pertanyaan, dan pria itu menjadi tidak sabar, menaikkan suaranya. Kemudian ia terdiam dan berhenti bertanya. Pria itu merasa bersalah dan tersiksa, meminta maaf padanya, mengatakan bahwa ia terlalu lelah karena pekerjaan. Ia benar-benar kelelahan.

Jiang Xi, yang tidak dapat memperoleh jawaban darinya, mencari penghiburan dalam dirinya sendiri.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Xu Cheng sedang terombang-ambing oleh berbagai kenyataan, emosi, krisis, dan bahaya, hampir sampai pada titik kehancuran. Ia berpikir Xu Cheng sedang memilih antara keluarga Jiang dan dirinya; ia tidak sanggup berpisah dengannya, namun ia juga tidak bisa berintegrasi dan menerima keluarga Jiang, terjebak dalam dilema.

Ia mulai merasa bersalah, khawatir, dan patah hati—bersalah karena telah menyeretnya ke dalam dilema; khawatir bahwa perbuatan jahatnya pada akhirnya akan diadili dan dihukum; dan patah hati karena perjuangan menyakitkan yang dialaminya.

Ia tak berdaya untuk menyelesaikan situasi yang sangat besar ini, dan hanya bisa meringankan penderitaannya dengan caranya sendiri. Ia melakukan yang terbaik untuk membalas perasaannya dan menghiburnya melalui ciuman dan keintiman.

Keduanya tampak berkomunikasi secara diam-diam mengungkapkan rasa takut, ketidakberdayaan, keputusasaan, atau rasa iba, sakit hati, dan cinta mereka satu sama lain melalui ciuman, gigitan, pelukan, dan dorongan.

Seolah-olah, setelah seharian mengembara dan tanpa akar, hanya pelukan mereka yang terasa nyata.

Jika malam itu terjadi di atas perahu, dengan hujan deras yang menghantam dek, angin menderu dan dunia bergoyang, Xu Cheng dan Jiang Xi akan menemukan kedamaian, kebahagiaan yang telah lama hilang, dan tidur malam yang nyenyak.

***

Hal yang Jiang Chenghui minta Xu Cheng lakukan, pada akhirnya tidak dilakukannya.

Seorang reporter dari Jiangzhou Daily menulis sebuah artikel berita yang mengkritik pembangunan distrik baru tersebut karena perencanaan yang tidak masuk akal dan korupsi; Jiang Chenghui yakin orang ini tidak boleh dibiarkan hidup.

Tentu saja, Ye Si dan kelompoknya akan bertindak, tetapi dia ingin Xu Cheng mengawasi semuanya. Xu Cheng telah membaca laporan itu; itu bukan sesuatu yang akan dipedulikan Jiang Chenghui, tetapi laporan itu menyiratkan tokoh penting di Jiangzhou—orang yang pernah ditemui Xu Cheng di kantor Jiang Chenghui.

Dia curiga Jiang Chenghui membantu pelindungnya menyelesaikan masalah.

Dia menolak mentah-mentah. Jiang Chenghui tidak terlalu memperhatikannya, tetapi Jiang Huai kembali berselisih dengannya.

Tak lama kemudian, keduanya kembali berselisih.

Pada bulan Mei, Jiangzhou mulai merasakan panasnya musim panas.

Hari itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk meninggalkan klub, Xu Cheng mencium bau aneh di lorong.

Ia mengikuti aroma itu—sebuah ruangan di lantai tiga dipenuhi kabut yang berputar-putar, dan para pemuda dan pemudi tampak sangat menarik. Xu Cheng masuk, memercikkan beberapa botol air dingin untuk membangunkan mereka, dan memanggil polisi. Pelayan itu terkejut dan segera memanggil Qiu Sicheng, yang sedang bertugas saat itu.

Qiu Sicheng juga terkejut, mengatakan bahwa mainan yang mereka mainkan jelas bukan dari klub; mereka pasti membawa mainan sendiri.

Pemimpin kelompok itu, sama sekali tidak terpengaruh, duduk santai di sofa, merangkul pacarnya, meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Sambil berbicara, ia melemparkan beberapa tumpukan uang tunai tebal ke atas meja kopi, "Memberikan tempat ini kepada kalian adalah sebuah bantuan. Ambil uangnya, tutup mulut kalian dan pergilah."

Xu Cheng tidak mengatakan sepatah kata pun, tetapi menekan tombol panggil di ponselnya. Anak laki-laki itu tampak panik, tetapi Jiang Huai muncul dan merebut ponselnya.

Setelah memahami apa yang telah terjadi, ia membawa Xu Cheng ke ruangan kosong di sebelah dan menjelaskan siapa ayah anak laki-laki itu. Ia mengatakan akan membiarkan mereka lolos untuk sementara waktu, tetapi akan memberi tahu orang tua anak itu bahwa mereka dilarang datang lagi.

Xu Cheng berkata, "Jiang Huai, kalian terus mengatakan kalian melakukan sesuatu yang serius. Jika berita ini tersebar, bukankah orang-orang akan menggunakan tempat ini sebagai markas? Terlibat dalam hal ini, kalian ingin mati?"

Jiang Huai menyipitkan matanya, mengucapkan setiap kata dengan jelas, "Aku bilang, ini tidak akan tersebar."

"Mereka perlu diberi pelajaran."

"Apakah kamu tahu siapa ayahnya? Siapa yang memberimu hak untuk menggurui dia?!"

Jiang Huai meraih ponselnya, Xu Cheng mengayunkan lengannya untuk menghalangi, dan keduanya secara bersamaan saling mendorong dengan keras; masing-masing mundur satu atau dua langkah, menciptakan jarak.

Jiang Huai membenturkan kakinya ke meja kopi, rasa sakitnya sangat menyiksa, dan akhirnya meledak, "Aku ingin membunuhmu! Aku bisa mentolerirmu sekali atau dua kali, tapi tidak tiga kali!" 

Dia tiba-tiba melangkah maju, mencengkeram kerah baju Xu Cheng, "Jika aku benar-benar membunuhmu, A Xi akan marah padaku selama satu atau dua tahun, aku akan mengurungnya di rumah, lalu bagaimana? Dia akan sembuh cepat atau lambat. Xu Cheng, kamu benar-benar berpikir kamu punya banyak pengaruh?"

Dagu Xu Cheng sedikit terangkat dari guncangan, dan dia menatapnya, malah tertawa, "Tidak banyak. Apa artinya Jiang Xi bagimu?"

Jiang Huai terkejut, mengangkat tinju untuk memukulnya, tetapi bertemu dengan tatapan dinginnya, dia menariknya kembali, mengumpat, "Dan seberapa baik kamu padanya?"

"Xu Cheng, pahami ini, semua yang kamu miliki sekarang diberikan kepadamu oleh keluarga Jiang. Tanpa keluarga Jiang, kamu bukan apa-apa! Apakah kamu pantas mendapatkannya? Apa yang kamu punya, huh? Selain wajahmu, dan perahu jelekmu!"

"Lebih baik darimu!" ​​Xu Cheng mencibir, "Keluarga Jiang-mu tahu cara mendidik anak perempuan. Jiang Huai, lihatlah di sekitar Jiangzhou, keluarga terhormat mana yang mendidik anak perempuan dengan mengurungnya di sekolah khusus, menyewa tutor untuk mengurungnya di rumah, mencegahnya mendapatkan pendidikan normal? Tidak ada ujian masuk perguruan tinggi, tidak ada kehidupan sosial, tidak ada teman, tidak ada sedikit pun akal sehat! Dia tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup atau melindungi dirinya sendiri di masyarakat. Kamu bahkan tidak membiarkannya berjalan!!"

Jiang Huai terdiam.

"Kamu munafik yang paling brengsek. Bahkan ayahmu tidak perlu berpura-pura. Tapi kamu melakukannya. Kamu berpura-pura sangat mencintainya. Kamu sangat pandai melakukannya, sangat pandai sehingga dia menganggapmu sebagai keluarganya. Dia bilang dia akan mengorbankan hidupnya untukmu, tapi apakah kamu pantas mendapatkannya? Jiang Huai, kamu tidak layak disebut leluhur!" kata Xu Cheng, "Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu dan ayahmu rencanakan? Kamu menyeretku ke dalam permainan ini, jika kamu berhasil melewati proses transformasi dan pemutihan, aku akan menjadi pionmu yang paling berguna. Jika semuanya salah, aku yang akan menanggung akibatnya. Hahaha, Jiang Huai, apa yang kamu bicarakan, pernikahan dan punya anak? Jika kamu sedikit saja mempertimbangkan perasaannya, kamu pasti bisa melakukannya!"

"Dasar bajingan!" Jiang Huai, dengan marah, meninju tulang pipi Xu Cheng. Xu Cheng tidak menghindar. Saat itu, rasa bersalah yang mendalam di dalam dirinya membuatnya menerima pukulan itu.

Sakit sekali.

Ia menoleh, berhenti sejenak, menyentuh darah di pipinya, matanya yang jahat menatap Jiang Huai, dan membalas pukulan.

Keduanya mulai berkelahi. Mereka berdua kejam dan tanpa ampun, menghancurkan meja kopi dan menggeser sofa.

Pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan Jiang Xi berteriak, "Apa yang kamu lakukan?!"

Hari itu, mereka akan menginap di perahu seperti biasa, A Wen mengantar Jiang Xi dan menjemput Xu Cheng untuk pergi ke dermaga. Xu Cheng mengirim pesan sebelum turun bahwa dia akan datang, tetapi dia tidak muncul. Saat itulah Jiang Xi naik ke atas.

Keduanya di dalam berhenti bertengkar, tatapan mereka saling menghindari.

Xu Cheng berbicara lebih dulu, berkata, "Kakakmu minum terlalu banyak."

"Dia juga minum terlalu banyak," kata Jiang Huai sambil merangkulnya, "Hanya bercanda, bukan apa-apa."

Jiang Xi tidak bertanya apa pun, hanya menatap Xu Cheng, "Ayo pulang."

"Oke," Xu Cheng mengambil ponsel dan mantelnya, menghampiri, dan menggenggam tangannya saat mereka pergi. Kelompok di sebelah sudah pergi; Qiu Sicheng dan beberapa pelayan berdiri di koridor, mata mereka tertunduk.

Dalam perjalanan pulang, Jiang Xi tidak bertanya apa pun. Sesampainya di dermaga, Xu Cheng membiarkan Jiang Xi keluar dari mobil terlebih dahulu dan bertanya kepada A Wen apakah Jiang Xi mendengar atau melihat sesuatu. A Wen berkata bahwa ia tidak mendengar apa pun, tetapi ia melihat sekelompok anak muda, mabuk dan berantakan, bergegas keluar dan pergi dengan cepat.

Kembali di perahu, Xu Cheng tidak menjelaskan apa yang telah terjadi. Ia tidak bertanya, dan Xu Cheng tidak ingin berbohong; itu akan terlalu melelahkan.

Setelah lampu dimatikan, beberapa saat kemudian mereka berdua terdiam, tak satu pun dari mereka menutup mata, menunggu dengan tenang agar mata mereka terbiasa dengan kegelapan. Cahaya siang yang masuk melalui jendela bundar memungkinkan mereka untuk samar-samar melihat kompartemen di perahu kecil itu.

Jiang Xi berbisik, "Xu Cheng?"

"Hmm?"

"Apakah kamu ingat musim panas lalu, di sini? Kita berada di atas perahu, hanyut di sungai."

"Aku ingat."

"Aku sangat ingin kembali ke masa itu."

Xu Cheng tetap diam. Ia juga merindukannya.

"Xu Cheng, bagaimana jika saat itu, kita hanyut sampai ke Shanghai, berganti perahu, dan berlayar di lautan, tak pernah menoleh ke belakang?"

Ia tanpa sadar membayangkan adegan itu; jika saat itu, mereka berlayar ke timur, tak pernah menoleh ke belakang...

Ia dan dia akan bergegas menuju satu sama lain, berciuman penuh gairah, berpelukan, dan bercinta dalam kegelapan.

Erangan lembutnya terdengar seperti tangisan, napasnya yang pelan seperti desahan...

***

Keesokan harinya, mereka berdua bangun lebih pagi dari biasanya dan berjalan-jalan ke terminal feri terdekat. Mereka membeli mi beras dari pasar pagi dan membuat dua mangkuk. Sambil makan mi, Jiang Xi tersenyum bahagia, mengatakan bahwa rasa favoritnya tidak berubah.

Melihatnya bahagia, Xu Cheng tak kuasa menahan senyum. Ia pun bahagia saat itu.

Namun dalam perjalanan ke perusahaan, Jiang Xi tiba-tiba bertanya, "Xu Cheng, jika kita bisa tinggal di tempat lain sekarang, maukah kamu ikut denganku?"

Ia berbicara dengan tenang. Bayangan pepohonan di luar jendela jatuh di wajahnya, seperti perjalanan waktu yang perlahan.

Pada saat itu, Xu Cheng merasakan gelombang emosi di dadanya, tetapi ia menahan diri dan tidak langsung menjawab.

Selama beberapa bulan, ia telah mencoba membuka brankas di semua gedung perkantoran Hui Se, Jin Hui Logistics, perusahaan pengiriman barang, real estat, dan lainnya, tetapi tidak berhasil. Hanya satu tempat yang tersisa: bangunan utara kompleks keluarga Jiang tempat Jiang Chenghui tinggal.

Mungkin, jika diberi sedikit lebih banyak waktu, dia akan berhasil.

Dalam beberapa detik pergumulan batin itu, Jiang Xi tiba-tiba teringat apa yang dia katakan pada Malam Tahun Baru, "Apa yang kamu miliki sehingga membuatku ingin melakukan ini?"

Bulu matanya sedikit turun, menyembunyikan rasa perih di matanya, dan dia dengan cepat tersenyum tipis, "Aku hanya bercanda. Ayah tidak akan setuju jika aku pergi ke tempat lain."

Xu Cheng tidak tahu harus berkata apa, jadi dia tetap diam.

Jiang Xi berpikir, pada akhirnya, dialah yang mengurungnya di rumah mengerikan dan kanibalistik ini. Dia juga telah dimangsa, dan telah menjadi orang lain.

Tapi dia tidak tega melepaskannya, tidak tega berpisah darinya.

Dia menggigit bibirnya dan bertanya, "Kalau begitu... bisakah kamu berhenti bekerja untuk Ayah dan Gege-ku? Mari kita lakukan sesuatu yang lain, oke?"

Xu Cheng berkata, "Bukankah kita sudah membahas ini berkali-kali?"

Jiang Xi berkata, "Apakah Ayah dan Gege-mu memaksamu? Aku akan pergi berbicara dengan mereka, memohon kepada mereka..."

Xu Cheng terkejut, "Bisakah kamu berhenti ikut campur dalam pekerjaanku?!"

Mobil itu sunyi senyap, hanya terdengar suara mesin yang lembut. Awen mengemudi di depan, matanya tertuju lurus ke depan.

Jiang Xi menundukkan kepalanya, pipinya memerah lalu pucat pasi.

Mereka sering bertengkar akhir-akhir ini, dan kesabarannya sudah habis, kadang-kadang ia menjadi tidak sabar. Tapi ini pertama kalinya ia berbicara begitu kasar.

Xu Cheng merasakan sedikit rasa tidak nyaman. Ia menggenggam tangannya, ibu jarinya dengan lembut mengusap punggung tangannya; Jiang Xi membiarkannya, tetapi telapak tangannya sedikit dingin.

Ia tidak ingin Jiang Xi sedih, dan tidak berdaya untuk menjelaskan, "Aku bukan siapa-siapa, atas dasar apa aku harus memberimu kehidupan yang kamu miliki sekarang? Jiang Xi, aku harus meraih kesuksesan."

Jiang Xi segera mendongak, dengan tergesa-gesa berkata, "Aku tidak menginginkan semua itu. Xu Cheng, rumah, mobil, tempat tidur besar, aku tidak membutuhkan semua itu."

"Tapi aku menginginkannya. Jika kamu bersamaku dan hidupmu lebih buruk dari sekarang, lalu mengapa kamu bersamaku?"

Jiang Xi tidak mengerti, "Aku menyukaimu. Bukankah itu sudah cukup?"

Xu Cheng merasa seperti ditusuk pisau di hatinya; ia hampir pingsan.

"Xu Cheng, mari kita lakukan hal lain..."

"Jangan sebutkan lagi, Jiang Xi, aku benar-benar tidak ingin berdebat denganmu."

Kepalanya tertunduk, tak berdaya.

Xu Cheng menariknya ke dalam pelukannya, dagunya menempel erat di pelipisnya, "Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Sungguh. Jangan khawatir. Oke?"

Jiang Xi melingkarkan lengannya di pinggangnya dan menutup matanya dalam diam.

Setelah keluar dari mobil dan memasuki gedung perusahaan, Xu Cheng tanpa alasan yang jelas teringat kata-kata Jiang Xi dan, seolah dirasuki, tiba-tiba merasa ingin berbicara dengan Jiang Chenghui. Ia tidak menggunakan lift tetapi menaiki tangga. Saat mendekati pintu kantor, ia mendengar percakapan, "Xu Cheng masih terlalu keras kepala," itu suara Jiang Chenghui, "Dia hampir memanggil polisi? Hal-hal seperti ini terjadi di tempat ini, itu normal. Dia terlalu berlebihan."

Jiang Huai berkata, "Karena kita sedang bertransformasi, hal semacam ini perlu dikendalikan dengan ketat. Memanggil polisi jelas bukan pilihan; tetapi niatnya benar."

"Itu benar."

"Ayah, aku benar-benar tidak berpikir Xu Cheng cocok untuk ini," kata Jiang Huai, "Dia sangat cakap, tetapi industri ini tidak cocok untuknya. Biarkan dia pergi bersama A Xi melakukan apa pun yang mereka inginkan dan hidup sesuka mereka. Orang seperti dia akan unggul di mana pun mereka berada dan dalam profesi apa pun yang mereka geluti. A Xi tidak akan mengalami kesulitan jika mengikutinya. Biarkan mereka pergi."

"Sudah kubilang. Putriku tidak bisa meninggalkan rumah!"

"Mengapa kamu begitu keras kepala?"

"Ayah dan anak, jangan bertengkar sepagi ini," Jiang Chengguang menasihati, “Jiang Huai, ada beberapa hal yang tidak kau mengerti. Lebih baik mempercayainya daripada tidak mempercayainya.”

"Ada apa?"

Jiang Chenghui, "Diam!"

Tidak ada suara.

Terdengar langkah kaki di belakangnya, dan Xu Cheng bersembunyi di balik sudut. Melihat bahwa itu adalah asisten Jiang Chenghui yang sedang membuat teh, dia tidak tinggal lebih lama dan segera pergi.

***

Xu Cheng gelisah sepanjang hari itu dan pulang kerja lebih awal. A Wen mengatakan bahwa Jiang Xi sedang tidur dan tidak menggambar hari ini.

Xu Cheng berhenti dan bertanya, "Dia sedang bad mood hari ini?"

Meskipun dia mengirim pesan teks siang hari, dia menggunakan banyak emoji bolak-balik. A Wen tidak menjawab, tetapi membawa Xu Cheng ke studio, mengambil sebuah kotak kayu kenari besar dan indah dari rak di dalam. Kotak itu terbuka. Lukisan-lukisan itu semuanya tentang dirinya.

Xu Cheng tahu Jiang Xi suka menggambarnya. Setelah mereka bersama, dia telah melihat setiap gambar yang dibuat Jiang Xi. Beberapa tentang dirinya, beberapa bukan. Tetapi gambar-gambar di dalam kotak ini sama sekali tidak dikenalnya.

Sebuah lukisan minyak yang menggambarkan dirinya sedang menunggu bus di halte bus di luar sekolah. Sinar matahari sangat terang; ia membawa tas sekolahnya, jaket seragam sekolahnya diikatkan di pinggangnya, menatap ke arah datangnya bus. Bertanda tangan, "Jiang Xi, 11 Oktober 2003."

Mereka tidak berhubungan sejak perjalanan pertama mereka ke taman hiburan pada Mei 2003; kecuali sekilas melihatnya dari jauh di gerbang sekolah pada Juni, ia tidak pernah melihatnya lagi. Hingga Juni 2004, ketika ia naik perahu miliknya.

Tapi...

Ia membolak-balik lukisan-lukisan itu dengan cepat; tidak banyak, hanya lima atau enam. Tetapi dalam lukisan-lukisan itu, pakaiannya berubah dari tebal menjadi tipis, pohon-pohon sekolah layu dan tumbuh subur kembali, dan lukisan terakhir bertanggal "11 April 2004."

Setahun kemudian, ketika mereka bertemu lagi, ia berbohong. Ia selalu mencintainya. Diam-diam, ia tidak pernah melupakannya.

Wajah Xu Cheng Wajahnya memucat.

Awen menutup kotak itu, "Xu Cheng, A Xi benar-benar menyukaimu. Dia sangat sederhana. Begitu dia memutuskan seseorang atau sesuatu, dia tidak akan mengubah pikirannya. Aku tahu kamu ingin meraih kesuksesan, tapi A Xi tidak membutuhkanmu untuk itu. Kamu orang baik, kamu tidak cocok, dan seharusnya tidak bekerja untuk keluarga Jiang lagi. Kenapa kamu tidak meminta bos untuk mengizinkanmu pergi?"

Xu Cheng berhenti sejenak, duduk di sofa empuk, dan berkata, "Bos tidak akan setuju."

Awen menundukkan bahunya, tampak tidak terkejut.

Xu Cheng menatapnya, "Apakah kamu tahu sesuatu?"

Awen menggertakkan giginya, gemetar ketakutan. Tapi dia memang berencana untuk menceritakan ini kepada Xu Cheng, dan akhirnya berbicara.

"Apakah kamu... tahu mengapa A Xi dan Tian Tian... diadopsi?"

A Wen mendengar ini bertahun-tahun yang lalu tetapi tidak berani memberi tahu siapa pun.

Setelah melahirkan Jiang Huai, anak-anak Nyonya Jiang selanjutnya semuanya mengalami keguguran atau meninggal di usia muda. Nyonya Jiang juga mengidap kanker dan mendekati akhir hayatnya.

Jiang Chenghui dan istrinya pergi ke pegunungan untuk berdoa kepada Buddha dan bertemu dengan seorang peramal. Peramal itu sangat akurat, memprediksi kehidupan masa lalu pasangan itu dengan tepat, bahkan mengetahui di mana bekas luka dan tanda lahir mereka berada. Jiang Chenghui segera bertanya bagaimana cara memperpanjang hidupnya. Kehidupan istrinya. Namun, peramal itu mengatakan bahwa Jiang Chenghui memiliki masalah yang lebih besar; dia tidak akan meninggal dengan tenang dan tidak akan memiliki keturunan. Jika dia mengadopsi seorang gadis kecil yang cacat dan malang dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri, itu mungkin akan menyelesaikan masalah dan mencegah bencana.

Jiang Chenghui kemudian pergi ke panti asuhan untuk mencari anak-anak. Setelah beberapa kali memilih, dia tidak menyukai anak-anak dengan kelainan bentuk wajah atau keterbelakangan intelektual, dan akhirnya memilih seorang gadis kecil yang cantik dan pincang. Namun, gadis kecil itu dengan keras kepala menolak untuk meninggalkan adik laki-lakinya. Untungnya, adik laki-lakinya juga berkulit putih, jadi mereka mengadopsinya juga.

Jiang Chenghui kemudian membawa gadis kecil itu menemui peramal untuk memeriksa wajahnya dan meraba tulangnya.

Peramal itu menyentuh tanda kecantikan di bawah mata gadis kecil itu dan mengatakan bahwa anak ini sangat terpilih. Selama anak itu dilindungi dengan baik dan tetap bahagia dan riang, dia dapat melindunginya dari kemalangan. Dia bahkan mengatakan bahwa orang yang akan dibawa gadis kecil ini di masa depan dapat membersihkan keluarga Jiang dari dosa-dosa mereka. Namun, ia memperingatkan agar jangan pernah membiarkan gadis kecil itu meninggalkan rumah, karena hal itu akan membawa malapetaka. Ia hanya boleh menikah dengan menantu laki-laki matrilokal, dan tidak boleh menikah keluar.

Gadis kecil ini 'sangat kuat'.Bertahun-tahun yang lalu, dokter mengatakan Nyonya Jiang tidak akan hidup lebih dari tiga bulan, tetapi setelah mengadopsi Jiang Xi dan Jiang Tian, ​​Nyonya Jiang hidup dua tahun lebih lama. Sebaliknya, Jiang Xi, yang sehat di panti asuhan, tanpa alasan yang jelas terkena pneumonia dan miokarditis pada tahun pertama ia masuk keluarga Jiang, menderita beberapa penyakit serius. Bukankah ini mencegah bencana?

Kemudian, hal yang sama terjadi; setiap kali Jiang Xi jatuh sakit parah, keluarga Jiang secara ajaib terhindar dari bahaya. Tidak mungkin ada kebetulan yang lebih luar biasa. Saudara-saudara Jiang semakin yakin. Bagaimana mungkin mereka tidak percaya bahwa orang yang tidak berbakat, tidak bermoral, dan hina seperti itu memiliki kekayaan sebesar itu?

Bahkan tahun lalu, ketika Jiang Xi baru saja melarikan diri dari rumah, Fang Xinping memperoleh bukti penting dan datang untuk membuat masalah, memaksa Jiang Chenghui dan Jiang Chengguang membayar seseorang untuk menghancurkan bukti dan bahkan membunuhnya.

Yang tewas adalah seorang polisi, hampir menyebabkan bencana besar. Ternyata roh penjaga telah melarikan diri.

Keluarga Jiang telah berusaha mengubah bisnis mereka dalam beberapa tahun terakhir, dan Xu Cheng, yang dibawa kembali oleh Jiang Xi, dengan sempurna memenuhi ramalan sang guru: untuk membersihkan dosa-dosa mereka. Bukankah ini berarti mereka dapat berhasil membersihkan diri mereka sendiri?

"Semua orang mengatakan dia adalah putri keluarga Jiang, dan banyak orang di Jiangzhou mengutuknya di belakangnya. Tetapi keluarga Jiang tidak pernah membesarkannya dengan baik. Jika dia dibesarkan di panti asuhan, mereka akan memberinya kaki palsu dan mengirimnya ke sekolah. Aku melihat di berita tahun lalu bahwa tiga anak yatim dari panti asuhan Jiangzhou diterima di universitas. Jika Jiang Chenghui tidak menerimanya, anak yang cerdas seperti itu pasti sudah menjadi mahasiswa baru di perguruan tinggi, menjalani kehidupan yang indah."

"Xu Cheng, selain Huai Ge, tidak ada seorang pun di keluarga ini yang benar-benar peduli pada A Xi . Bahkan Ye Si pun meremehkannya. Tapi A Xi tidak tahu semua ini, dan aku tidak berani memberitahunya," A Wen menangis, "Aku tahu tentang urusan keluarga Jiang, dan kamu meremehkan mereka dan menganggap mereka menyebalkan. Tapi kalian berdua seharusnya tidak terus berdebat dan berpisah karena hal-hal ini; itu tidak ada gunanya. A Xi tidak bermaksud memprovokasi kalian; dia hanya merasa terlalu bersalah dan menyeretmu ke dalam kekacauan ini."

"Tahukah kamu? Tahun lalu, selama hari-hari setelah dia dibawa kembali dari perahu, dia sangat merindukanmu, menangis setiap hari. Tapi dia bertahan, takut menyeretmu ke dalamnya. Jika kamu tidak mengirimkan foto-foto itu kepadanya, dia akan terus menderita dalam diam."

A Wen pergi.

***

Xu Cheng ambruk di sofa empuk, kepalanya berdenyut-denyut, tidak mampu bangun untuk waktu yang lama. Ia merasakan sakit yang luar biasa, sampai-sampai ia merasa benar-benar tak berdaya, menatap kosong ke langit-langit. Pikirannya, tubuhnya, semuanya kacau balau, setiap bagian tubuhnya tersiksa.

Pertengkaran semalam dengan Jiang Huai sebagian didasarkan pada spekulasinya, sebagian pada kemarahannya, dan sebagian lagi upaya yang disengaja untuk memeras Jiang Huai secara emosional.

Selama berada di rumah keluarga Jiang, di bangunan kecil di halaman utama itu, ia telah lama menyadari bahwa satu-satunya orang di seluruh keluarga yang benar-benar peduli pada Jiang Xi adalah Jiang Huai.

Ia sudah menduga ini.

Tetapi mendengarnya dengan telinganya sendiri, kesedihan mendalam yang ia rasakan untuk Jiang Xi...

Hatinya sakit karena Jiang Xi, sakit yang memilukan.

Tetapi hak apa yang dimilikinya?

Ia tidak tahu bagaimana Jiang Xi akan menerima semuanya ketika kebenaran terungkap, dan bagaimana ia akan menghadapinya.

Ia menjadi gila. Ia bahkan mulai bertanya-tanya apakah ada cara untuk mencegah Jiang Xi mengetahui identitasnya.

Bukan hanya dia yang menjadi gila.

Jiang Xi mulai mengalami insomnia, mimpi buruk; mimpi tentang Xu Cheng yang dibunuh atau dipenjara. Jika dia tinggal di rumah keluarga Jiang malam itu, dia pasti akan menolak untuk tidur di sana dan bersikeras untuk kembali ke perahu.

Terkadang, dia akan terbangun dari mimpi buruk dan menangis tersedu-sedu, "Aku tidak suka kamu tinggal di rumah keluarga Jiang, melakukan hal-hal itu."

"Mengapa?"

"Aku merasa itu salah, itu tidak benar."

"Sungguh, tidak," dia berusaha sebaik mungkin untuk menghiburnya, memeluknya dan mengayunnya dengan lembut, "Aku tidak melakukan kesalahan apa pun."

"Xu Cheng, ayo pergi, ayo kita tinggalkan tempat ini. Apa gunanya menghasilkan begitu banyak uang? Ayo kita ajak Tian Tian dan kabur bersama, oke?"

"Kamu tahu kita tidak bisa melarikan diri," dia harus membuatnya menghadapi kenyataan; dia harus, dia tidak bisa merusak rencana itu.

Dia akan terdiam, kalah.

Terkadang, ia menangis, "Jika bukan karena aku, kamu tidak akan terjebak dalam situasi ini, melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai, kan?"

"Tidak. Jiang Xi, sungguh tidak. Ini tidak ada hubungannya denganmu, jangan terlalu memikirkannya."

Namun kata-kata tidak berguna.

Ia diliputi rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri yang mendalam, percaya bahwa kesulitan yang dialaminya saat ini sepenuhnya adalah kesalahannya. Xu Cheng berusaha sebaik mungkin untuk tersenyum dan tampak tenang di depannya, tetapi rasa bersalah, ketegangan, penindasan, dan sakit hati sangat membebaninya, membuatnya sulit bernapas. Keheningan, ketidakpedulian, kesedihan, melankoli, dan ketidakfokusannya, di matanya, mengungkapkan kegelapan keluarga Jiang, pengorbanannya untuknya, ketidakberdayaannya, dan ketidakmampuannya untuk melarikan diri. Ia merasa semakin bersalah, sakit hati, dan kehilangan arah, dan tidak lagi bahagia. Baginya, ini berarti menyalahkan diri sendiri dan rasa sakit yang lebih dalam, penindasan dan kebencian diri yang berlipat ganda yang berasal dari penyembunyiannya tentang dirinya.

Itu seperti lingkaran setan.

Satu-satunya saat mereka merasa tenang adalah ketika mereka kembali ke perahu. Saat cuaca perlahan menghangat, Xu Cheng, yang menyelesaikan pekerjaannya lebih awal, akan hanyut tanpa tujuan ke tengah sungai.

Jiang Xi, seperti sebelumnya, akan merangkul pinggangnya dan bersandar di bahunya. Mereka akan menatap hamparan air yang luas di depan, tanpa berkata apa-apa, menyaksikan matahari terbenam dan langit berbintang.

Pada saat-saat seperti ini, hati Xu Cheng akan menemukan kedamaian sesaat. Jika bisa, ia ingin bersamanya selamanya, hanyut di atas air, mengejar arah timur.

Namun begitu sampai di darat, ia tidak melihat masa depan, tidak yakin kapan mereka akan menemukan jalan keluar.

***

Bulan Juni tiba dalam sekejap mata, dan tahun akan segera berakhir. Xu Cheng memberi tahu Li Zhiqu bahwa jika tidak selesai pada bulan Juli, masalah itu akan berakhir di sana.

Setelah berpikir sejenak, Li Zhiqu setuju.

Xu Cheng menambahkan bahwa meskipun sudah selesai, ia tetap menginginkan kedua hal itu.

Li Zhiqu terkejut dan bertanya apa yang diinginkan Xu Cheng. Ia bisa menyetujui satu hal; hal lainnya membutuhkan persetujuan dari atasannya.

Xu Cheng tetap dingin dan tidak menanggapi, tidak memberikan penjelasan, hanya mengatakan bahwa persetujuan sudah cukup, jika tidak, operasi akan dihentikan.

Selama setahun di keluarga Jiang, seluruh sikapnya telah berubah drastis. Li Zhiqu terkadang merasa sulit berkomunikasi dengannya.

Akhirnya, Li Zhiqu menerima jawaban dari atasan: Persetujuan.

Waktu berlalu hari demi hari, dan Xu Cheng semakin cemas.

Hingga tiba-tiba, sebuah kesempatan emas muncul.

Pada akhir Juni, ayah Jiang Chenghui dan Jiang Chengguang meninggal dunia pada usia delapan puluh sembilan tahun, yang dianggap sebagai kematian yang bahagia. Keluarga Jiang mengadakan upacara pemakaman besar untuk menunjukkan bakti mereka—mengikuti adat istiadat lama Jiangzhou, peti mati es diletakkan di rumah, dan jenazah disemayamkan selama tiga hari.

Kediaman Jiang dipenuhi aktivitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, hiruk pikuk suara, menyelenggarakan upacara pemakaman termegah yang pernah diadakan Jiangzhou dalam beberapa dekade. Orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, pejabat tinggi, dan tokoh-tokoh terkemuka dari dunia sah maupun tidak sah di Jiangzhou dan sekitarnya semuanya hadir.

Karangan bunga kuning dan putih membentang dari aula duka hingga ke gerbang, berlapis-lapis, sepanjang ratusan meter; bait-bait elegi berkibar tertiup angin, pemandangan yang benar-benar megah.

Lelaki tua itu memiliki dua putra dan dua putri, ditambah cucu Jiang Huai, menantu perempuan, cicit, dan menantu laki-laki—puluhan orang secara total—bersama dengan banyak anak baptis dan cucu dari dunia bawah. Kecuali Jiang Tian, ​​​​semua orang mengenakan pakaian berkabung, berlutut di kedua sisi aula duka. Setiap kali tamu datang untuk bersujud, mereka semua akan membalasnya.

Xu Cheng, yang menemani Jiang Xi, berada di antara mereka.

Selama dua hari pertama pemakaman, Xu Cheng tidak memiliki kesempatan untuk pergi. Terlalu banyak orang yang datang untuk memberi penghormatan, dan dia tidak bisa pergi lama. Namun, rumah besar keluarga Jiang dipenuhi orang; hampir tidak ada kamar kosong. Para pengawal yang biasanya menjaga gedung utara kewalahan—gedung utara juga menampung banyak tamu. Bahkan staf dari tempat hiburan keluarga Jiang pun didatangkan untuk membantu.

Keluarga Jiang sangat berpengaruh dan memiliki jaringan hubungan yang padat dan kompleks. Kecuali mereka yang tidak bisa tinggal lama, semua orang tetap tinggal untuk berjaga-jaga bagi almarhum, menunggu prosesi pemakaman pada pagi hari keempat.

Dengan begitu banyak orang, tidak ada yang bisa dilakukan. Meja-meja mahjong yang tak terhitung jumlahnya didirikan sementara di kamar-kamar dan aula, tempat orang-orang merokok, makan, minum, dan bermain kartu siang dan malam. Seluruh rumah besar itu dipenuhi dengan suara gong dan musik di siang hari dan diterangi dengan terang di malam hari. Koneksi adalah kunci kekayaan, menunjukkan kekuatan besar dan pengaruh mendalam keluarga Jiang di Jiangzhou.

Jiang Xi tetap diam. Ia tidak menyukai acara-acara ramai dan berisik yang membuatnya gugup dan cemas. Upacara pemakaman, menurutnya, hanyalah pertunjukan kekuasaan dan pertemuan sosial bagi orang yang masih hidup, absurd dan menggelikan.

Ia telah berlutut dan berdiri selama dua hari berturut-turut, dan tubuhnya perlahan-lahan melemah. Saat itu musim hujan, dan malam-malam dipenuhi angin kencang dan hujan deras, membuat karangan bunga yang rumit di siang hari basah kuyup dan berantakan. Pada malam pertama berjaga, angin kencang menerpa aula duka, menciptakan kontras yang mencolok antara panas dan dingin, dan Jiang Xi demam keesokan paginya.

Xu Cheng ingin ia beristirahat, tetapi Jiang Chenghui merasa itu bukan sesuatu yang serius dan ia bisa melanjutkan. Xu Cheng terus mengawasi kondisinya. Malam berjaga itu diikuti oleh hujan deras lainnya, perubahan mendadak dari panas ke dingin, pengalaman yang benar-benar menyiksa.

Bibir Jiang Xi kering, pipinya memerah, dan ia mulai merasa pusing. Xu Cheng, khawatir ia tidak akan selamat, memberi tahu Jiang Huai bahwa Jiang Xi demam tinggi dan segera membawanya kembali ke gedung kecil di sebelah barat.

Di gedung yang luas itu, selain Jiang Tian di kamarnya, tidak ada orang lain yang terlihat.

Xu Cheng menemukan obat untuk Jiang Xi, mencampurnya dengan air hangat, dan memberikannya kepada Jiang Xi.

Jiang Xi dengan lemah bertanya, "Apakah kamu akan segera pergi? Aku sedikit takut."

Di luar jendela, hujan deras turun, disertai kilat dan guntur.

Ia menyingkirkan selimut, naik ke tempat tidur, dan memeluknya, "Aku tidak akan pergi. Aku akan tinggal di sini dan tidur bersamamu."

Kemudian Jiang Xi tertidur dengan tenang.

Setelah napasnya tenang, Xu Cheng perlahan bangun dari tempat tidur, berganti pakaian menjadi kemeja hitam, menyampirkan tas hitam di bahunya, mengenakan jas hujan tipis, dan turun ke bawah, menghilang di tengah hujan. Ia memasuki rumah dan merayap di sepanjang semak-semak lebat di dinding halaman menuju bangunan utara. Saat itu, sebagian besar ruangan di bangunan tersebut menyala. Xu Cheng, lincah dan cepat, memanjat pipa pembuangan dan kanopi pendingin udara.

Melewati jendela di lantai tiga, jendela itu tiba-tiba dibuka. Terkejut, ia segera menempelkan dirinya ke dinding, takut bergerak. Dari dalam terdengar teriakan gembira seseorang yang sedang melempar kartu, "Brawl! Straight Flush! Hahaha!"

"Astaga, tutup jendelanya! Anginnya kencang sekali, hujan masuk!"

Jendela segera ditutup.

Xu Cheng menyeka wajahnya dengan angin dan hujan lalu melanjutkan ke atas. Ia dengan mudah membuka jendela lantai empat dengan pisau yang telah ia siapkan sebelumnya dan memanjat masuk. Dengan indra arah yang baik dan gerakan yang sangat cepat, ia menutup jendela, melepas jas hujannya, mengganti sepatunya dengan sepatu yang nyaman, dan sambil membuka tasnya untuk menyiapkan berbagai peralatan, dengan cepat berjalan menuju rak buku.

Ia berjongkok di rak buku, meraba-raba hingga ke rak kedua dari belakang, menemukan kompartemen tersembunyi, membuka panel kayu, dan menampakkan brankas yang tertanam di dinding. Ia melepaskan senter kecil, memegangnya di mulutnya, dan dengan cepat membuka brankas menggunakan empat kunci yang ditinggalkannya.

Di dalamnya terdapat beberapa tumpukan buku besar tebal yang belum pernah dilihat Xu Cheng sebelumnya, dan lusinan kartu bank berwarna cerah.

Ia segera mengambil satu dan dengan cepat membolak-baliknya—laporan pembelian berwarna merah terang.

Xu Cheng belum pernah melihat laporan ini sebelumnya. Selama beberapa detik pertama, ia tidak mengerti angka-angka itu mewakili apa, tetapi ia segera menyadari bahwa angka-angka itu mewakili orang-orang: anggota baru dan lama klub setiap tahun, dan omset masing-masing. Buku besar lain, yang merinci transaksi kasino bawah tanah, bahkan lebih mengerikan; tragedi keluarga yang tak terhitung jumlahnya direduksi menjadi transaksi belaka di beberapa lembar kertas.

Ia buru-buru membuka buku catatan lain, di mana catatan transaksi dari rekening bank di luar daratan Tiongkok terlihat—jumlah uang yang sangat besar yang membuatnya terpukul.

Jantung Xu Cheng berdebar semakin kencang hingga ia membuka buku catatan hitam lainnya, mencatat jumlah uang yang ditransfer keluar oleh keluarga Jiang dan nama-nama penerimanya. Beberapa nama dikenali Xu Cheng dari berita Jiangzhou. Jumlahnya begitu besar sehingga baik dia maupun Li Zhiqu tidak mungkin mampu menanggung bebannya.

Rasa takut yang luar biasa dan mencekam kembali, dan tangannya gemetar hebat. Kilat di luar menerangi ruangan dengan cahaya biru-putih yang sekilas. Xu Cheng bergidik, mengira ia mendengar jendela terbuka dan langkah kaki.

Ia segera mengembalikan semuanya ke tempatnya, menutup brankas, dan bersembunyi di balik sofa.

Sepuluh detik kemudian, lampu menyala. Jiang Chenghui dan Jiang Chengguang masuk.

"Mengapa kamu tiba-tiba ingin melihat ini?" Jiang Chenghui berbicara lebih dulu.

"Di saat genting seperti ini, kita butuh bantuan mereka. Setelah makan sebanyak itu, bagaimana mungkin kita tidak muntah?"

Jiang Chenghui berjalan ke rak buku, membuka brankas, dan mengeluarkan dua buku catatan hitam dari bawah, "Keduanya?"

"Tidak perlu. Aku ingat semuanya dari tahun-tahun ini dengan jelas. Biarkan aku melihat yang lebih awal, agar aku lebih mengerti."

Jiang Chengguang mengambil satu buku, dan Jiang Chenghui mengembalikan buku yang tersisa.

"Pemakaman ayah lusa. Biarkan para pendeta Taois itu melakukan ritual yang layak besok malam." 

Kedua saudara itu berdiskusi di antara mereka sendiri sebelum pergi.

Lampu padam, membuat ruangan kembali gelap. Xu Cheng berbaring telentang, terlalu takut untuk bergerak lama, jangan-jangan keduanya kembali. Dia tidak tahu berapa lama Jiang Chengguang akan melihat buku catatan itu, atau apakah dia akan mengembalikannya di tengah jalan.

Layar ponselnya menyala sebentar; Li Zhiqu mengatakan dia telah tiba.

Xu Cheng segera merangkak keluar dari balik sofa, membuka kembali brankas, memasukkan semuanya ke dalam kantong plastik dan ke dalam tasnya, dengan cepat menutup brankas, mengunci panel kayu, mematikan senter, berlari ke jendela, mengenakan jas hujannya, menutup jendela rapat-rapat, dan meluncur turun melalui pipa dan tempat berteduh hujan dengan kecepatan luar biasa.

Seluruh rumah dipenuhi dengan suara-suara, angin, dan hujan. Di bawah naungan malam dan hujan, Xu Cheng dengan cepat menyelinap keluar, melesat dari hutan di luar studio lukisan kecil yang menghadap ke barat. Dia mengikuti jalan setapak menuju pegunungan dan segera bertemu dengan Li Zhiqu, yang sedang menunggu di sana.

Xu Cheng mendorong tas itu ke pelukan Li Zhiqu, suaranya bergetar, entah karena kelelahan atau sesak napas, berkata, "Semuanya ada di dalam."

"Semuanya?"

"Lebih banyak dari yang kamu bayangkan, lebih banyak dari yang kubayangkan, lebih banyak dari yang Paman Fang kira," rambut Xu Cheng benar-benar basah kuyup, wajahnya tampak seperti baru saja ditarik dari air, matanya yang gelap bersinar menakutkan, "Zhiqu Ge, bisakah kamu membukanya dengan paksa?"

Li Zhiqu mencengkeram tas hitam itu erat-erat dan mengangguk dengan kuat, "Jangan khawatir, atasan aku bertekad untuk membersihkan area ini. Aku juga akan melakukan yang terbaik!"

Kilat lain menyambar. Wajah Xu Cheng pucat pasi, bibirnya sedikit gemetar, "Kalau begitu kamu harus bertindak cepat." Ia menjelaskan secara singkat apa yang baru saja terjadi, "Ada banyak orang di pemakaman; Jiang Chengguang mungkin tidak punya banyak waktu untuk memeriksa catatan, tapi kamu tidak pernah tahu. Dia bisa mengetahuinya kapan saja. Mereka punya banyak paspor; jika kamu terlalu lambat, mereka semua akan melarikan diri."

"Aku tahu. Aku akan melakukannya secepat mungkin."

Xu Cheng mengangguk, berbalik untuk pergi; Li Zhiqu, terkejut, meraih lengannya, "Apa yang kamu lakukan? Mau ke mana?"

Mata Xu Cheng terbelalak, "Kembali."

"Kenapa kamu kembali sekarang?! Terlalu berbahaya. Ikutlah denganku sekarang juga! Aku sudah menemukan tempat yang aman; kamu tinggal di sana sampai kasusnya selesai."

"Aku ada urusan," mata Xu Cheng melirik ke sekeliling, mencoba melepaskan tangan Li Zhiqu, "Aku akan pergi begitu selesai."

Li Zhiqu langsung menebak, "Jiang Xi? Dia akan baik-baik saja. Tapi terlalu berbahaya bagimu untuk kembali; ikutlah denganku."

Xu Cheng dengan keras kepala mencoba melepaskan tangan Li Zhiqu.

"Xu Cheng, tenanglah, dengarkan aku..."

Xu Cheng tidak mau mendengarkan, dan jelas tidak tenang, meronta-ronta dengan keras; Li Zhiqu menyeretnya pergi dengan putus asa, dan Xu Cheng, dalam amarahnya, menendangnya.

Li Zhiqu tersandung ke semak-semak, memercikkan air hujan. Dia menggeram, "Kamu gila, Xu Cheng! Kamu sudah kehilangan akal! Dia akan baik-baik saja! Tapi kamu bisa mati jika kembali!"

Hujan turun deras, air menetes dari rambut hitam Xu Cheng. Matanya dipenuhi amarah, tetapi ekspresinya tetap tenang. Dia berkata, kata demi kata, "Sudah kubilang, aku ada urusan."

Li Zhiqu tidak akan membiarkannya kembali. Ia menerjang Xu Cheng, mencoba menangkapnya, tetapi Xu Cheng dengan lincah menghindar, berbalik, dan meluncur menuruni lereng bukit, menghilang seketika ke dalam hutan yang basah kuyup oleh hujan.

***

Ketika Xu Cheng bergegas kembali ke bangunan kecil di sebelah barat, seluruh bangunan terasa sunyi mencekam. Suara orang-orang dari kediaman Jiang di kejauhan terdengar teredam oleh hujan.

Ia bergegas kembali ke kamar tidur dan melihat Jiang Xi tidur di tempat yang sama. Jantungnya yang berdebar kencang seketika terasa lega—ia masih di sana, tertidur lelap di dalam selimut yang lembut.

Ia tiba-tiba ingin mencium pipinya. Ia tahu wajahnya selalu berbau begitu manis dan lembut.

Ia basah kuyup. Ia harus pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu, dengan cepat mencuci dan mengeringkan pakaiannya. Jantungnya berdebar kencang sepanjang waktu, seolah-olah akan meledak.

Ia selesai bersiap-siap, membuka pintu, dan melihat Jiang Xi duduk di tempat tidur, rambutnya acak-acakan, menatapnya dengan tatapan kosong. Terkejut, ia menyembunyikan kepanikannya dan mendekat, bertanya, "Kenapa kamu masih bangun? Apakah kamu merasa lebih baik?"

Ia mengulurkan tangan dan menyentuh wajahnya; wajahnya masih terasa panas.

Ia masih linglung, bersandar lemas di pelukannya, memeluk pinggangnya, "Kamu pergi ke mana? Bukankah kamu bilang tidak akan pergi?"

"Aku..." Ia tak berani berbohong yang mudah terbongkar, "Aku keluar untuk merokok. Maaf. Seharusnya aku tidak merokok."

Ia bergumam, "Tapi aku merasa kamu pergi cukup lama..."

Jantungnya berdebar kencang, "Tidak lama. Tidurlah."

Ia menariknya ke dalam pelukannya dan mencium matanya. Ia tidak meninggalkannya malam itu. Malam itu, Xu Cheng ketakutan, khawatir rahasianya akan terbongkar, dan hampir tidak bisa tidur, hanya bisa beristirahat saat fajar.

Dengan persiapan pemakaman yang sedang berlangsung di rumah, terlalu banyak tamu, dan A-Wen tidak bisa mengurus semuanya di sini; Bahkan tak seorang pun datang untuk memanggilnya sarapan. Pagi harinya, A-Wen berhasil menyempatkan diri berkunjung, mengatakan bahwa Jiang Huai telah menanyakan kondisi Jiang Xi.

Xu Cheng pergi menemui Jiang Huai, mengatakan bahwa kondisi Jiang Xi belum membaik dan ia ingin membawanya ke rumah sakit.

Di aula duka, para pendeta Taois, yang telah melakukan ritual selama dua hari, memulai putaran mantra baru, terompet suona di luar berkumandang di udara. Jiang Chengguang berada di sebuah ruangan di samping aula duka, bermain kartu dengan sekelompok teman; ia tampak beruntung, wajahnya yang tembem berseri-seri.

Xu Cheng sengaja pindah ke samping, berdiri di tempat yang tak terlihat.

Jiang Huai berkata oke.

Xu Cheng segera berbalik ke bangunan kecil di sebelah barat. Sebelum sampai di sana, Jiang Huai memanggil, "Ayah bilang untuk memanggil dokter keluarga. Jangan sentuh A Xi."

Xu Cheng berhenti di koridor, jari-jarinya gemetar. Hari itu cerah dan terik, sinar matahari menyilaukan bangunan putih dan pepohonan hijau.

Ia dengan tenang berkata, "Kurasa kita harus membawanya ke rumah sakit. Dia minum obat kemarin, tapi tidak membantu sama sekali. Aku khawatir dia mengalami peradangan; sebaiknya kita periksakan dia."

Jiang Huai tampak ragu-ragu.

"Demamnya belum turun. Berapa lama lagi kita akan menundanya?!"

Jiang Huai akhirnya mengalah, "Silakan. Beri tahu aku setelah pemeriksaan."

Xu Cheng menutup telepon dan bergegas ke kamar Jiang Xi. Ia mengganti pakaiannya, Jiang Xi masih setengah tertidur, dan membawanya ke mobil. Kemudian ia menelepon Jiang Tian; ia harus membawa Jiang Tian bersamanya. Tetapi Jiang Tian sedang tidur dan menolak untuk bangun, hampir mengamuk. Xu Cheng tidak punya pilihan, berpikir bahwa apa pun yang terjadi, itu tidak akan melibatkan dirinya. Ia harus menyerah.

Saat Xu Cheng melewati gerbang keluarga Jiang, jantungnya yang tegang seolah berhenti berdetak. Ia menginjak pedal gas dan melaju kencang.

Jiang Xi menderita infeksi paru-paru ringan, tidak terlalu serius, dan dokter telah memberinya infus. Xu Cheng melebih-lebihkan tingkat keparahan kondisinya kepada Jiang Huai, mengatakan bahwa Jiang Xi tidak akan bisa pulang malam itu. Jiang Huai tidak keberatan.

Xu Cheng tetap berada di samping tempat tidur Jiang Xi, terus-menerus waspada terhadap teleponnya dan suara apa pun dari lantai bawah gedung rumah sakit. Setiap kali ia mendengar suara mobil di luar, ia akan melompat kaget. Malam itu kembali menjadi malam tanpa tidur. Demam Jiang Xi agak mereda, tetapi ia tetap tidur nyenyak.

Pukul enam pagi adalah waktu yang dianggap baik oleh keluarga Jiang untuk pemakaman. Anggota keluarga Jiang yang telah meninggal semuanya dimakamkan di pemakaman leluhur di lereng bukit sebelah timur rumah.

Li Zhiqu tiba-tiba menelepon untuk menanyakan keberadaannya. Xu Cheng mengatakan ia berada di rumah sakit. Namun, Li Zhiqu tidak mengatakan apa pun. Xu Cheng mendesaknya untuk memberikan detail, dan Li Zhiqu mengatakan tidak ada yang salah, lalu panggilan berakhir.

Xu Cheng langsung menduga bahwa polisi akan bertindak.

Menangkapnya di depan pintu rumahnya tidak akan memakan waktu lama. Tetapi jaringan keluarga Jiang sangat luas; jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka akan langsung memikirkan dia, yang jauh dari rumah.

Dia tidak bisa tinggal di rumah sakit lebih lama lagi.

Xu Cheng mengambil sisa obat dari seorang perawat, bergegas kembali ke bangsal, menggendong Jiang Xi, mengambil tiang infus, dan dengan cepat meninggalkan rumah sakit, mengemudi ke dermaga.

Dalam perjalanan, Jiang Xi dengan lesu bertanya kepadanya apa yang salah. Dia berkata, "Dokter bilang kamu bisa pulang dan istirahat. Bagaimana kalau aku mengajakmu naik perahu? Apa kamu tidak suka tinggal di perahu?"

"Oke," dia sedikit membuka matanya dan tersenyum lesu.

Pada saat itu, Xu Cheng dengan cepat melirik kaca spion. Di kaca spion, Jiang Xi tersenyum bahagia. Saat ia berkata "oke," suaranya manis dan lembut, dengan nada sengau yang kental.

Pada saat itu, hatinya tanpa alasan yang jelas menjadi tenang dan melunak.

Setelah membaringkan Jiang Xi di tempat tidur dan memasang infus, Xu Cheng segera mengangkat jangkar dan berlayar. Ia melanjutkan perjalanan ke hulu menuju galangan kapal tua yang terbengkalai, menemukan dermaga tua yang terpencil dan sepi untuk berlabuh. Kemudian ia memegang teleponnya, menunggu kabar.

Setelah semua orang ditangkap, ia akan mengawasi Jiang Xi siang dan malam, menyembunyikan identitasnya. Selama polisi merahasiakannya, ia pun bisa merahasiakannya.

Pada sore hari, teleponnya mati. Tidak ada kabar dari Li Zhiqu maupun keluarga Jiang. Secara logis, seharusnya semua orang sudah ditangkap sekarang.

Jiang Xi telah tidur sepanjang hari; demamnya telah mereda, tetapi ia belum bangun. Xu Cheng memasak semangkuk bubur, berniat membangunkannya untuk makan, ketika telepon akhirnya berdering. Itu suara Xu Minmin yang ketakutan, "Xiao Cheng, seseorang mengunci kita di toko! Apa yang terjadi?"

Terdengar suara keras menggedor pintu rol. Sebelum dia selesai berbicara, teleponnya direbut dan dimatikan. Panggilan selanjutnya tidak dijawab.

Xu Cheng tahu ada sesuatu yang salah; polisi telah menangkap tokoh kunci, dan bawahannya sedang melakukan pembalasan.

Dia buru-buru merobek selembar kertas dari buku catatannya dan menulis beberapa kata:

"Jiang Xi, jika kamu bangun, jangan pergi ke mana pun. Tetap di rumah dan tunggu aku. Tunggu aku kembali. Aku akan segera kembali. —Xu Cheng."

Dia meletakkan kertas itu di atas meja, lalu kembali ke kamar dalam, berlutut di tempat tidur, mencium pipinya yang demam, mengambil kunci dan teleponnya, lalu keluar.

Namun, yang mengejutkannya, ketika Xu Cheng tiba di toko, polisi telah menangkap kelompok itu—hanya sekelompok preman mabuk yang datang untuk melakukan pekerjaan serabutan.

Xu Cheng merasakan perasaan tidak masuk akal dan firasat buruk. Tanpa repot-repot menghibur bibinya, ia segera kembali ke dermaga yang terbengkalai.

Saat ia berkendara ke persimpangan kosong di bawah tanggul sungai, dua mobil mewah hitam tiba-tiba melaju kencang dari samping, langsung menuju ke arah Xu Cheng.

Xu Cheng mengenali mobil Jiang Huai. Sebelum ia sempat bereaksi, mobil-mobil itu menabraknya tanpa melambat, dengan suara keras!

Mobil itu terbalik, berguling dua kali di jalan sebelum menabrak hamparan bunga, mengepulkan asap.

Xu Cheng, tersapu oleh kendaraan yang terbalik, mendarat di kursi pengemudi yang hancur, berlumuran darah dan berdenyut kesakitan.

Dalam keadaan linglung, ia melihat Jiang Huai keluar dari mobil dan menembakkan tembakan ke udara.

"Bang!!!"

Kendaraan-kendaraan lain di jalan itu mengerem mendadak, melarikan diri menyelamatkan diri.

Jiang Huai berjalan ke mobil yang terbalik, mencengkeram kerah baju Xu Cheng, menyeretnya keluar, dan menodongkan pistol ke lehernya, "Kamu pelakunya?!"

Pistol itu baru saja ditembakkan; moncongnya sangat panas, membakar leher Xu Cheng seperti besi panas.

Ia memejamkan mata sejenak, "Ya!"

Pistol Jiang Huai hampir menembusnya, "Kamu ingin mati?! Akan kukabulkan keinginanmu! Aku paling benci agen rahasia. Aku memperlakukanmu seperti saudara, dan kamu mengkhianatiku!"

A Wu bergegas mendekat, dengan tergesa-gesa berkata, "Bos, kita harus pergi! Kalau tidak, akan terlambat!"

Jiang Huai meraih Xu Cheng dan mengangkatnya, "Di mana dia?"

Xu Cheng berkata, "Aku tidak akan membiarkanmu membawanya."

Jiang Huai melayangkan tendangan lutut yang kuat ke perutnya, Xu Cheng terpental ke mobil, meringkuk kesakitan. Jiang Huai melirik kakinya dan menembak!

"Aku akan bertanya sekali lagi, di mana adikku?!"

Xu Cheng menatapnya dengan mata merah, "Kamu ingin dia kabur bersamamu, menjalani hidup bersembunyi dan melarikan diri?! Jiang Huai, jangan keras kepala..."

Jiang Huai meninju wajahnya, "Di mana dia?!"

Xu Cheng menggertakkan giginya, "Sudah kubilang kamu tidak bisa membawanya!"

A Wu panik, "Huai Ge, sudah terlambat! Dia tidak akan menyakiti Meimei, kamu duluan!!"

Namun Jiang Huai dibutakan oleh amarah, dan meninju Xu Cheng beberapa kali lagi, Xu Cheng sama sekali tidak membalas. Jiang Huai menekan pistol ke lehernya lagi, "Aku akan bertanya sekali lagi, di mana dia?"

Tepat saat itu, suara sirene polisi yang melengking terdengar dari segala arah. Dalam sekejap, empat kendaraan SWAT melaju kencang, sepenuhnya memblokir persimpangan.

Jiang Huai mencibir, meraih Xu Cheng, dan menyanderanya, pistol di lehernya, menghadap petugas SWAT dari segala arah.

"Jiang Huai, kamu dikepung! Turunkan pistolmu dan bebaskan sandera!"

A Wu, berjongkok dengan kepala di tangannya, memohon, "Huai Ge, turunkan pistolmu!"

"Xu Cheng," Jiang Huai mengumpat dengan ganas di belakangnya, "Dasar bajingan. Aku benar-benar ingin menembakmu sampai mati." 

Dia menarik pistol dengan keras, moncongnya mengenai Xu Cheng, membuatnya mengangkat kepalanya.

Xu Cheng berkata, "Kamu tidak pantas mati. Jangan membuat kesalahan lagi."

Jiang Huai malah tertawa, "Apakah kamu pikir aku, dengan kepribadianku, ingin masuk penjara?"

Hati Xu Cheng mencekam, "Jangan gegabah!"

"Apakah aku seceroboh dirimu?" Jiang Huai berkata, "Kamu benar-benar orang yang tidak becus."

Nada bicaranya santai, tanpa ketegangan, seolah-olah dia sudah mengambil keputusan.

Xu Cheng semakin panik, memohon dengan putus asa, "Pikirkan Jiang Xi! Jiang Huai, pikirkan Jiang Xi! Jika sesuatu terjadi padamu, betapa hancurnya hatinya? Kamu sangat penting baginya, jangan melakukan hal bodoh!"

Jiang Huai ragu-ragu selama beberapa detik, lalu bertanya, "Apakah demamnya sudah turun?"

Xu Cheng terkejut, hatinya sakit, "Sudah turun."

Jiang Huai menghela napas dan tersenyum, "Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya, tapi aku sudah tamat."

Detik berikutnya, dia mendorong dan menendang Xu Cheng dengan keras. Xu Cheng jatuh ke tanah, berbalik dan melihat Jiang Huai mengangkat tangannya, sebuah pistol diarahkan kepadanya.

Xu Cheng terkejut, berbalik dan berteriak panik kepada petugas SWAT, "Jangan tembak!"

Tapi—

"Bang!!!"

"Bang bang!!!"

A Wu berteriak, "Huai Ge!"

Jiang Huai roboh ke tanah, tiga lubang di dadanya, darah mengalir deras. Xu Cheng menerjang ke depan, menekan keras dadanya, tetapi darah menyembur keluar seperti air mancur.

"Xu Cheng," Jiang Huai menatapnya tajam dan mengucapkan kata-kata itu.

Xu Cheng meraung, "Jangan bicara! Tunggu dokter—!"

Tapi... Jiang Huai telah berhenti bernapas, matanya kosong, menatap langit.

Pikiran Xu Cheng menjadi kosong, raungan yang memekakkan telinga. Dia tidak bisa mendengar apa pun.

Selama setahun terakhir, keduanya telah berdebat dan bahkan berkelahi berkali-kali, tetapi Xu Cheng tidak pernah membayangkan Jiang Huai akan mati. Dia tidak pantas mati.

Kepanikan yang luar biasa melanda dirinya.

Ini sudah berakhir...

Dia sudah tamat...

Bagaimana dia bisa menjelaskan ini kepada Jiang Xi? Bagaimana dia bisa menjelaskannya?!

Dia tidak akan pernah memaafkannya, tidak akan pernah.

Polisi khusus menyerbu masuk untuk memeriksa tubuh Jiang Huai, menangkap A Wu dan yang lainnya. 

Xu Cheng, dengan tangan berlumuran darah, terkulai di satu sisi, menatap kosong ke arah Jiang Huai yang berada beberapa langkah di depannya.

Seorang polisi mendekat dan menepuk bahunya, memintanya untuk memberikan pernyataan. Xu Cheng tersadar dari lamunannya, tiba-tiba mendorong semua orang ke samping dan berlari.

Ia berlari seperti orang gila, tak sabar menunggu Li Zhiqu menepati janjinya. Ia harus pergi segera! Sekarang juga! Bawa Jiang Xi pergi, putuskan semua informasi tentang Jiangzhou dan keluarga Jiang darinya! Jangan pernah kembali!

Ia telah berkali-kali mengatakan ingin meninggalkan Jiangzhou bersamanya, melarikan diri bersama.

Pergi sekarang!

Ia tidak boleh membiarkan Jiang Xi tahu bahwa ia adalah informan!

Pergi sekarang!

Xu Cheng mengira ini adalah puncak ketakutannya, tetapi ketika ia sampai di perahu—pintunya terbuka, kipas angin masih menyala, tetapi Jiang Xi sudah pergi.

Infus tergantung di sana, menetes perlahan, membentuk genangan obat yang sunyi di lantai.

Hati Xu Cheng hancur. Ia memanggil namanya dengan ketakutan, mencari ke seluruh perahu, tetapi Jiang Xi tidak ditemukan di mana pun.

Detak jantungnya hampir berhenti; ia memegang kepalanya, mencoba menenangkan diri, tetapi sia-sia. Hatinya tenggelam seolah ke dalam jurang hitam tanpa dasar, terus menerus jatuh, tak pernah mencapai dasar.

Ia panik, muntah berulang kali, terus menerus menelepon ponselnya, tetapi tidak ada jawaban.

Xu Cheng memacu sepeda motornya ke Gunung Qiyan, hanya untuk menemukan kompleks keluarga Jiang dilalap api—keluarga Jiang telah memberikan perlawanan sengit, membuat operasi penangkapan sangat sulit.

Ia bergegas menyusuri jalan menuju bangunan kecil di sebelah barat, yang juga dilalap api.

Studio Jiang Xi seperti bola kaca yang terbakar, lukisan-lukisan yang tak terhitung jumlahnya berputar-putar dalam kobaran api.

Ia bergegas masuk, ngeri menemukan tubuh A Wen. Ia terbaring di lantai studio, berlumuran darah, dengan luka tusukan pisau di leher, dada, dan perutnya.

Xu Cheng meraih bahunya, "A Wen! A Wen!"

Tubuhnya masih hangat, tetapi ia tak bernyawa.

Xu Cheng ketakutan, pikirannya kosong, dipenuhi suara-suara yang membingungkan. Secara naluriah ia melompat dan mencari lebih dalam ke dalam kobaran api.

Ia takut, takut Jiang Xi ada di dalam, "Jiang Xi!"

"Jiang Xi! Jiang Tian! Jiang Xi! Jiang Tian!"

Namun para petugas pemadam kebakaran menghentikannya. Ia menjadi gila, hanya ingin menerobos masuk ke dalam kobaran api. Li Zhiqu tiba, dan beberapa orang menyeretnya pergi dengan sekuat tenaga.

Ia meratap dan benar-benar hancur.

Para petugas pemadam kebakaran mengatakan tidak ada seorang pun yang tersisa di bangunan kecil sebelah barat. Xu Cheng tetap berada di luar kediaman Jiang, kaku seperti patung, matanya terpejam dan merah, menolak untuk pergi ke mana pun.

Api berkobar selama sehari semalam sebelum akhirnya padam. Saudara-saudara Jiang, kehabisan amunisi dan tenaga, akhirnya ditangkap. Keluarga Jiang melawan, menderita luka-luka yang tak terhitung jumlahnya. Setelah diperiksa, Jiang Xi dan Jiang Tian tidak ditemukan.

Mendengar berita itu, jantung Xu Cheng, yang sebelumnya berdebar kencang seolah-olah jatuh tanpa henti, akhirnya hancur berkeping-keping. Pada saat itu, ia merasa seolah dunia tiba-tiba padam di sebuah ruangan kecil, sunyi dan gelap gulita, tanpa secercah cahaya pun.

Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, langsung jatuh pingsan.

***

Kemudian, Xu Cheng bertanya-tanya, jika ia tidak meninggalkan perahu hari itu, apakah akhirnya akan berbeda? Atau akankah Jiang Xi, bahkan setelah kejatuhan keluarga Jiang, tetap mengetahui tipu dayanya dan meninggalkannya tanpa mempedulikan apa pun?

Note :

Ahhhhh... bisa gila aku. Begitu amat sihhh kalian semua... 

Jiang Huai, kamu sayang banget sama A Xi. A Xi pasti bakal sedih banget kalo dia tau kamu mati.

Xu Cheng, yang tabah ya...

A Xi... kamu kemana?

***

BAB 30

Musim Dingin, 2014.

Jiangzhou.

Mobil itu melaju meninggalkan kota tua, melewati jalan komersial di distrik baru, tempat pejalan kaki semakin banyak.

Toko-toko tutup, jeruji pengaman dinaikkan. Di dalam, lampu-lampu menyala terang, dan manekin-manekin berdiri di jendela-jendela yang terang benderang, senyum mereka menakutkan.

Meskipun malam itu musim dingin, orang-orang terus-menerus keluar masuk toko-toko serba ada, KTV, bioskop, dan taman hiburan; kehidupan malam sangat ramai.

Lobi sebuah klub tertentu berkilauan dengan emas dan perak. Beberapa pria paruh baya berdiri di pintu masuk, merokok dan mendiskusikan bisnis. Staf penyambut semuanya pria tampan dan wanita cantik, postur mereka tegak bahkan di tengah angin dingin.

Melihat ke arah kota yang ramai, Lu Siyuan tiba-tiba berseru, "Qiu Sicheng juga menanyakan keberadaannya."

Xu Cheng menoleh, "Siapa?"

"Jiang Xi."

"Mengapa?"

"Awalnya, aku sinis, berpikir keluarga Jiang telah menghancurkannya dan dia ingin balas dendam. Tapi kemudian dia berkata bahwa di masa-masa sulitnya, Jiang Huai memberinya pekerjaan. Keluarga Jiang pantas menerima nasib mereka, namun, kejahatan Jiang Huai tidak pantas dihukum mati, dan Jiang Xi tidak bersalah; lagipula, dia sekarang punya uang, jadi dia bisa saja membantu jika mampu. Dengan kemurahan hati seperti itu, tidak heran dia ditakdirkan untuk menjadi orang besar. Bahkan setelah diperlakukan dengan sangat buruk saat itu, dia masih berhasil membalikkan keadaan."

Setelah kejatuhan keluarga Jiang, Qiu Sicheng mengambil alih tempat hiburan Huise, yang tidak diinginkan siapa pun, dengan harga yang sangat rendah, dengan cepat merevitalisasinya, menjualnya dengan harga yang bagus, dan menggunakan kekayaan pertamanya untuk mengembangkan bisnisnya di Yucheng.

Dia mendapat keberuntungan luar biasa; dia bertemu dengan putri Yu Pingwei, pemilik Perusahaan Angkutan dan Transportasi Yucheng Siqian. Setelah pernikahan mereka, dia dengan cepat mengambil alih bisnis tersebut dan dengan tegas mengalihkan fokus perusahaan ke bidang properti. Selama bertahun-tahun, Siqian telah berkembang pesat, menjadi konglomerat terkemuka Yucheng dan perusahaan papan atas. Anak perusahaannya, Siyu Entertainment, juga memegang posisi penting dalam industri jasa Yucheng.

Ia sendiri telah menerima banyak penghargaan "Pengusaha Berprestasi"; setelah meraih kesuksesan, ia tidak lupa untuk memberikan kembali kepada masyarakat Jiangdong, dan sekarang menjadi filantropis besar di Jiangzhou. Donasinya telah mencapai ratusan juta.

"Oh ya, dia berada di Jiangzhou beberapa hari terakhir ini, menghadiri acara amal. Aneh sekali kalian berdua, sama-sama di Yucheng, belum bertemu selama bertahun-tahun."

"Sibuk," jawab Xu Cheng dengan acuh tak acuh.

Lu Siyuan tidak membahas pertanyaan ini lebih lanjut, melainkan bertanya, "Apakah kamu mengunjungi Xiao Laoshi saat kembali?"

Xu Cheng bergumam setuju, menahan rasa sakit di hatinya, dan berkata, "Xiao Laoshi... dia sudah sangat tua..."

Seorang wanita berusia lima puluhan, rambutnya sudah benar-benar putih.

Keduanya terdiam sejenak. Tahun itu, Jiang Chenghui diadili dan dijatuhi hukuman mati, yang akan dilaksanakan pada musim semi berikutnya.

Namun sebelum musim semi tiba, Li Zhiqu menghilang. Di musim dingin yang dingin itu, mobilnya ditemukan beberapa hari kemudian, berisi koper 'pelariannya' dan uang tunai 500.000 yuan yang telah 'diterimanya'.

Sedangkan dia sendiri, dia tidak pernah ditemukan.

Kota Jiangzhou gempar. Beberapa mencurigai dia dijebak, beberapa mengutuknya sebagai bajingan. Beberapa menyesalkan bahwa dia pergi untuk bersembunyi, beberapa mencurigai dia melarikan diri.

Hanya Xiao Wenhui yang menyatakan dengan tegas bahwa dia tahu putranya telah meninggal; dia pergi ke kantor polisi setiap beberapa hari untuk menanyakan apakah jenazah Li Zhiqu telah ditemukan. Dia melakukan ini selama sembilan tahun.

Orang-orang Jiangzhou secara diam-diam mengatakan dia gila. Ibu macam apa yang begitu yakin bahwa anaknya telah meninggal tanpa melihat jasadnya terlebih dahulu?

Lu Siyuan menggaruk kepalanya, "Aku merasa sangat sedih setiap kali melihat mata Xiao Laoshi. Tapi kita tidak bisa menemukannya, tidak ada satu pun petunjuk. Sebelum Jiang Chenghui meninggal, polisi menemukan Lu Qi, beberapa informan, wartawan, dan korban lain yang hilang. Hanya Li Zhiqu yang tidak ditemukan."

Xu Cheng merasakan kesedihan yang mendalam.

Sekitar enam bulan sebelum hilangnya Li Zhiqu, Xu Cheng dan Li Zhiqu telah memutuskan semua kontak.

Musim panas itu, Xu Cheng dan Li Zhiqu bertengkar hebat; dia pasti mengatakan beberapa hal yang sangat menyakitkan, menyinggung, dan kejam. Setelah dia pergi belajar di Yucheng, dia memblokir semua cara kontak Li Zhiqu.

Empat bulan kemudian, pada hari ulang tahun Li Zhiqu, dia mengirimkan tiga pesan teks kepada Xu Cheng menggunakan ponsel Xiao Wenhui, "Aku ingat dua tahun lalu, pada hari ulang tahunku, kamu datang ke rumahku untuk makan malam dan memberiku tempat pena. Aku masih menggunakannya."

"Xiao Cheng, maafkan aku karena tidak melindungimu."

"Xiao Cheng, aku berjanji akan menemukan Jiang Xi untukmu. Li Zhiqu."

Xu Cheng melirik mereka dan menghapusnya.

Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa itu akan menjadi kali terakhir Li Zhiqu menghubunginya. Sebulan kemudian, ia menghilang. Dan pertengkaran di musim panas itu adalah pertemuan dan percakapan terakhir mereka.

Lebih dari sembilan tahun telah berlalu, dan Xu Cheng hampir tidak ingat bagaimana ia menghabiskan musim panas setelah kejatuhan keluarga Jiang; ingatannya seperti kabut tebal. Bahkan adegan pertengkarannya dengan Li Zhiqu, ia hanya mengingat sebagian kecil. Semuanya kabur. Seolah-olah musim panas itu telah dihapus.

Tahun yang ia habiskan bersama Jiang Xi, dan banyak hal yang terjadi dengannya, juga tidak jelas.

Lagipula, waktu berlalu begitu cepat, hidup begitu sibuk, bagaimana mungkin seseorang mengingat hal-hal dari hampir sepuluh tahun yang lalu?

Di tahun-tahun awalnya, ia secara mekanis, tanpa perasaan, hampir obsesif mencoba menemukan Yang Xing, Jiang Xi, dan Li Zhiqu.

Namun tahun demi tahun, setelah kegagalan berulang, dan dengan kehidupan yang dipenuhi dengan pekerjaan berat, hal-hal ini memudar ke latar belakang. Hanya sesekali hal-hal itu tiba-tiba muncul dan menusuknya. Seperti sepasang sepatu yang tidak dipakai dalam waktu lama, baru ketika kamu memasukkan kakimu ke dalamnya, kamu menyadari ada batu berduri yang tersembunyi di solnya.

Kembali ke Jiangzhou adalah tusukan tiba-tiba itu.

Xu Cheng tidak berbicara lagi.

Jalanan yang ramai di kaca spion telah menyusut menjadi titik.

***

Keesokan harinya, Xu Cheng pergi mengunjungi gadis 'cacat tetapi bertekad' itu.

Namanya Yao Yu, baru berusia delapan belas tahun, belum banyak membaca buku, dan pikirannya naif dan sederhana seperti anak kecil. Ini adalah kasus tipikal wanita yang jatuh, yang telah dilihat Xu Cheng berkali-kali sebelumnya.

Selama percakapan, Xu Cheng agak teralihkan.

Dia tidak tahu bagaimana seseorang seperti Jiang Xi, yang hidup di jalanan, akan bertahan hidup. Dia tidak pernah ingin memikirkan pertanyaan ini. Ia bahkan telah mencari karya berbagai seniman anonim sebelumnya, tetapi tidak membuahkan hasil.

Setelah meninggalkan kantor polisi, ia menelepon Lu Siyuan untuk mengucapkan selamat tinggal dan berangkat kembali ke Yucheng.

Ia tidak ingin tinggal di Jiangzhou lebih lama lagi.

Udara musim dingin yang lembap, pekat, dan dingin menusuk tulang, membuatnya tak tertahankan.

Mobil berhenti di feri untuk menyeberangi sungai. Xu Cheng keluar dan pergi ke pagar untuk merokok dan menghirup udara segar.

Saat itu, langit mendung, dan air sungai keruh.

Angin utara menderu melintasi sungai, menerpa rambut hitam pendeknya, dinginnya menusuk tulang seperti jarum es.

Xu Cheng sedikit menundukkan kepala, menghisap rokoknya untuk terakhir kalinya, mematikannya di nampan pasir, dan menghancurkannya. Kepulan asap putih kebiruan menyapu profilnya yang dingin. Seorang pria lewat di dekatnya; Dalam sekejap Xu Cheng mendongak, pria itu melewatinya.

Kedua pria itu berhenti, saling memandang.

Qiu Sicheng mengenakan mantel hitam, rambutnya dipotong pendek dan rapi. Di balik kacamata tipisnya, matanya cerah dan tajam. Ia sangat berbeda dari anak laki-laki pendiam dan ragu-ragu yang diingat Xu Cheng. Memang, kesuksesan adalah obat mujarab untuk transformasi seorang pria.

"Xu Cheng?" Qiu Sicheng segera tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Xu Cheng.

Xu Cheng juga mengulurkan tangannya, dan kedua tangan pria itu berjabat tangan sebentar, "Sungguh kebetulan bertemu denganmu di sini."

"Mau ke mana?"

"Mau ke mana?"

Mereka berbicara serentak, sambil tersenyum.

Xu Cheng mengangkat dagunya, memberi isyarat agar dia berbicara terlebih dahulu.

"Kembali ke Yucheng."

"Ke arah yang sama," Xu Cheng terkekeh, menggoda, "Bos Qiu, bisnis Anda pasti sedang berkembang pesat."

Qiu Sicheng berhenti sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak, "Bisnis penuh dengan pasang surut, tidak ada yang pasti. Tidak sebaik Kapten Xu, dengan status sosialnya yang tinggi, jaringan yang luas, dan kekuasaan yang besar."

Meskipun mereka sudah tidak berhubungan selama bertahun-tahun, mereka berasal dari tempat yang sama. Begitu seseorang menjadi orang penting, tidak mungkin mereka bisa menyembunyikannya. Secara logis, mereka pernah menjadi teman sekamar dan sekarang sama-sama sukses; mereka dapat dengan mudah menemukan informasi kontak satu sama lain. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, tidak satu pun dari mereka yang secara sadar berusaha untuk melakukannya.

Pikiran Xu Cheng sederhana: dia telah melihat Qiu Sicheng dalam keadaan terendah dan paling menyedihkannya; tidak perlu mengganggunya.

Setelah bertukar beberapa kata, terdengar suara "toot" di atas kepala; feri akan segera berlabuh.

Qiu Sicheng berkata, "Aku akan kembali ke Yucheng. Mari kita makan bersama suatu saat nanti."

Xu Cheng berkata, "Tentu."

Mereka bertukar informasi kontak dan menuju ke mobil masing-masing. Saat mereka melewati sebuah bus, mereka melihat seorang wanita muda kesulitan naik bus dengan menggunakan kruk.

Xu Cheng secara naluriah mengulurkan tangan untuk membantu siku wanita muda itu, dan Qiu Sicheng secara bersamaan menopang lengannya.

Wanita mud itu memandang kedua pria itu, agak tersanjung, tersipu, berkata "Terima kasih," dan naik ke bus.

Xu Cheng tiba-tiba teringat kata-kata Lu Siyuan, "Qiu Sicheng juga menanyakan keberadaannya."

Xu Cheng masuk ke mobilnya, mengencangkan sabuk pengaman, dan melaju ke darat. Begitu berada di jalan utama, ia menambah kecepatan. Klakson berbunyi di belakangnya; mobil Qiu Sicheng melambaikan tangan kepadanya, lalu melaju melewatinya.

Jalan raya dari Jiangzhou ke Yucheng memakan waktu kurang dari dua jam. Lima atau enam kilometer dari gerbang tol Yucheng Barat, teleponnya berdering. Itu Direktur Fan Wendong.

Dahulu, saat masih mahasiswa, prestasi akademik Xu Cheng yang luar biasa membuatnya mendapatkan tempat magang di Biro Keamanan Publik Yucheng. Selama masa magangnya, ia menunjukkan prestasi yang luar biasa, dengan cepat mendapatkan kepercayaan dari Wakil Direktur Fan Wendong saat itu. Setelah lulus dengan predikat terbaik dari Universitas Kepolisian dan bergabung dengan Biro Keamanan Publik Yucheng, ia meraih banyak penghargaan dan kehormatan.

Ia adalah penyelidik kriminal yang berbakat, cerdas, teliti, dan bertekad. Berbagai prestasinya dan beberapa promosi luar biasa mendorongnya ke posisi ketua tim di usia muda.

Tidak seperti unit lain, sistem keamanan publik tidak memiliki kekuasaan nyata. Dan di kota besar seperti Yucheng, pentingnya posisinya sudah jelas.

Fan Wendong berpengalaman dan cerdik, berperan sebagai mentor Xu Cheng. Meskipun Fan Wendong praktis lebih tua dari Xu Cheng, hubungan mereka lebih seperti ayah dan anak daripada atasan dan bawahan atau rekan kerja.

Xu Cheng mengira itu terkait pekerjaan, tetapi ketika ia menjawab telepon, Fan Wendong berkata, "Mengapa Anda tidak menjawab telepon putri Menteri Jiang yang aku kenalkan kepada Anda bulan lalu?"

Butuh beberapa detik bagi Xu Cheng untuk mengingat orang seperti itu.

Bulan lalu, Fan Wendong memberinya WeChat gadis itu dan bahkan mengirimkan fotonya. Gadis itu cukup antusias padanya, tetapi dia tidak banyak membalas, penolakannya yang sopan terlihat jelas. Gadis itu tidak pernah menghubunginya lagi.

Dia pikir semuanya sudah berakhir, tetapi ternyata tidak.

"Aku dan Lao Jiang adalah rekan seperjuangan, latar belakang keluarganya sempurna. Aku pernah bertemu putrinya, dia orang baik. Kalau tidak, mengapa aku harus ikut campur urusan pribadimu? Semua orang seusiamu di biro sudah menikah, dan kamu masih lajang. Bukankah kamu bangga akan hal itu?"

"Bangga," kata Xu Cheng.

"Kamu..." Fan Wendong mengumpat padanya, lalu berkata, "Berapa banyak orang yang telah kamu sakiti selama ini? Duduk di puncak gunung di usia yang begitu muda, berapa banyak orang yang ingin membunuhmu?"

Xu Cheng menggaruk pelipisnya, "Tapi kamu masih di sini, kan?"

"Bisakah aku melindungimu selamanya?! Bagaimana jika suatu hari nanti aku dikalahkan?"

Xu Cheng mengangkat alisnya, "Kalau begitu aku akan menjaga cucumu."

Fan Wendong terkejut, menghela napas setelah beberapa saat, dan kembali ke pokok permasalahan, "Dalam pekerjaan kami, memiliki lebih banyak pilihan berarti lebih banyak kemudahan. Apakah aku perlu menjelaskan alasannya kepadamu?"

Xu Cheng berkata dengan kurang ajar, "Pekerjaan apa? Kamu membuatku terdengar seperti pelacur."

"Omong kosong! Aku hanya membiarkanmu makan dengan seseorang. Jika kamu tidak suka, katakan saja dengan sopan dan kalian bisa berteman. Jangan meninggalkan kesan buruk pada siapa pun..."

"Baiklah. Jika kesan orang itu terhadapku memburuk setelah bertemu denganku, kamu akan menyesalinya."

"Jangan terlalu tidak bertanggung jawab! Gadis ini berorientasi pada karier. Dia reporter berita serius paling populer dan bereputasi baik di internet saat ini, 'Ask the Real News,' itu merek perusahaannya. Dia sangat cakap; dia tipe kamu. Apa kamu benar-benar berpikir aku hanya mengenalkanmu pada orang sembarangan?"

"Oke, oke, cukup sudah mengomelnya."

Xu Cheng menutup telepon. Setelah melewati gerbang tol, dia membuka WeChat, menemukan 'Jiang Qinglan', dan mengetik, "Mau makan bersama kapan-kapan?"

Balasan datang dengan cepat, "Oh, kamu masih ingat aku."

Xu Cheng langsung kehilangan minat, berpikir, "Omong kosong, Fan Wendong! Dia sama sekali tidak menghormatimu," dia hendak membalas, "Salah nomor."

Balasan cepat datang, "Kenapa tidak malam ini?"

Xu Cheng merasa orang ini menarik dan membalas, "Kamu yang pilih tempatnya."

Jiang Qinglan, "Hmph. Kamu sudah membuatku menunggu begitu lama. Aku akan makan sesuatu yang mahal dan membuatmu yang mengeluarkan uang."

Xu Cheng menggosok pelipisnya dan hanya berkata "Oke."

Restoran yang dipilih Jiang Qinglan ternyata dekat dengan rumah Xu Cheng dan tidak mahal.

Dengan waktu yang masih cukup sebelum waktu yang disepakati, Xu Cheng memarkir mobilnya di kompleks apartemen dan berjalan kaki ke sana. Ia tiba lebih dulu, memilih tempat duduk di dekat jendela, meletakkan ponselnya di atas meja, dan dengan santai memandang ke luar jendela.

Hari-hari musim dingin terasa singkat, dan melalui jendela-jendela besar, lampu neon berkelap-kelip.

Beberapa menit setelah duduk, Jiang Qinglan tiba, "Halo, apakah kamu Xu Cheng?"

Xu Cheng berbalik, tatapannya bertemu dengan tatapan Jiang Qinglan.

Jiang Qinglan jelas terkejut. Saat ia duduk, tatapannya beralih dari wajahnya, hampir menghindari kontak mata langsung, dan sedikit rona merah muncul di pipinya.

Sebaliknya, Xu Cheng tampak cukup santai, dengan ramah dan sopan menanyakan apa yang ingin dimakan Jiang Qinglan dan memesan makanan.

Jiang Qinglan berpakaian rapi, riasannya menawan, dan mengenakan pakaian bermerek dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun, Xu Cheng cukup santai, hanya mengenakan jaket dan celana jeans.

Dia bukan orang yang dingin, setidaknya tidak secara lahiriah. Dia memancarkan aura yang sangat tenang dan rileks, sesekali menunjukkan sedikit sikap acuh tak acuh, namun tampak sepenuhnya terkendali.

Sebagai mantan penyelidik kriminal, dia tidak keberatan mengobrol.

Ketika Jiang Qinglan bertanya tentang pekerjaannya, pengalamannya, atau hal-hal lain yang dapat ditemukan secara online, dia biasanya sangat jujur. Sebaliknya, ketika menyangkut masalah pribadi, dia tidak akan mengungkapkan satu detail pun, bahkan sedikit pun.

Misalnya, Jiang Qinglan bertanya, "Kamu sangat tampan, pasti kamu punya banyak pacar, kan?"

Xu Cheng tersenyum, "Tidak terlalu banyak, tidak sebanyak yang aku kira."

Jiang Qinglan bertanya, "Jadi, menurutmu berapa banyak pacar yang pernah kamu miliki?"

Xu Cheng menghela napas pelan, "Aku sudah lupa."

"Bagaimana dengan pacar yang paling berkesan? Kamu tidak mungkin mengatakan kamu juga sudah melupakannya, kan?"

Xu Cheng terkekeh, "Kalau begitu, jangan kita bicarakan itu. Kalau kita mulai membicarakannya dan aku tidak bisa menahan diri, aku akan berkendara malam ini untuk mengejarnya kembali."

Senyumnya sangat tampan, bersih, menyegarkan, dan entah kenapa sangat memikat. Ia juga memiliki lesung pipi yang tipis di pipi kanannya. Dan karena profesinya, ketika berbicara dengan orang lain, ia terbiasa menatap langsung ke mata mereka; matanya yang gelap dan cerah memiliki ketajaman, seringkali membuat jantung berdebar kencang.

Jiang Qinglan menatapnya dengan kilatan kesal di matanya dan berkata, "Kenapa kamu terlihat seperti bajingan?"

Xu Cheng tersenyum tipis, "Begitukah?"

Dia tidak membantah, sedikit memiringkan kepalanya, matanya tertuju padanya, setengah tersenyum di wajahnya, sama sekali tidak peduli dengan penilaiannya. Dia merasa bersemangat sekaligus kesal, "Kamu bersikap seperti bajingan dan menganggap itu sepenuhnya dibenarkan. Aku yakin banyak gadis yang patah hati dan menangis karena kamu, kan?"

Xu Cheng tidak tersinggung. Dia hanya merasa bahwa sikapnya yang terlalu lugas, terlalu dilindungi oleh keluarganya, mengingatkannya pada seseorang; tetapi setelah diperhatikan lebih dekat, dia tidak melihat kemiripan sama sekali.

Sikapnya yang ceria dan riang lebih mirip... Fang Xiaoshu di lubuk hatinya.

Dia tidak terlalu peduli padanya, percakapannya agak asal-asalan, tetapi dia tetap sangat sopan.

Namun menjelang akhir makan, matanya hampir berlinang air mata saat menatapnya. Ia menggunakan lembur kerja malam itu sebagai alasan untuk tidak melanjutkan makan dessert. Ia berencana pulang setelah sampai di pintu masuk restoran, tetapi orang tua Jiang Qinglan juga tinggal di dekat situ, jadi itu searah dengan jalannya.

Untungnya, perjalanan tidak jauh, dan mereka segera sampai di kompleks apartemen Xu Cheng.

Daerah itu adalah kawasan perumahan dengan beberapa kantor pemerintahan dan bisnis lainnya, dan keamanannya sangat baik. Xu Cheng tidak berniat mengantarnya lebih jauh. Ia menunjuk dan berkata, "Aku di sini."

Jiang Qinglan berdiri diam, menggigit bibirnya, dan bertanya, "Bolehkah aku menggunakan toiletmu?"

Bahkan Xu Cheng agak terkejut, sedikit mengangkat alisnya.

Jiang Qinglan dengan cepat menambahkan, "Aku benar-benar perlu."

Tidak ada toilet umum di dekatnya.

Xu Cheng juga khawatir bahwa ia mungkin mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak tega mempermalukan seorang wanita. Jika tidak, ia bisa dengan mudah mengusirnya. Jadi ia setuju.

Setelah berjalan beberapa langkah, ia melihat sosok wanita yang familiar di jalan utama kawasan perumahan. Xu Cheng mengerutkan kening.

*** 

Memasuki gedung, lampu sensor gerak menyala.

Jiang Qinglan berkata, "Dulu waktu kecil aku tinggal di lingkungan sebelah, dan aku sering bermain di sini."

Xu Cheng menjawab dengan lesu, "Benarkah?"

Jiang Qinglan memperhatikan suaranya yang datar, tidak seperti nada cerianya di restoran, dan mengamatinya. Ia terkejut mendapati profilnya agak kesepian, bahkan sedikit murung, mungkin karena cahaya kuning redup di lorong.

Ia ingin melihat lebih dekat, tetapi ia berbalik, sikap santainya yang biasa kembali. Ia tersenyum tipis dan berkata, "Apa yang kamu lihat?"

Jantung Jiang Qinglan berdebar kencang. Ia menegurnya dengan ringan, "Apakah aku bahkan tidak boleh melihatmu?"

Xu Cheng tidak menjawab. Tangannya masuk ke dalam saku, senyum di bibirnya memudar menjadi sekadar bentuk. Ia sedikit mencondongkan dagunya ke depan, "Ayo pergi."

Keduanya berhenti di sudut jalan.

Seorang wanita berpakaian rapi berdiri dengan tangan bersilang di depan pintu Xu Cheng.

Fang Xiaoyi, mendengar percakapan mereka, tampak tidak terkejut. Ia melirik Jiang Qinglan sekilas sebelum menatap Xu Cheng.

Jiang Qinglan menatap Fang Xiaoyi, lalu ke Xu Cheng, bingung, "Ini..."

Xu Cheng menggaruk dahinya dengan satu jari dan berkata, "Bagaimana kalau..." sambil menatap Fang Xiaoyi, "Aku memperkenalkan diri kalian satu sama lain?"

Kata-katanya terdengar agak sembrono. Tatapan Fang Xiaoyi berubah sedih, tetapi tanpa kebencian. Namun, ia melirik Jiang Qinglan dan berkata sinis, "Dia saudara iparku."

Jiang Qinglan menatap Xu Cheng dengan heran.

Xu Cheng tampaknya tidak peduli dengan kata-katanya, tidak memberikan penjelasan apa pun. Ia bertanya padanya, "Mau ke kamar mandi lagi?"

Jiang Qinglan pergi.

Xu Cheng membuka pintu dan masuk. Tepat saat ia hendak menutupnya, Fang Xiaoyi menghalangi pintu, mencoba masuk.

Xu Cheng mengikutinya, berjalan ke meja makan dan menuangkan air minum untuk dirinya sendiri.

Fang Xiaoyi menyusulnya, membanting daging olahan yang diminta ibunya, Yuan Qingchun, untuk diantarkan ke atas meja. Ia bertanya, "Siapa orang tadi? Mengapa dia pulang bersamamu di tengah malam?"

"Menurutmu bagaimana?" Xu Cheng masih tertawa. Ia berkata, "Selalu marah setiap kali, apakah kamu tidak takut menjadi gila?"

Ia duduk di bangku, perlahan menyesap air di gelasnya.

Fang Xiaoyi berkata, "Gadis itu terlihat sangat kaya. Aku tidak menyangka kamu orang seperti ini."

Xu Cheng meletakkan gelasnya dan berkata, "Ya, aku suka wanita kaya dan cantik."

Fang Xiaoyi tidak berhasil memprovokasinya, tetapi justru dialah yang memprovokasi Fang Xiaoyi, dan Fang Xiaoyi tak kuasa membalas dengan tajam, "Dia? Aku penasaran berapa lapis riasan yang dia pakai."

Xu Cheng menjawab dengan satu kalimat, "Lebih cantik darimu."

Dia selalu seperti ini; ketika dia marah, kata-katanya tajam.

Fang Xiaoyi tiba-tiba berkata, "Benarkah? Bahkan lebih cantik dari Jiejie-ku?"

Xu Cheng meliriknya, menambahkan satu kata pada pernyataannya sebelumnya, "Lebih cantik dari kalian berdua."

Fang Xiaoyi terdiam, lalu berkata, "Apakah kamu sudah melupakannya?"

Xu Cheng menjawab, "Aku mengingatnya, tetapi hanya sebagai teman baik dan korban. Aku sudah memberitahumu, tetapi kamu tidak percaya."

Bahkan pada titik ini, Fang Xiaoyi masih menggelengkan kepalanya, "Tidak, kamu jelas sangat menyukainya. Kamu bahkan sampai ingin membalas dendam untuknya..."

"Meimei, itu sudah masa lalu!" Xu Cheng menyela dengan tidak sabar, mengambil selembar kertas putih dari meja dan melipatnya dengan santai.

Saat itu, ia menyimpan perasaan samar terhadap Fang Xiaoshu, tetapi sebelum ia dapat memahami perasaannya, Fang Xiaoshu mengalami tragedi ini. Sejujurnya, ia menjadi informan karena kesedihan dan kemarahan atas kematian tragis Fang Xiaoshu, tetapi juga untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, untuk membalas kebaikan Petugas Fang, untuk membantu Li Zhiqu, yang seperti saudara baginya, dan yang terpenting, karena amarah dan rasa keadilan terhadap keluarga Jiang yang melanggar hukum.

Xu Cheng masih sangat menyesali kematian Fang Xiaoshu, tetapi perasaannya terhadap wanita di hadapannya, yang hanya memiliki wajah yang mirip tetapi memiliki kepribadian yang sama sekali berbeda, sangat kompleks. Ia merasa wanita itu tidak masuk akal, tetapi juga mengasihani nasib tragisnya.

Ia berkata, "Jika kamu berpikir seperti ini, aku akan kurang peduli dengan kasus Jiejie-mu. Tidak. Aku belum melupakan pencarian Yang Xing. Selama bertahun-tahun ini, kamu tidak perlu mencoba untuk menyabotaseku."

Fang Xiaoyi ingin mengatakan sesuatu, tetapi Xu Cheng menundukkan kepala dan menggosok wajahnya dengan kedua tangan dengan kuat.

Ia merasakan kelelahan yang aneh dan jarang terpancar darinya. Tiba-tiba ia tidak bisa berbicara, dan setelah beberapa saat, tersenyum hampa, "Xu Cheng, aku sangat takut Yang Xing tidak akan pernah ditemukan."

Tangan Xu Cheng yang sedang melipat kertas sedikit kaku.

Mungkinkah?

Yang Xing yang tidak dapat ditemukan, Li Zhiqu yang tidak dapat ditemukan, dan... Jiang Xi yang tidak dapat ditemukan.

***

Setelah bertemu dengannya di feri, Xu Cheng memiliki firasat bahwa Qiu Sicheng akan menghubunginya.

Intuisinya selalu tepat.

Benar saja, pada hari ketiga, ia menerima telepon dari Qiu Sicheng, yang mengatakan bahwa Lu Siyuan akan datang ke Yucheng pada hari Jumat untuk berkumpul dengan mantan teman sekamarnya. Ia yang mentraktir.

Selama bertahun-tahun, Xu Cheng telah bertemu banyak orang, banyak di antaranya mengalami perubahan kepribadian drastis atau transformasi total setelah dewasa, dan Qiu Sicheng adalah contoh utamanya.

Pertemuan itu diadakan di restoran Jepang dekat Canghai Renjia, area vila kelas atas di Yucheng, dengan biaya sekitar tujuh ribu yuan per orang—setara dengan harga rumah di Yucheng tahun itu.

Xu Cheng diantar ke ruang pribadi oleh seorang pelayan dengan rambut dikepang. Ia membuka pintu kayu, dan Qiu Sicheng sudah ada di sana.

Sebelum Xu Cheng sempat berbicara, pelayan itu tersenyum, "Maaf, aku memilih tempat yang dekat dengan rumah aku , jadi aku merepotkan Anda untuk datang sejauh ini."

"Tidak jauh," balas Xu Cheng sambil tersenyum, melepas sepatunya di tangga dan menggantung mantelnya di gantungan sebelum masuk dan duduk.

Seorang pelayan cantik dan pendiam berlutut di sampingnya, mengisi kembali cangkir Xu Cheng dengan genmaicha (teh beras merah).

Qiu Sicheng bertanya dengan sopan, "Apakah Anda sering berkumpul dengan teman-teman sekelas selama bertahun-tahun?"

Xu Cheng menyeka tangannya dengan handuk hangat, "Aku sering berkumpul dengan Du Yukang. Aku pernah bertemu Lu Siyuan beberapa kali ketika dia datang ke Yucheng untuk urusan bisnis. Oh," dia meletakkan handuknya, "Aku makan camilan larut malam bersamanya beberapa hari yang lalu ketika aku kembali ke Jiangzhou. Terima kasih." 

Dua kata terakhir ditujukan kepada pelayan yang telah berdiri setelah menuangkan teh.

Qiu Sicheng melirik pelayan itu, sebuah pikiran terlintas di benaknya—Xu Cheng di keluarga Jiang memang seperti itu, sangat sopan kepada sopir, petugas kebersihan, dan pelayan. Saat itu, Qiu Sicheng dikelilingi oleh rekan kerja dan bawahan yang memujinya. Ia kemudian menatap Xu Cheng, "Kamu sudah lama tidak pulang, ya?"

"Pekerjaanku tidak pernah sepi."

"Kerja teladan, tidak heran kamu dipromosikan begitu cepat," Qiu Sicheng tersenyum, memperbaiki kacamatanya, dan menambahkan, "Ngomong-ngomong, kudengar direkturmu sebelumnya, Shang Jie, akan dipindahkan ke Kementerian Keamanan Publik?"

Informasi internal? Xu Cheng tersenyum dan menepisnya, "Aku tidak terlalu yakin tentang itu."

Tepat saat itu, pintu kayu terbuka lagi, dan Lu Siyuan serta Du Yukang tiba. Du Yukang bekerja di Yucheng, dan keduanya kebetulan bertemu di pintu.

"Kota besar memang berbeda, lalu lintasnya mengerikan." Lu Siyuan memeluk Xu Cheng dan Qiu Sicheng bergantian begitu masuk. Xu Cheng dengan cepat menstabilkan cangkir teh di atas meja.

Lu Siyuan, dengan wajah memerah, berkata sambil melepas jaketnya, "Bukankah kita berempat sudah sering bertemu sejak lulus?"

"Aku sudah sering bertemu kalian. Tapi ini pertama kalinya aku bertemu Xu Cheng dan Du Yukang sejak lulus," kata Qiu Sicheng sambil tersenyum pada Xu Cheng.

Lu Siyuan, "Kalian berdua memang orang-orang hebat."

"Kalian bertiga memang orang-orang hebat," kata Du Yukang, yang bekerja sebagai penjual mobil di Yucheng, mengakui pekerjaannya tidak sebaik pekerjaan ketiga teman sekamarnya.

"Apa yang kamu bicarakan? Di tempat kecil seperti Jiangzhou, gajiku tidak sebanding dengan gaji kalian," kata Lu Siyuan, "Aku benar-benar iri pada Direktur Zhang karena dipindahkan ke Yucheng. Oh, aku baru saja mengunjunginya bersama direkturku, jadi aku terlambat."

Zhang Shining adalah atasan Fang Xinping dan Li Zhiqu, dan dia mengatasi banyak rintangan untuk memberantas kejahatan terorganisir. Ketika kasus kejahatan terorganisir Jiangzhou terpecahkan, semua perlindungan runtuh, dan walikota serta banyak pejabat lainnya kehilangan kedudukan. Zhang Shining dan Sekretaris Zheng Xiaosong, yang sepenuhnya mendukung upaya anti-kejahatan terorganisirnya, keduanya memberikan kontribusi besar dan dipindahkan ke Yucheng dalam waktu kurang dari setahun, menikmati karier yang lancar. Zhang Shining sekarang menjabat sebagai wakil direktur Kejaksaan Kota Yucheng. Ia dan Xu Cheng sangat akrab, baik secara profesional maupun pribadi. Satu-satunya kekhawatirannya adalah hilangnya Li Zhiqu.

Lu Siyuan menatap Xu Cheng, "Direktur Zhang—tidak, Jaksa Zhang—mengatakan bahwa ia akan datang untuk makan malam. Ia juga meminta aku untuk menyampaikan pesan bahwa Anda sudah lama tidak mengunjunginya."

Xu Cheng tersenyum, "Baiklah. Aku akan mengingatnya."

Qiu Sicheng menyesap tehnya, tetap diam. Dia adalah tokoh berpengaruh di dunia bisnis Yucheng, telah mengumpulkan pengaruh yang cukup besar melalui koneksi di kalangan pejabat. Tidak seperti lingkaran dalam mereka, di mana beberapa kata saja sudah cukup. Begitulah para pebisnis; tidak peduli seberapa tinggi kamu mendaki, kamu tetap harus tunduk pada kekuasaan.

Lu Siyuan menghela napas, "Beberapa tahun terakhir ini, aku menyadari bahwa teman-teman dari masa sekolah aku benar-benar berbeda dari teman-teman yang aku kenal setelah memasuki dunia kerja. Perasaannya begitu kuat; rasanya seperti kita belum lama berpisah ketika bertemu lagi. Kita harus lebih sering berkumpul."

Pelayan membawakan hidangan dan menuangkan sake.

Qiu Sicheng mengangkat gelasnya, "Mari kita lebih sering berkumpul."

Para teman sekamar itu berkumpul kembali, tentu saja mengenang masa sekolah mereka, berbagi berbagai kenangan.

Sayangnya, pekerjaan mereka tidak berhubungan, dan status sosial serta keadaan mereka sangat berbeda. Setelah beberapa sapaan singkat, percakapan terhenti. Mereka hanya bisa mengenang masa lalu.

Qiu Sicheng tampak kurang tertarik pada masa lalu, sementara Xu Cheng dan Du Yukang sesekali ikut berbicara, dan Lu Siyuan terus berbicara tanpa henti.

Hanya dia, karena terlalu banyak minum, mulai mengulang-ulang tentang teman dan perasaan yang sebenarnya, lalu tiba-tiba bergumam, "Dan kalian berdua, kalian tampak sangat berbeda, tetapi anehnya, kalian berdua bertanya di mana Jiang Xi berada, bagaimana aku bisa tahu di mana dia berada?"

Keheningan yang sunyi dan mencekam menyelimuti ruangan pribadi itu. Du Yukang melirik Xu Cheng.

Xu Cheng dan Qiu Sicheng secara bersamaan saling bertatap muka. Cahaya putih dari kacamata Qiu Sicheng sebagian menutupi pandangannya, dan tidak jelas apa yang ada di mata Xu Cheng juga.

Xu Cheng tertawa terlebih dahulu, berkata dengan ringan, "Begitu pula, mereka tidak dapat ditemukan di mana pun, baik hidup maupun mati. Agak sulit dipahami."

Lu Siyuan bergumam, "Keluarga Jiang dulu punya terlalu banyak musuh. Barisan orang yang ingin mereka semua mati membentang dari Stasiun Barat hingga Stasiun Timur. Selain itu, aku tidak tahu siapa yang menyebarkan rumor bahwa semua uang keluarga Jiang berakhir di tangannya. Bukankah akan ada lebih banyak musuh yang ingin menagih hutang mereka? Mereka mungkin sudah lama mati."

Xu Cheng tidak menjawab, tatapannya menyapu Qiu Sicheng.

Qiu Sicheng memperbaiki kacamatanya, "Dia membantuku. Jika dia berbuat buruk, aku ingin membalas budi. Lagipula, mereka yang berbuat jahat di keluarganya sudah menerima balasannya."

Lu Siyuan berkata, "Memang, urusan keluarga Jiang tidak ada hubungannya dengan dia... Oh, ikan kakap ini benar-benar segar..."

***

Saat berpisah, Lu Siyuan menarik semua orang ke samping dan mengucapkan banyak kata-kata yang menyentuh hati, bahkan meneteskan air mata.

Dia adalah orang yang sangat sentimental.

Namun dalam perjalanan pulang, Xu Cheng hanya merasa kesepian.

Du Yukang, yang berada di mobil yang sama, bertanya dengan cemas, "Apakah kamu mencari Jiang Xi lagi?"

"Apa maksudmu 'lagi'? Aku baru saja kembali ke Jiangzhou dan bertanya dengan santai."

Du Yukang tidak banyak bicara dan keluar dari mobil.

Tepat saat ia pergi, telepon Xu Cheng berdering. Itu Zhang Shining.

Xu Cheng mengira itu tentang apa yang Lu Siyuan sebutkan dan berkata dengan santai, "Aku pasti akan mengunjungimu suatu saat nanti ketika aku senggang."

Zhang Shining langsung bertanya, "Apakah kamu mencari Jiang Xi lagi?"

Xu Cheng terdiam. Ada apa dengan semua orang hari ini?

"Lu Siyuan melaporkan ini padamu?"

"Apa yang kamu inginkan darinya?"

Xu Cheng tidak menjawab.

Zhang Shining menghela napas, "Xu Cheng, kamu punya masa depan cerah di depanmu, jangan bodoh. Pak Tua Fan bilang padaku beberapa hari yang lalu bahwa kamu akan mengambil alih posisinya cepat atau lambat, bahkan melampauinya. Kamu sekarang hanya berada di urutan kedua setelahnya, dan kekuatanmu hanya akan bertambah. Tapi dia... kamu tidak bisa menyentuhnya. Apa kamu pikir kamu tidak punya apa-apa untuk dibanggakan? Bukankah Lao Fan yang memperkenalkanmu pada putri keluarga Jiang..."

Xu Cheng terkekeh, "Kamu bahkan menanyakan itu?"

"Mari kita langsung ke intinya! Apa yang kamu inginkan darinya? Bertahun-tahun telah berlalu, dan kita bahkan tidak tahu dia sudah meninggal."

"Tidak ada apa-apa," Xu Cheng melihat ke jalan di depannya, "Aku hanya ingin tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati. Sama seperti aku ingin menemukan Li Zhiqu."

***

Selama beberapa hari setelah kembali dari Jiangzhou, suasana hati Xu Cheng tetap buruk. Tidak sepenuhnya buruk, tetapi dia sepertinya tidak bisa mengumpulkan antusiasme apa pun.

Pekerjaan berlanjut seperti biasa; Ia tidak membiarkan emosinya memengaruhi kinerjanya. Di mata bawahannya, ia tetap tenang dan cakap seperti biasa, tidak berbeda dari sebelumnya.

Ia selalu berpengalaman dalam menangani berbagai urusan dan memiliki indra penciuman yang tajam. Yang langka adalah integritasnya; ia tidak mudah disuap. Ia telah menempuh jalan ini, mengalami intimidasi dan paksaan. Namun, sifatnya yang bebas dan tidak konvensional tidak pernah menghalanginya. Beberapa pihak telah berusaha keras untuk mengungkap latar belakang dan kelemahannya, mencoba menjatuhkannya dan merusak reputasinya, tetapi mereka belum menemukan celah sedikit pun.

Ia tidak mencari pujian, menangani setiap kasus yang dianggapnya serius. Setelah menjabat sebagai kapten investigasi kriminal, ia bertanggung jawab kepada atasannya dan kepada bawahannya.

Mereka yang bekerja dengannya menyukainya, dan bawahannya bersedia untuk berusaha keras. Lagipula, dia tidak sombong, terbiasa dengan gaya hidup santai, dan ketika sedang dalam suasana hati yang baik, dia bahkan periang dan mudah bergaul, bergaul dengan semua orang dan mengobrol dengan hampir siapa saja. Tetapi ketika bertemu dengan orang-orang yang tidak masuk akal atau sok, dia terlalu malas untuk menyanjung atau menjilat, dan dia tidak takut menyinggung siapa pun.

Yucheng adalah kota besar dengan populasi yang besar dan banyak kasus serius. Untungnya, di bawah kepemimpinannya, timnya bersih dan tangguh; hanya sedikit kasus yang tertunda.

Kasus lama yang melibatkan perampokan bersenjata dan pembunuhan, yang belum terpecahkan selama lebih dari satu dekade, berhasil dipecahkan di bawah pengawasannya, dan surat perintah penangkapan telah dikeluarkan.

Dengan ini, biro kota tidak lagi memiliki kasus yang tertunda.

Namun, sebuah kasus di biro distrik di bawah yurisdiksinya masih terngiang di benaknya: seorang wanita hilang di Distrik Tianhu enam bulan lalu. Polisi distrik telah menyelidiki beberapa kali, tetapi tidak menemukan satu pun petunjuk.

Kasus orang hilang baru-baru ini yang diumumkan oleh provinsi atau kota terdekat terjadi di Jiangzhou. Xu Cheng, mengandalkan intuisi profesionalnya, menyelidiki kasus tersebut saat dalam perjalanan bisnis ke Jiangzhou, mendampingi operasi anti-prostitusi dan anti-publikasi ilegal. Namun, tidak ada yang tampak mencurigakan.

Bulan November tiba, dan tim sangat sibuk. Beberapa kasus serius dari paruh pertama tahun ini telah diselidiki. Kejaksaan kota menghubungi mereka untuk pertemuan guna membahas persidangan dan pengungkapan kasus selanjutnya, sehingga Xu Cheng memimpin tim ke kejaksaan kota.

*** 

Awal November, musim dingin telah tiba di Yucheng.

Sore harinya, Xu Cheng dan bawahannya, Yu Jiaxiang, meninggalkan kejaksaan kota. Yu Jiaxiang adalah teman kuliah Xu Cheng, dan mereka bergabung dengan kepolisian kota bersama setelah lulus.

Pukul lima sore, hari sudah gelap. Suhu mendekati nol derajat, sangat dingin.

Keduanya tidak mengemudi, melainkan naik kereta bawah tanah untuk pulang. Kejaksaan Kota berada di antara dua stasiun; Xu Cheng biasanya naik kereta bawah tanah dari stasiun sebelumnya, tetapi Yu Jiaxiang lebih suka berjalan kaki ke stasiun berikutnya untuk menghindari transit.

Kebetulan Xu Cheng ada urusan yang ingin dibicarakan dengannya, jadi mereka berjalan bersama ke stasiun kereta bawah tanah yang lebih rendah.

Pria itu berjalan cepat, mendiskusikan kasus tersebut, dan tiba dalam sekejap.

Saat Xu Cheng sampai di gerbang tiket, Yu Jiaxiang merogoh sakunya, teringat sesuatu, dan berkata, "Tunggu sebentar, aku perlu memasang pelindung layar di ponselku di sana. Layarnya pecah saat aku bertugas terakhir kali, dan biayanya delapan ratus."

Xu Cheng berkata, "Aku tidak melihat ada pelindung layar di jalan ke sini."

Insting profesionalnya selalu tajam, dan dia selalu memperhatikan sekitarnya.

Yu Jiaxiang menunjuk, "Turun tangga, belok kanan, ada di terowongan bawah tanah."

Xu Cheng mengikutinya. Yu Jiaxiang berkata, "Kenapa kamu tidak sekalian memasang pelindung layar juga?"

Xu Cheng berkata, "Aku tidak suka. Terasa tidak nyaman."

Selalu ada pedagang di terowongan bawah tanah Yucheng, yang berlarian seperti gerilyawan setiap kali petugas manajemen kota datang.

Sekarang, di musim dingin, lembap dan dingin, tidak banyak kios di terowongan bawah tanah. Hanya orang-orang paruh baya dan lanjut usia yang benar-benar miskin yang berkerumun di dinding, menjual barang-barang musim dingin seperti penghangat tangan isi ulang dan kamu s kaki.

Xu Cheng melewati seorang pria tua berambut abu-abu, merasa kasihan padanya, dan membeli setumpuk kaus kaki dan beberapa sarung tangan pemanas untuk dibawa ke kantor dan dibagikan kepada rekan-rekannya.

Pria tua itu sangat gembira karena telah melakukan penjualan yang begitu besar dan dengan hangat membungkus barang-barang itu ke dalam tas untuknya.

Yu Jiaxiang sudah pergi ke kios pemasangan pelindung layar di depan.

Xu Cheng berjalan ke arahnya. Seorang wanita muda duduk di bangku kecil, dengan sebuah meja sederhana di depannya yang menopang papan kayu. Di atas papan, tersusun rapi dalam kotak-kotak kecil yang cantik dan berwarna-warni, terdapat lapisan pelindung layar untuk ponsel, pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat.

Sebuah papan karton putih bersih di atas meja menampilkan model dan harga berbagai pelindung layar, termasuk pelindung layar biasa, kaca tempered, dan pelindung layar privasi, yang ditulis dengan tulisan tangan yang elegan dan rapi. Stiker kartun lucu juga ditempelkan.

Sebuah tas kain kecil bermotif bunga tergantung di depan meja, dengan kode QR di bagian luar dan berbagai pecahan uang receh di dalamnya agar pelanggan dapat memesan sendiri.

Yu Jiaxiang bertanya, "Tiga puluh lima untuk pelindung layar anti spy?"

Wanita muda yang sedang memasang pelindung layar pada gadis yang datang lebih dulu mengangguk.

"Tiga puluh lima untuk yang kaca tempered juga?"

Wanita muda itu mengangguk lagi.

Yu Jiaxiang, "Dan berapa harga yang kaca tempered anti spy?"

Wanita muda yang sedang memasang pelindung layar itu terbatuk, sedikit membungkuk, dan menunjuk ke papan karton: Empat puluh. 

Yu Jiaxiang merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan hendak mengatakan sesuatu ketika pelanggan wanita di depannya mengeluh, "Dia tidak bisa berbicara dengan baik. Bisakah kamu tidak mempersulitnya? Harga dan modelnya sudah tertulis jelas di sini, tidakkah kamu melihatnya?"

Yu Jiaxiang terkejut dan segera meminta maaf.

Gadis itu tidak menjawab, terus dengan tekun memasang pelindung layar.

Xu Cheng berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya, melirik gadis itu. Rambutnya tebal dan diikat ekor kuda rendah. Karena kesibukan seharian, ekor kudanya longgar, sebagian besar rambutnya jatuh di kedua sisi wajahnya, menutupi wajahnya; dari sudut pandangnya, dia hanya bisa melihat ujung hidungnya yang kecil dan putih.

Tekniknya sangat bagus, sangat teliti. Pelindung layar terpasang tanpa gelembung sedikit pun. Dia berulang kali menggunakan spatula kecil untuk menghaluskan permukaannya dengan hati-hati sebelum menyerahkannya kepada gadis itu.

Gadis itu sangat puas, dengan senang hati memasukkan tiga puluh lima yuan ke dalam saku kain kecilnya dan berbalik untuk pergi.

Kantong kain kecil itu bersih dan rapi, dengan gambar kelinci merah muda lucu bertelinga besar tercetak di atasnya. Tatapan Xu Cheng terhenti sejenak. Ia tahu kelinci itu bernama My Melody.

Dan di termos putih di sebelahnya, tercetak juga gambar My Melody yang tersenyum.

Saat itulah ia menyadari perasaan aneh yang dirasakannya sejak tadi—kios gadis itu luar biasa bersih dan indah, tidak seperti kios-kios milik pedagang kaki lima pada umumnya yang berantakan atau bahkan lusuh; sebaliknya, kios itu memancarkan kesan menghargai kehidupan, mengungkapkan hati yang lembut dari pemiliknya.

Yu Jiaxiang menyerahkan ponselnya kepada gadis itu, sambil berkata, "Pelindung layar anti spy."

Gadis itu melirik ponselnya, lalu menunduk dan menemukan pelindung layar yang sesuai. Ia mengambil kain kecil dan membersihkan layar beberapa kali hingga bersih tanpa noda.

Xu Cheng kemudian melihat tangannya, merah karena kedinginan, dengan pembengkakan yang mengerikan di salah satu jarinya. Ia mengenakan jaket tebal berwarna hitam, tetapi ia tetap terlihat kurus.

Ia terkejut melihat ada tongkat lipat ringan yang terselip di dalam tas di belakangnya, hanya sebagian kecilnya saja, meskipun ia tidak yakin.

Ia meliriknya beberapa kali lagi, tetapi gadis itu tidak menoleh.

Ia melepas pelindung layar, lalu memalingkan kepalanya dan batuk beberapa kali.

Yu Jiaxiang berkata, "Apakah kamu sakit? Jika kamu sakit, tinggallah di rumah dan istirahatlah sehari."

Gadis itu tidak berbicara.

Yu Jiaxiang berjalan ke sisi lain, melihat barang-barang di lantai, dan berkata, "Wow, apakah kamu yang membuat semua casing ponsel ini?"

Gadis yang sedang memasang pelindung layar itu mengangguk sedikit.

Yu Jiaxiang melambaikan tangan kepada Xu Cheng, "Hei, menurutmu mana yang paling cocok untuk istriku?"

Xu Cheng melangkah dua langkah ke depan dan melihat sebuah kios yang didirikan di sisi kiri meja kecil dengan kain bermotif bunga kecil. Kios itu penuh dengan casing ponsel pasir hisap, tersusun rapi berdasarkan warna dan gaya, seperti segmen spektrum alam. Pasir hisap itu berwarna-warni, beberapa cerah, beberapa lembut; kombinasi artistik dan kreativitas yang cerdik sungguh menakjubkan.

Sebagian besar adalah hasil rancangan sendiri, dengan beberapa imitasi karya seni klasik: 'Anak Laki-Laki dengan Keranjang Buah' karya Caravaggio, 'La Traviata' karya Mucha, 'Suasana Minggu Sore di Pulau La Grande Jatte' karya Seurat, 'Pemandangan di Delft' karya Vermeer...

Ekspresi Xu Cheng berubah hanya setelah sekali pandang.

Ia hampir langsung menatap kaki kiri gadis itu. Di bawah jaket bulu panjangnya, kaki kirinya telanjang, ujung celananya terbuka lebar. Hembusan angin dingin tiba-tiba menerpa lorong bawah tanah, menyebabkan ujung celananya berkibar seperti bendera.

Ia menutup mulut dan hidungnya, batuk lagi, gumpalan rambut besar meluncur ke bahunya.

Xu Cheng membeku, pikirannya kacau, jantungnya berdebar kencang di dadanya.

Ia perlahan berjongkok, dan ketika melihat bulu mata gadis itu yang terkulai dan pangkal hidungnya, ia mendapat firasat. Tepat saat itu, ia merasakan bayangan jatuh menimpanya, tangannya masih menutupi mulut dan hidungnya, tetapi ia perlahan mengangkat matanya.

Seolah-olah sayap jangkrik mendarat di matanya.

Batuknya berhenti seketika. Di atas tangannya yang terkepal terdapat sepasang mata berbentuk almond, dengan tanda lahir di bawah matanya.

Di koridor bawah tanah yang remang-remang, di tengah hiruk pikuk dan keramaian orang, Xu Cheng tiba-tiba merasakan keheningan yang abadi.

Beberapa detik kontak mata itu terasa seperti keabadian.

Sudah berapa tahun berlalu?

Sudah berapa tahun sejak terakhir kali ia menatap mata itu?

Tidak, ia seharusnya tidak mengingat wajahnya. Ia sudah bertahun-tahun tidak melihat fotonya; semuanya tersimpan rapat di dalam laci. Ia sengaja menghindari memikirkan tentangnya, jadi sekarang, ketika ia sesekali mengingatnya, penampilannya seperti gelembung di bawah sinar matahari, fitur-fiturnya terfragmentasi dan tidak lengkap.

Jiang Xi menundukkan matanya terlebih dahulu, melepaskan tangannya dari wajahnya, mengambil kain lap, lalu spatula kecil. Ia menahan spatula itu selama beberapa detik sebelum dengan hati-hati dan teliti mengikis pelindung layar kaca tempered.

Xu Cheng berjongkok tanpa bergerak di depan kiosnya, tatapannya tertuju padanya.

Bulu matanya terkulai rendah, tidak pernah terangkat lagi, saat ia menahan batuk dan dengan panik mengikis tepi pelindung layar kaca tempered. Napasnya menghilang seperti kabut putih.

Akhirnya ia selesai memasang pelindung, mendorong ponsel ke samping, masih menundukkan kepala. Ia tampak seperti kucing hitam kecil.

Yu Jiaxiang mengangkat telepon, memuji pekerjaannya yang luar biasa. Ia memilih beberapa casing ponsel lagi, membulatkannya menjadi bilangan bulat, dan menyelipkan uang seratus yuan ke dalam saku kain kecilnya. Ia berkata kepada Xu Cheng, "Ayo pergi."

Xu Cheng tersadar dari lamunannya, berdiri, dan menatapnya, seolah-olah ia tidak mendengar apa pun. Ia hanya berpikir bahwa Jiang Xi menyerupai kucing liar.

Tapi... benarkah itu dia?

Tiba-tiba ia ragu. Bagaimana kenangan-kenangan indah dari bertahun-tahun lalu bisa menjadi begitu kabur seiring berjalannya waktu?

Ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan Yu Jiaxiang, mungkin pikirannya sendiri juga diselimuti kabut ketidakpastian, jadi ia hanya bisa mengikutinya menuju stasiun kereta bawah tanah.

Saat Yu Jiaxiang berbelok di tikungan, ia masih mengaguminya, "Keahlian gadis ini luar biasa, dan seleranya sempurna. Mengapa dia berjualan di kios pinggir jalan? Apakah casing ponsel itu dibeli secara grosir dan hanya berpura-pura buatan sendiri?"

Xu Cheng berhenti dan berkata, "Kamu pulang dulu. Aku baru ingat aku perlu mengurus sesuatu di dekat sini. Ini untuk semua orang; bawalah besok."

Yu Jiaxiang mengambil tas itu, "Baiklah, sampai jumpa besok."

Xu Cheng berbalik dan pergi.

Ia melangkah ke tangga, menghilang dari pandangan Yu Jiaxiang, dan segera bergegas masuk ke koridor bawah tanah. Begitu sampai di atas, hatinya langsung ciut.

Casing ponsel, pelindung layar, dan kantong kain kecil semuanya sudah terbungkus rapi. Ia melarikan diri begitu terburu-buru sehingga bahkan meninggalkan bangku kecil dan meja di belakang.

Ikat rambut hitam itu tergeletak di tanah, tak terlihat.

Itu dia!

Ia mengambil ikat rambut itu dan berlari panik ke ujung koridor, seketika diliputi kepanikan—ujung koridor itu mengarah ke dua arah berlawanan di sisi jalan utama.

Ia tak bisa melihatnya di mana pun, panik karena khawatir, tetapi tak ingin membuang waktu, ia mengertakkan giginya dan memilih jalan yang benar. Ia bergegas menaiki tangga dan berlari ke lantai dasar.

Hari sudah gelap, lampu neon menyala terang, dan mobil-mobil berlalu lalang.

Orang-orang datang dan pergi, tetapi ia tak terlihat di mana pun.

Ia mencari di antara kerumunan seperti orang yang tenggelam berpegangan pada jerami. Dalam keputusasaannya, tiba-tiba ia melihatnya di seberang jalan, membawa tas perjalanan, bersandar pada tongkat baja ringan, berjuang untuk bergerak cepat menembus kerumunan, melarikan diri.

Angin musim dingin menerpa rambut hitamnya.

Xu Cheng bergegas ke pinggir jalan, terhalang oleh lalu lintas yang ramai. Matanya berharap bisa berubah menjadi tangan yang terulur untuk meraihnya. Tiba-tiba ia berteriak di tengah lampu neon malam:

"Jiang Xi!!!"

Ia hampir meraung, urat-urat di lehernya menonjol, "Jiang Xi!!"

Para pejalan kaki terkejut, mengira ia sudah gila.

Bayangan di seberang jalan itu bergetar diterpa angin utara. Ia tahu gadis itu telah mendengarnya, tetapi ia tidak berbalik, bahkan tidak berhenti. Ia menerjang ke pinggir jalan, mengulurkan tangan untuk menghentikan mobil.

Xu Cheng, hampir putus asa, bergegas ke trotoar tanpa berpikir.

Suara decitan rem dan umpatan, menusuk dan tajam, seolah merobek malam musim dingin yang dingin. Ia tersandung dan melompat, terhuyung-huyung menyeberangi jalan.

Tetapi gadis itu masih tidak berbalik, tidak menyadari keributan di belakangnya.

Ia melihat sebuah mobil berhenti di sampingnya.

"Jiang Xi!!"

Ia berteriak putus asa, berlari ke arahnya dengan sekuat tenaga, tetapi sudah terlambat. Mobil itu melaju kencang, dengan cepat menghilang ke dalam malam musim dingin selatan yang dingin.


***


Bab Sebelumnya 21-30                DAFTAR ISI               Bab Selanjutnya 31-40


Komentar